Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 14:38 WIB

Satriawan

Pilih Saham Bluechips yang Turun Tajam

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 6 September 2013 | 03:00 WIB
Pilih Saham Bluechips yang Turun Tajam
(Foto : inilah.com/Wirasatria)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Saham-saham komoditas sudah menunjukan kebangkitan harga. Tapi, analis lebih merekomendasikan saham-saham bluechips yang turun tajam tapi berfundamental bagus. Mengapa?

Satriwan, analis PT Mandiri Securities menilai kenaikan harga saham-saham komoditas terutama sektor metal, batu bara dan CPO hanya kontrarian sehingga bersifat sementara. Karena itu, kata dia, untuk memanfaatkan rebound IHSG dalam jangka pendek, dia justru lebih suka saham-saham berkapitalisasi besar atau bluechip.

Sebab, menurut Satriawan, saat market balik arah menguat (up reversal) , yang diincar adalah saham-saham bagus tapi sudah murah. "Jadi, lebih pada saham-saham big caps yang sudah murah. Harga sahamnya sudah turun dalam tapi fundamental perusahaannya bagus," katanya kepada INILAH.COM. Saham apa saja? Berikut ini wawancara lengkapnya:

Belakangan, saham-saham sektor pertambangan menunjukkan kebangkitan. Apa pandangan Anda?

Setelah IHSG anjlok, memang terjadi pembelian selektif pada saham-saham komoditas terutama sektor metal, kemudian batu bara dan saham-saham Crude Palm Oil (CPO). Tapi, menurut saya itu hanya kontrarian. Pembelian itu hanya bersifat sementara.

Jadi, saat mayoritas sektor saham turun, yang balik arah menguat adalah saham-saham sektor berbasis komoditas (commodity based). Dalam konteks ini, saham-saham yang agak menarik adalah sektor metal seperti PT Vale Indonesia (INCO.JK), PT Timah (TINS.JK), dan PT Aneka Tambang (ANTM.JK).

Bagaimana dengan saham-saham batu bara dan Crude Palm Oil (CPO)?

Kalau saham-saham batu bara dan CPO, kenaikan hanya sementara. Untuk penguatan di saham-saham sektor metal lebih meyakinkan. Saham-saham CPO yang sudah mengalami penurunan tajam terjadi di PT Astra Agro Lestari (AALI.JK) atau PT Salim Ivomas Pratama (SIMP.JK), tapi, hampir semua saham CPO mengalami penurunan tajam.

Jadi, kalau melihat sekarang rebound, itu hanya sebentara dan tren pergerakannya dalam jangka menengah masih bearish. Semua saham CPO, trennya bearish. Kalaupun rebound jangka pendek, belum mengonfirmasi bahwa saham-saham tersebut akan up trend secara jangka menengah.

Lantas, apa saran Anda untuk saham-saham di sektor komoditas?

Untuk memanfaatkan rebound IHSG dalam jangka pendek, saya justru lebih suka saham-saham berkapitalisasi besar atau bluechip. Sebab, saat market balik arah menguat (up reversal) , yang diincar adalah saham-saham bagus tapi sudah murah seperti PT Semen Indonesia (SMGR.JK), PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM.JK), PT Unilever Indonesia (UNVR.JK), dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI.JK). Jadi, lebih pada saham-saham big caps yang sudah murah. Harga sahamnya sudah turun dalam tapi fundamental perusahaannya bagus.

Untuk saham-saham perkebunan?

Untuk sektor perkebunan, saya masih kurang suka. Sebab, momentumnya untuk saham-saham perkebunan dan batu bara lebih kepada: ketika market-nya turun, saham-saham di sektor ini hanya jadi kontrarian. Karena itu, kalaupun naik hanya sementara. Karena itu, saya kurang suka dari sisi company-nya.

Jadi, untuk sementara ini, kalau mau bermain di saham-saham perkebunan mungkin ikuti momentumnya saja. Jika nanti IHSG kembali turun, ada potensi saham-saham Crude Palm Oil (CPO) ini bergerak kontrarian. Sektor ini menguat sendiri melawan arah pasar.

Kalau begitu, saham pilihan Anda di sektor perkebunan?

Dalam konteks ini, yang bisa diperhatikan adalah saham-saham big caps di sektor perkebunan seperti PT Astra Agro Lestari (AALI) dan PT London Sumatera Plantation (LSIP.JK). Itupun hanya memanfaatkan momentum kontrarian, bukan untuk dipegang dalam waktu lama. Betanya, biasanya berbalik arah dengan IHSG. Maksud saya, jika IHSG naik, ada kemungkinan saham tersebut bertahan atau turun. Sebaliknya, saat IHSG turun, dia malah naik dengan momentum yang pendek.

Apa rekomendasi Anda untuk AALI dan LSIP?

Secara teknikal, untuk memanfaatkan momentum jangka pendek, jika IHSG turun, buy on weakness untuk AALI. Begitu juga untuk PT London Sumatera Plantation (LSIP). Belakangan, pola pergerakan saham-saham sektor perkebunan menjadi kontrarian.

Bagaimana dengan arah IHSG sendiri?

Saat ini, IHSG sendiri mungkin akan konsolidasi terlebih dahulu. Jika IHSG turun, akan kembali lagi ke 4.000-an. Resistance indeks sendiri, 4.310 untuk sementara. Tapi, pasarnya masih volatile. Jika skenarionya, IHSG turun dan saham perkebunan menguat, pasar bisa beli AALI dan LSIP saat IHSG turun ke 4.000. Manfaatkan momentumnya saja. Tapi, idealnya, saya lebih menyarankan saham-saham bluechip yang turunnya tajam tapi fundamentalnya bagus. [jin]

Komentar

Embed Widget
x