Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 17 Juli 2018 | 01:07 WIB
 

Moodys: Prospek Obligasi Indonesia Stabil

Oleh : Agustina Melani | Rabu, 10 Juli 2013 | 15:37 WIB
Moodys: Prospek Obligasi Indonesia Stabil
Moody's Investor Service - (Foto: istimewa)

INILAH.COM, Singapura - Moody's Investor Service telah memberikan peringkat Baa3 untuk penawaran obligasi dalam denominasi dolar oleh Indonesia.

Tenor obligasi tersebut untuk berjangka menengah. Adapun prospeknya stabil. Demikian seperti dikutip dari situs Moodys, Rabu (10/7/2013).

Peringkat tersebut menggabungkan penilaian moderat kekuatan ekonomi negara secara keseluruhan yang menyeimbangkan kinerja pertumbuhan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) relatif rendah. Sebelumnya, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 6% pada 2012.

Tetapi pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan sulit kembali mencapai level itu. Hal itu karena kenaikan inflasi, pengetatan kebijakan dan harga lebih rendah untuk ekspor komoditas Indonesia dapat membebani pertumbuhan ekonomi pada 2013. Meski demikian, tren pertumbuhan kemungkinan akan dipertahankan di atas negara lainnya yang memiliki nilai sama dalam jangka menengah.

Selain itu, pengelolaan fiskal yang hati-hati telah terdapat pada defisit anggaran yang rendah dan telah mengurangi beban utang pemerintah. Akibatnya, rasio fiskal dan utang Indonesia sekarang lebih menguntungkan. Reformasi subsidi bahan bakar yang disahkan pada Juni 2013 ditujukan untuk menyehatkan keuangan pemerintah dan kemungkinan akan menjaga defisit fiskal di bawah 3% dari PDB.

Sementara itu, volatilitas arus modal baru-baru ini telah lebih jauh membebani neraca pembayaran dan memberikan kontribusi terhadap melemahnya nilai tukar Rupiah. Selain itu, cadangan devisa yang telah turun ke US$98,1 miliar pada Juni 2013 dari US$112,8 miliar pada akhir 2012. Cadangan ini telah cukup untuk memenuhi kewajiban pembayaran eksternal negara.

Adapun tantangan lain untuk rating yaitu pasar modal Indonesia, kepemilikan investor asing terhadap surat berharga pemerintah juga cukup besar, dan ketidakpastian regulasi serta kebijakan dapat terus mempengaruhi menjelang pemilihan Presiden pada 2014.

Komentar

x