Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 Maret 2019 | 00:29 WIB

Bauran Kebijakan BI Redam Kelongsoran Rupiah

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 1 September 2013 | 09:26 WIB

Berita Terkait

Bauran Kebijakan BI Redam Kelongsoran Rupiah
Rupiah - (foto: inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta Setelah longsor ke level terlemah 10.950 pekan ini, rupiah kembali balik arah ke 10.924 meskipun masih lemah dibandingkan akhir pekan lalu. Kebijakan BI dinilai jadi peredam.

Berdasrkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), dalam sepekan terakhir rupiah melemah 76 poin (0,70%) ke posisi 10.924 per dolar AS dibandingkan Jumat pekan sebelumnya di 10.848. Level terlemah dalam sepekan mencapai 10.950 dan terkuat 10.841 per dolar AS.

Reza Priyambada, kepala riset Trust Securities mengatakan, laju rupiah masih terhitung melemah sepanjang pekan. "Namun demikian, jelang akhir pekan rupiah mulai menunjukkan laju kenaikannya," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan.

Di awal pekan, lanjut dia, rupiah masih berada di zona merah dengan sentimen yang masih sama yaitu ketidakpastian kapan diberlakukannya pengurangan stimulus dari The Fed. "Hasil dari simposium Jackson Hole di pekan sebelumnya menunjukkan adanya himbauan bahwa kebijakan

stimulus The Fed untuk diakhiri secara bertahap meskipun belum jelas kapan mulai diberlakukannya," ujarnya.

Pelaku pasar juga, menurut dia, dihadapkan pada spekulasi penilaian masih tingginya angka inflasi pada Agustus sehingga memberi tekanan pada rupiah. "Pro kontra terkait melemahnya nilai tukar rupiah membuat lajunya variatif disertai dengan aksi lepas posisi," papar dia.

Padahal, laju dolar AS sempat mengalami pelemahan, terutama terhadap yen Jepang dan euro terkait rencana pemerintahan AS untuk invasi militer ke Suriah sehingga menambah ketidakpastian selain masalah tappering stimulus The Fed. "Selain itu, adanya penilaian dari DPR bahwa terus melemahnya nilai tukar ini, bukan hanya karena neraca berjalan yang defisit tetapi juga ada faktor spekulan mata uang," tuturnya.

Apalagi, kata dia, Menteri Keuangan yang menyatakan, ekonomi Indonesia saat ini memang dalam kondisi tidak biasa namun belum krisis, juga belum dapat menenangkan pasar saat itu. "Pada saat yang sama, rupiah juga terimbas pelemahan mata uang Asia setelah laju nilai tukar Rupee India anjlok cukup dalam dan menyeret mata uang Asia lainnya," timpal dia.

Laju rupiah akhirnya bisa menguat setelah mengalami pelemahan selama 3 hari berturut hingga hampir menyentuh level Rp11.000 (berdasarkan kurs tengah BI). "Tampaknya pelaku pasar merespons positif langkah BI yang memutuskan untuk memperkuat bauran kebijakan lanjutan," ucapnya.

Antra lan, menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 7%, suku bunga Lending Facility (LF) sebesar 25 bps menjadi 7,00%, dan suku bunga Deposit Facility (DF) sebesar 50 bps menjadi 5,25%.

"Selain itu, juga terdapat kebijakan pengelolaan likuiditas valas, lelang term deposit, pembelian SBN di pasar sekunder, lelang Sertifikat Deposito BI (SDBI), dan lainnya," imbuh Reza. [jin]

Komentar

Embed Widget
x