Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 17 Juli 2018 | 01:10 WIB
 

Sentimen China Negatif, Rupiah Tiarap

Oleh : Ahmad Munjin | Rabu, 10 Juli 2013 | 16:33 WIB
Sentimen China Negatif, Rupiah Tiarap
inilah.com/Wirasatria

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (10/7/2013) ditutup melemah 10 poin (0,10%) ke posisi 9.965/9.975 dari posisi kemarin 9.955/9.965.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah hari ini salah satunya dipicu oleh negatifnya sentimen eksternal. Terutama, setalah rilis rincian neraca perdagangan China yang menegaskan berlanjutnya perlambatan ekonomi.

Apalagi, kata dia, awal pekan depan, pasar dihadapkan pada rilis Produk Domestik Bruto (PDB) China yang diperkirakan juga melambat. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terelemahnya 9.975 dengan level terkuat 9.955 dari posisi pembukaan 9.960 per dola rAS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (10/7/2013).

Surplus neraca perdagangan China memang naik dari US$20,4 miliar menjadi US$27,1 miliar. Tapi, data ekspor China justru mengalami penurunan dari 1% menjadi -3,1%. Data impor China juga memburuk dari -0,3% menjadi -0,7%.

Kondisi China, kata dia, juga membuat pasar mengkhawatirkan outlook ekspor Indonesia. Mengingat, China merupakan mitra dagang utama Indonesia. "Dikhawatirkan, jika ekonomi China terus melambat, defisit neraca perdagangan Indonesia tetap akan memburuk," ujarnya.

Itulah, kata dia, yang membuat sentimennya masih penguatan dolar AS di sesi Asia. "Apalagi, setelah semalam Standard & Poor's Rating Services (S&P) memangkas peringkat utang Italia dari BBB+ menjadi BBB," tuturnya.

Pasar juga, lanjut Firman, mendapat tekanan negatif dari salah satu petinggi European Central Bank (ECB) yang mengisyaratkan bahwa bank sentral akan tetap memepertahankan suku bunga rendah hingga 12 bulan mendatang.

"Meskipun, jelang pembukaan sesi Asia, dolar AS sempat melemah. Sebab, terjadi aksi short covering jelang rilis notula Federal Open Market Committee (FOMC) dinihari nanti dan testimoni Gubernur The Fed Ben Bernanke," ungkap dia.

Secara umum dolar AS juga mendapat tekanan negatif dari penguatan yen Jepang. "Sebab, pasar sudah mengantisipasi bahwa Bank of Japan (BoJ) besok tidak akan memberikan tambahan stimulus moneter," tuturnya.

Tapi, rupiah tetap melemah karena investor waspada jelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI besok. Rupiah juga terbebani oleh berlanjutnya kenaikan harga minyak dunia yang juga dikhawatirkan dapat membebani defisit neraca perdagangan Indonesia.

Harga minyak di Nymex sudah mencapai US$104,67 per barel. "Rupiah terbebani harga minyak dan kewaspadaan pasar jelang pengumuman BI rate besok," timpal Firman.

Alhasil, rupiah melemah meski dolar AS juga melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke 84,29 dari sebelumnya 84,61. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,2823 dari sebelumnya US$1,2780 per euro," imbuh Firman.

Komentar

x