Find and Follow Us

Jumat, 18 Oktober 2019 | 02:23 WIB

Pasar Dag-dig-dug Jelang Tapering The Fed

Oleh : Ahmad Munjin | Kamis, 5 September 2013 | 20:04 WIB
Pasar Dag-dig-dug Jelang Tapering The Fed
The Fed - (Foto : istimewa)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG dan rupiah masih kompak melemah. Pasar dag-dig-dung setelah Beige Book The Fed menunjukkan perkembangan ekonomi AS yang positif. Isu tapering The Fed pun semakin kuat.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah Kamis ini, salah satunya dipicu oleh laporan Beige Book tentang ekonomi AS yang cukup positif. Hal itu, kata dia, menunjukkan bahwa The Federal Reserve lebih optimistis dengan kondisi ekonomi di AS.

Kondisi ini, lanjutnya, memberikan bukti tambahan bahwa The Fed akan mulai mengurangi pemberian stimulusnya (tapering) pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dua pekan mendatang. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 11.701 dengan level terkuat 11.225 dari posisi pembukaan 11.428 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (5/9/2013).

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah terhadap dolar AS Kamis (5/9/2013) ditutup melemah 232 poin (2,03%) ke posisi 11.643/11.655 dari posisi kemarin 11.411/11.431.

Dia menegaskan, rupiah lebih terdampak negatif oleh Beige Book. Rupiah juga dapat tekanan dari momentum jelang laporan non-farm payrolls AS besok dan kewaspadaan jelang pertemuan Bank of England (BoE) dan European Central Bank (ECB) nanti malam.

"Jadi, pelemahan rupiah masih dipicu oleh pasar yang dibayangi kecemasan pengurangan stimulus The Fed menjelang data non-farm payrolls dan tingkat pengangguran AS besok,," tandas dia.

Selain itu, lanjut Firman, kecemasan investor juga merebak jelang pertemuan ECB dan BoE nanti malam. Kedua bank sentral tersebut sudah diprediksi mempertahankan suku bunga rendahnya di level 0,5%.

Meskipun, pasar masih menanti hasil konferensi pers Presiden ECB Mario Draghi dan juga kemungkinan rilis dari BoE. "Baik pernyatan dari ECB maupun BoE, akan tetap berusaha meyakinkan pasar bahwa kedua bank sentral tersebut akan tetap menjalankan kebijakan moneter longgarnya, di tengah merebaknya kekhawatiran bahwa kedua bank sentral itu tidak akan mengangkat suku bunganya dalam waktu dekat," tuturnya.

Kebijakan tersebut, kata Firman, sebenarnya masih longgar. "Masalahnya, jika ECB dan BoE tidak mengubah kebijakan suku bunganya, pasar tetap mengantisipasi mulai berkurangnya pemberian stimulus dari The Fed. Sebab, bertahannya suku bunga, menegaskan kontrasnya kebijakan monter antara AS dengan Eropa," ucapnya.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 82,353 dari sebelumnya 82,169. "Terhadap euro, dolar AS berjalan ditransaksikan menguat ke US$1,3177 dari sebelumnya US$1,3207 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, David Nathanael Sutyanto, analis riset First Asia Capital mengatakan, saat ini indeks saham domestic sangat berisiko sebelum The Fed memberikan kejelasan soal pengurangan stimulusnya (tapering). "Kemungkinan untuk turun lebih jauh masih ada dan bottom IHSG masih belum terlihat," kata dia.

Pada perdagangan Kamis (5/9/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup melemah 22,59 poin (0,55%) ke posisi 4.050,864. Intraday terendah 4.015,436 dan tertinggi 4.123,728.

Sebab, kata David, yang namanya sentimen, seperti 2008, terjadi sangat cepat dan membuat pasar anjlok. "Meski ekonomi kuat pun, sentimen pasar susah dikendalikan," ujarnya.

Dia mewanti-wanti, agar pelaku pasar tetap waspada. Pemodal harus mengakui data-data ekonomi domestik memang di bawah estimasi. Untuk IHSG anjlok tajam memang masih kecil, tapi tetap waspada. "Tetap berpegang pada fair value di 4.500 untuk IHSG sesuai dengan tingkat kurs yang melemah dan inflasi yang melambung," papar dia.

Lebih jauh dia menjelaskan, pasar harus mencermati seperti apa langkah The Fed soal tapering baik dihentikan, dikurangi, atau tidak. "Jika dihentikan dan jika uang panas ini keluar semua, investor akan lebih realistis," tuturnya.

Menurut dia, investor akan melihat pada kinerja emiten apakah masih bagus atau tidak. Di Amerika pun akan terjadi hal yang sama saat uang panas dari emerging market kembali ke AS. "Sebab, ekonomi AS membaik. Jika, langkah The Fed Jelas September ini, posisi dana asing juga akan jelas," ucapnya.

Dari sisi ekonomi domestik, kata dia, mau tidak mau pemerintah harus meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Caranya, melalui sktor swasta dan sektor pemerintah terutama ekspor-impor.

"Dari sisi ekspor kita kalah. Cara lain untuk mendongkrak pertumbuhan adalah dengan memperbesar porsi pengeluaran dari pemerintah," ujarnya.

Menurut David, pemerintah harus aktif membelanjakan anggaran yang saat ini penyerapannya sangat lambat. "Sektor konsumsi swasta memang agak sulit diatur dan ekspor-impor juga swasta defisit," tuturnya.

Karena itu, tidak ada pilihan lain, belanja pemerintah harus digenjot. Jika ini bisa dilakukan, capital outflow pasti akan kembali lagi menjadi capital inflow. Sebab, jika kondisi ekonomi Indonesia membaik, asing pasti punya porsi untuk Indonesia. "Saat ini, mereka tarik uang mereka, karena itung-itungannya enggak masuk," imbuh David. [jin]

Komentar

Embed Widget
x