Find and Follow Us

Sabtu, 14 Desember 2019 | 05:41 WIB

Ukie Jaya Mahendra

Peluang di Sektor Saham yang Jadi Primadona

Oleh : Ahmad Munjin | Senin, 17 Juni 2013 | 03:00 WIB
Peluang di Sektor Saham yang Jadi Primadona
Ukie Jaya Mahendra - (Foto : inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Dalam sepekan ke depan, laju IHSG diprediksi fluktuatif dalam kisaran lebar antara support 4.510 dan resistance 4.910. Pilih saham dari sektor yang jadi primadona tahun ini.

Ukie Jaya Mahendra, analis dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) mengatakan, meski kenaikan IHSG cukup tajam akhir pekan lalu, peluang tetap ada pada saham-saham dari sektor yang masih jadi primadona untuk 2013. "Itu boleh untuk diakumulasi," katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Jumat (14/6/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup menguat 153,08 poin (3,32%) ke posisi 4.760,744. Intraday terendah 4.647,74 dan tertinggi 4.777,091. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan net sell Rp366,36 miliar dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Akhir pekan lalu, IHSG menguat 3,32%. Apa yang terjadi?

Meski IHSG mengakhiri pekan dengan penguatan, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp9 triliun dalam sepekan. Akhir pekan lalu pun, meksi indeks naik tapi asing masih berposisi jual hingga Rp366,3 miliar. Jadi, kenaikan IHSG dipicu oleh technical rebound.

Selain faktor teknikal?

Kedua, faktor keberanian Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (Fasbi) sebesar 25 basis poin ke 4,25% dan BI rate ke 6%. Langkah ini dinilai pasar cukup positif.

Sebab, langkah ini merupakan tindakan preventif untuk menjaga stabilitas moneter. Langkah itu, sebagai antisipasi inflasi yang akan melonjak. Sebab, sudah ketok palu, setelah Senin (17/6/2013), harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi akan naik.

Jadi, pasar merespons positif langkah BI sehingga saham-saham perbankan juga kembali naik, saham-saham bluechips juga naik, dan saham-saham sektor properti yang jadi primadona untuk tahun ini juga naik.

Lebih besar mana faktor teknikal atau sentimen langkah BI itu yang memicu penguatan indeks?

Kalau menimbang faktor sentimen dan teknikal, penguatan indeks sebenarnya lebih dipicu oleh faktor teknikal di mana indeks sudah sangat oversold (jenuh jual) sehingga indeks mengalami technical rebound.

Kalau begitu, bagaimana Anda melihat arah IHSG sepekan ke depan?

Dalam sepekan ke depan, saya melihat arah IHSG yang sangat volatile. Sebab, indeks juga tergantung pada arah dari pergerakan Dow Jones Industrial Average (DJIA). Kenaikan indeks akhir pekan lalu pun sebenarnya juga ditopang oleh penguatan DJIA seiring positifnya data retail sales dan klaim tunjangan pengangguran AS.

Level support dan resistance IHSG?

Dalam sepekan ke depan, IHSG akan bergerak dalam kisaran support 4.510 yang merupakan level terendah saat anjlok pada Rabu (12/6/2013) dan resistance 4.910. Resistance tidak terlalu jauh karena kenaikan Jumat pekan lalu sudah terlalu tinggi di atas 3%. Jadi, kisaran pergerakan indeks berpeluang lebar karena indeks masih akan volatile. Jika support 4.510 ditembus, IHSG bisa melemah lebih jauh.

Tapi, saya melihat 4.510 merupakan support kuat sehingga kecil kemungkinan indeks tembus ke bawah support tersebut. Intinya, market masih akan volatile karena investor asing masih dalam posisi jual bersih.

Faktor apa saja yang bisa mendukung penguatan indeks sepekan ke depan?

Yang bisa mendukung penguatan indeks adalah jika ada intervensi dari pemerintah. Atau, dari Jamsostek, dana pensiun atau manajer-manajer investasi dari berbagai reksadana. Merka dilarang menjual saham sehingga pasti dalam posisi market volatile tinggi saat ini, akan mengambil posisi beli.

