Find and Follow Us

Sabtu, 21 September 2019 | 08:39 WIB

Pemerintah Tanggap, Kepanikan di BEI Mereda

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 1 September 2013 | 11:52 WIB
Pemerintah Tanggap, Kepanikan di BEI Mereda
(foto: inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Pelemahan rupiah dan isu pengurangan stimulus The Fed membuat pelaku pasar panik sehingga memperdalam penurunan IHSG. Namun kepanikan tersebut mereda. Seperti apa?

IHSG selama sepekan mengalami kenaikan 25,26 poin (0,61%) atau lebih tinggi dari pekan sebelumnya yang anjlok 398,83 poin (8,73%). Kenaikan ini juga terasa bagi indeks utama lainnya seperti JII yang memimpin kenaikan 3,39% diikuti indeks ISSI dan LQ45 yang masing-masing naik 1,81% dan 1,71%.

Di sisi lain, lanjut dia, laju indeks sektoral bergerak variatif di mana penguatan terjadi pada indeks perkebunan yang naik 12,30% diikuti indeks konsumer (4%) dan indeks manufaktur (2,52%). Sementara pelemahan terjadi pada indeks keuangan (2,29%), properti (1,74%), infrastruktur (0,38%), dan industri dasar melemah 0,19%.

Sepanjang pekan ini, investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp1,12 triliun lebih rendah dari pekan sebelumnya sebesar Rp5,72 triliun.

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, IHSG mencoba kembali masuk ke zona hijau setelah didera tekanan jual yang signifikan. "Selama beberapa pekan terakhir IHSG terus mengalami laju yang kurang baik," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan.

Berbagai sentiment, lanjut Reza, terus mempengaruhi laju pergerakan IHSG, baik dari sisi internal maupun eksternal. "IHSG pun kehilangan daya tariknya," ujarnya.

Turunnya nilai tukar rupiah pascarilis neraca pembayaran Indonesia menjadi salah satu penyebab kejatuhan IHSG selain dari imbas pengurangan stimulus The Fed. "Banyak pelaku pasar overreact dan panik sehingga makin memperdalam penurunan IHSG," papar dia.

Untungnya, kata Reza, pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI), tanggap. Pemrintah mengeluarkan serangkaian aturan dan kebijakan. "Meskipun banyak pula yang menilai kebijakan dan aturan tersebut hanya cocok untuk jangka menengah dan panjang," timpal Reza.

Tapi, bagi Reza, lebih baik bersikap tanggap dalam menghadapi gejolak pasar keuangan dengan tujuan pertumbuhan ekonomi yang sustainable daripada tidak bersikap sama sekali.

Lebih jauh dia menjelaskan, mengawali pekan ini, awan negatif masih menyelimuti IHSG. Aksi jual masih terjadi meskipun tidak terlalu besar. Tapi, tetap saja membuat IHSG harus mendekam di zona merah. "Belum adanya trigger positif membuat pelaku pasar masih enggan untuk banyak melakukan transaksi," ucapnya.

Apalagi, kata dia, melihat kondisi rupiah yang masih mengalami pelemahan dan begitupun dengan laju bursa saham Asia yang variatif cenderung melemah. Semua itu, membuat IHSG belum dapat beranjak dari zona negatif. "Sepertinya IHSG sedang mencari alasan untuk terus mendekam di zona merah di awal pekan," tandas dia.

Pelaku pasar pun seperti sudah muak dengan kondisi pasar yang setiap saat memerah sehingga banyak juga yang menjauh untuk sementara ini. "Laju rupiah yang setia dengan pelemahannya dan kondisi pasar saham global yang cenderung melemah karena terimbas peningkatan geopolitik di Suriah membuat IHSG sulit melepaskan diri dari zona merah," tuturnya.

Akan tetapi, meski kondisi yang ada hingga pertengahan pekan belum terlalu kondusif, termasuk belum adanya imbas positif dari dirilisnya kebijakan-kebijakan pemerintah dan BI untuk meredam pelemahan pasar keuangan, IHSG mulai terlihat rebound. "Adanya berita persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap rencana buyback saham dari beberapa emiten cukup direspons positif meski implementasinya belum terlihat," tuturnya.

Begitu pun dengan laju bursa saham AS dan Eropa yang positif di tengah kekhawatiran terjadinya peningkatan tensi geopolitik di Suriah. Membaiknya saham AS dan Eropa cukup positif pada laju bursa saham Asia, termasuk IHSG. "Bahkan setelah pengumuman kenaikan BI Rate dan Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (Fasbi) pun, IHSG belum beranjak dari zona positifnya," imbuh Reza. [jin]

Komentar

Embed Widget
x