Find and Follow Us

Jumat, 18 Oktober 2019 | 02:17 WIB

Pasar Khawatir The Fed dan Geopolitik Suriah

Oleh : Ahmad Munjin | Rabu, 4 September 2013 | 20:22 WIB
Pasar Khawatir The Fed dan Geopolitik Suriah
(Foto : inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG dan rupiah kompak melemah. Pasar khawatirkan memanasnya geopolitik Surian dan menguatnya kecemasan atas penarikan stimulus The Fed. Seperti apa?

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah Rabu ini salah satunya masih dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap pengurangan stimulus The Fed. Kekhawatiran tersebut muncul setelah data AS semalam dirilis positif.

Indeks manufaktur AS dirilis naik dari 55,4 menjadi 55,7 untuk Agustus 2013. Begitu juga dengan belanja konstruksi AS yang naik dari 0% menjadi 0,6%. "Karena itu, rupiah ditutup pada level terlemahnya 10.100 dari posisi terkuatnya 11.080 dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu terhadap dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (4/9/2013).

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (4/9/2013) ditutup melemah 50 poin (0,45%) ke posisi 11.100/11.150 dari posisi kemarin 11.050/11.070.

Lebih jauh Firman menjelaskan, bagusnya data indeks manufaktur AS membuat pasar khawatir, The Fed akan mulai mengurangi pemberian stimulus pada 19 September 2013. "Kebijakan itu, kemungkinan akan diambil saat Federal Open Market Committee (FOMC) dilangsungkan pada 19 September itu," ujarnya.

Selain itu, lanjut Firman, pelemahan rupiah juga dipicu menguatnya risiko politik global seiring merebaknya kekhawatiran pasar terhadap potensi penyerangan militer AS kepada Suriah. "Memang Kongres AS belum menyatakan setuju, tapi para pimpinan Kongres AS sudah memberikan persetujuan," papar dia.

Sementara itu, Senat AS diprediksi akan melakukan voting pada 9 September 2013. "Meski invasi itu merupakan serangan terbatas, tapi tetap saja bisa memperburuk situasi politik di Timur Tengah," ucapnya.

Dari dalam negeri, rupiah juga masih terbebani oleh buruknya data inflasi, neraca perdagangan, dan indeks manufaktur Indonesia versi HSBC yang dirilis awal pekan ini. "Jadi, kita tidak punya sentimen positif di dalam negeri sehingga memburuknya sentimen eksternal membuat rupiah semakin tertekan," timpal dia.

Alhasil, dolar AS hanya melemah terbatas terhadap mayoritas mata uang utama dan menguat tipis terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah sangat tipis ke 82,37 dari sebelumnya 82,38. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat tipis ke US$1,3164 dari sebelumnya US$1,3165 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengaku, tadi pagi sangat semangat untuk mengayun posisi saham. "Tadi pagi, IHSG kok berasa mau turun di bawah support 4.100-4.120. Kemudian, saya lepas sekitar 75% dari portofolio," kata dia.

Pada perdagangan Rabu (4/9/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup melemah 90,56 poin (2,17%) ke posisi 4.073,455. Intraday terendah 4.069,697 dan tertinggi 4.144,625.

Satrio, mengaku senang harga saham yang dimainkannya, tidak turun. "Ya, turun sedikit, tapi hanya 1-2 poin, hanya cukup untuk menutup fee," ucapnya.

Padahal, Satrio tadi pagi secara khusus sudah membuat tulisan kompor untuk prediksi bearish. "Support satu saja enggak tembus. PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA.JK) malah naik. Bagus juga saya sempat buy back di Rp13.500 per saham," ujarnya.

Setelah itu, lanjut dia, masih ditambah dengan Hang Seng yang ditutup di atas support. "Kondisi itu, membuat semakin enggak semangat lepas barang deh," tuturnya.

Sore ini, Satrio mengaku terpaksa untuk kembali buyback saham. "IHSG besok naik? Enggak ada jaminan juga. IHSG ditutup di atas support 4.100? Belum tentu. Tapi, dengan HSI ditutup di atas support, di tengah semua sentimen bearish yang ada, saya mencoba untuk punya posisi contrarian: beli ketika suport IHSG ditembus," papar dia.

Bagaimana dengan berita-berita negatif? Satrio mengaku tidak terlalu khawatir pada subwave 2 ini. Menurut dia, paling kalau besok support 3.837 ditembus dia harus cut loss. "Tapi itu urusan besok, bukan hari ini," tuturnya.

Di atas semua itu, Satrio mengaku masih mau punya posisi meski hanya 50%-70% portofolio. "Sebanyak 15 persen, saya buyback besok saja, barang kali masih dapat harga yang lebih murah," imbuhnya. [jin]

Komentar

Embed Widget
x