Find and Follow Us

Kamis, 17 Oktober 2019 | 23:48 WIB

IHSG Sangat Berisiko, Tetap Waspada

Oleh : Ahmad Munjin | Kamis, 5 September 2013 | 17:02 WIB
IHSG Sangat Berisiko, Tetap Waspada
(Foto : inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Sebelum Bank Sentral AS memberikan kejelasan perihal pengurangan stimulusnya, posisi IHSG dinilai sangat berisiko. Karena itu, pemodal saham wajib waspada.

Pada perdagangan Kamis (5/9/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup melemah 22,59 poin (0,55%) ke posisi 4.050,864. Intraday terendah 4.015,436 dan tertinggi 4.123,728.

David Nathanael Sutyanto, analis riset First Asia Capital mengatakan, saat ini indeks saham domestic sangat berisiko sebelum The Fed memberikan kejelasan soal pengurangan stimulusnya (tapering). "Kemungkinan untuk turun lebih jauh masih ada dan bottom IHSG masih belum terlihat," katanya kepada INILAH.COM.

Sebab, kata David, yang namanya sentimen, seperti 2008, terjadi sangat cepat dan membuat pasar anjlok. "Meski ekonomi kuat pun, sentimen pasar susah dikendalikan," ujarnya.

Dia mewanti-wanti, agar pelaku pasar tetap waspada. Pemodal harus mengakui data-data ekonomi domestik memang di bawah estimasi. Untuk IHSG anjlok tajam memang masih kecil, tapi tetap waspada. "Tetap berpegang pada fair value di 4.500 untuk IHSG sesuai dengan tingkat kurs yang melemah dan inflasi yang melambung," papar dia.

Lebih jauh dia menjelaskan, pasar harus mencermati seperti apa langkah The Fed soal tapering baik dihentikan, dikurangi, atau tidak. "Jika dihentikan dan jika uang panas ini keluar semua, investor akan lebih realistis," tuturnya.

Menurut dia, investor akan melihat pada kinerja emiten apakah masih bagus atau tidak. Di Amerika pun akan terjadi hal yang sama saat uang panas dari emerging market kembali ke AS. "Sebab, ekonomi AS membaik. Jika, langkah The Fed Jelas September ini, posisi dana asing juga akan jelas," ucapnya.

Dari sisi ekonomi domestik, kata dia, mau tidak mau pemerintah harus meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Caranya, melalui sktor swasta dan sektor pemerintah terutama ekspor-impor.

"Dari sisi ekspor kita kalah. Cara lain untuk mendongkrak pertumbuhan adalah dengan memperbesar porsi pengeluaran dari pemerintah," ujarnya.

Menurut David, pemerintah harus aktif membelanjakan anggaran yang saat ini penyerapannya sangat lambat. "Sektor konsumsi swasta memang agak sulit diatur dan ekspor-impor juga swasta defisit," tuturnya.

Karena itu, tidak ada pilihan lain, belanja pemerintah harus digenjot. Jika ini bisa dilakukan, capital outflow pasti akan kembali lagi menjadi capital inflow. Sebab, jika kondisi ekonomi Indonesia membaik, asing pasti punya porsi untuk Indonesia. "Saat ini, mereka tarik uang mereka, karena itung-itungannya enggak masuk," imbuh David. [jin]

Komentar

Embed Widget
x