Bagaimana dengan sentimen eksternal?

Dari eksternal, pasar menanti hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 18-19 Juni 2013 waktu AS. Jika The Fed jadi mengetatkan moneternya, sebenarnya sudah terdiskon dengan pelemahan indeks belakangan ini. Sekrang tinggal dilihat pengaruhnya terhadap perekonomian dan diharapkan pengetatan itu justru berefek positif.

Bisa dielaborasi, apa yang dimaksud sudah terdiskon?

Jadi, sentimen penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di dalam negeri dan sentiment The Fed dari eksternal sebenarnya sudah terdiskon di pasar.

Apa buktinya?

Lihat saja, IHSG sudah melemah dari kenaikan 17% (year to date) sejak awal tahun, turun ke level saat ini +10%. Saat IHSG mencapai level terendahnya 4.510 Rabu (12/6/2013), penguatan indeks tinggal 4,5% year to date dan rebound lagi ke +10%. Artinya, indeks kita sudah kehilangan 12,5% sejak awal tahun jika dihitung dari level tertingginya tahun ini ke level terendahnya. Pelemahan tersebut mendiskon sentimen BBM dan The Fed. Dengan pelemahan sebesar itu juga, indeks rebound juga faktor technical rebound. Sebab, market melihat posisi indeks sudah terlalu murah sehingga orang bargain hunting.

Bagaimana pasar seharusnya merespons rapat The Fed dan penaikan harga BBM bersubsidi?

Saya berharap, dalam sepekan ke depan hasil FOMC The Fed justru memberikan efek yang positif ke pasar sehingga investor asing mulai berposisi net buy. Soal BBM diharapkan tidak ada gejolak masyarakat akibat penaikan harganya. Kalaupun ada gejolak, diharapkan masih dalam batas toleransi sehingga bisa diatasi oleh pemerintah. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada IHSG.

Ada ancaman IHSG turun lebih jauh karena faktor BBM?

Belum tentu. Apalagi, kenaikan BBM sebenarnya merupakan hal yang diinginkan sejak dulu oleh investor asing untuk meringangkan beban anggaran APBN. Diharapkan, subsidi itu bisa dipakai untuk mengurus pembangunan infrastruktur, percepatan ekonomi. Jika BBM dinaikkan, roda ekonomi akan naik lebih cepat. Karena itu, kalau saya lihat, sentimen negatif dari penaikan harga BBM lebih bersifat jangka pendek. Untuk jangka panjang sangat positif.

Target Anda untuk arah IHSG hingga akhir 2013?

Outlook saya untuk IHSG hingga akhir 2013 masih tetap bullish dengan target akhir tahun di level tertinggi tahun ini 5.250. Tapi, untuk tembus level tertingginya itu sepertinya agak berat. Bisa menembus level 5.000 saja, IHSG sudah bagus dalam sisa enam bulan di 2013.

Saham-saham pilihan Anda?

Meski IHSG sudah naik tinggi, saya masih melihat peluang pada saham-saham dari sektor yang masih jadi primadona untuk 2013. Itu boleh untuk diakumulasi, seperti misalnya PT Total Bangun Persada (TOTL.JK), PT AKR Corporindo (AKRA.JK). AKRA mendapat sentimen positif karena sudah mendapat izin untuk menjual BBM bersubsidi dalam waktu dekat sekaligus sebagai distributor. Di sektor properti, saham PT Alam Sutera Realty (ASRI.JK), dan di sektor consumer goods, PT Ades Waters Indonesia (ADES.JK) bisa akumulasi beli.

Bagaimana strategi pada saham-saham tersebut?

Karena IHSG volatil, saya sarankan main cepat. Saat saham-saham tersebut mencapai resistance bisa langsung jual dulu dan beli kembali saat menembus area support dari saham-saahm tersebut. Jadi, strateginya hit and run.

Komentar

Embed Widget
x