Find and Follow Us

Jumat, 6 Desember 2019 | 15:13 WIB

Inilah Sentimen Saham Regional Sepekan

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 16 Juni 2013 | 15:12 WIB
Inilah Sentimen Saham Regional Sepekan
ist
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Dalam sepekan terakhir, bursa saham Asia, Eropa dan AS melaju pada teritori negatif. Inilah sentimen-sentimen yang mempengaruhinya.

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, indeks saham Asia masih memerah meski di akhir pekan menghijau. "Sempat bergerak positif di awal pekan setelah merespons positifnya penutupan bursa saham AS di akhir pekan sebelumnya," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan ini.

Tetapi, lanjut Reza, rilis turunnya industrial production, retail sales, dan naiknya trade balance China sempat berikan efek negatif. Apalagi, dengan angka ekspor dan impornya yang ternyata mengalami penurunan.

Di sisi lain, kondisi tersebut dapat diimbangi dengan rilis rendahnya inflasi China, kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) dan consumer confidence Jepang yang diiringi dengan pelemahan yen. "Adanya penurunan data-data di Australia dan terutama hasil Bank of Japan (BoJ) Meeting yang hasilnya tidak banyak perubahan terhadap kebijakan ekonominya yang diiringi dengan kenaikan yen turut menambah sentimen negatif," papar dia.

BoJ menyatakan, akan tetap mempertahankan kebijakannya saat ini dan menahan diri dari penetapan suku bunga pinjaman jangka panjang untuk mengimbangi gejolak di pasar obligasi, terutama setelah yield-nya mengalami lonjakan. "Sementara itu, Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda juga menyatakan tidak melihatnya kebutuhan mendesak untuk menambah stimulus moneternya dalam waktu dekat," ucapnya.

Sentimen negatif masih berlanjut setelah pelaku pasar masih merespons negatif berita pengurangan stimulus dari The Fed. "Ketergantungan pelaku pasar terhadap berita stimulus membuat banyak pelaku pasar sakaw sehingga adanya berita negatif terkait penarikan stimulus langsung diresponsnya dengan melakukan aksi jual," kata Reza.

Lebih jauh Reza menjelaskan, pelemahan bursa saham AS dan Eropa juga berimbas negatif pada bursa saham Asia dengan kondisi penurunan terdalam dialami Nikkei. "Hal itu terjadi setelah tersengat kenaikan tajam yen Jepang yang merupakan lanjutan dari sentimen sebelumnya di mana pelaku pasar kecewa dengan pernyataan Pemerintah maupun BoJ," tuturnya.

Pada saat yang sama, rilis penurunan outlook pertumbuhan global oleh Bank Dunia dari 2,4% menjadi 2,2% dan pertumbuhan China dari 8,4% menjadi 7,7% turut menambah sentimen negatif.

Dari benua Eropa, bursa saham Eropa sepanjang pekan terakhir tercatat merah. Laju bursa saham Eropa diwarnai berbagai sentimen. Antara lain, imbas rilis penurunan data ekspor-impor China; rilis kenaikan PDB Jepang dan industrial production Perancis meskipun angkanya masih minus; serta upgrade outlook sovereign credit AS oleh Standard & Poor's Ratings Services (S&P) dari negatif menjadi stabil.

Selain itu, terimbas negatifnya bursa saham Asia pasca-BoJ Meeting yang dirasa tidak memberikan sesuatu hal yang baru.

Bursa saham Eropa juga diwarnai oleh variatifnya berbagai sentimen dan data lainnya yang dirilis. Antara lain, penurunan industrial production Inggris dan Luxemburg; kenaikan inflasi Swedia; wait & see terhadap pertemuan Majelis Tinggi Jerman untuk membahas program European Central Bank (ECB) yakni Outright Monetary Transaction dan European Stability Mechanism;

Rilis berita adanya perselisihan antara politisi Yunani yang dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas negara, terutama setelah PM Yunani, Antonis Samaras, memutuskan untuk menutup siaran radio nasional; kabar Yunani akan menjadi negara berkembang pertama yang akan dipangkas oleh MSCI Inc. setelah pasar sahamnya anjlok 83% sejak 2007 dan kegagalan lainnya;

Bursa Eropa juga merespons kekhawatiran adanya penarikan stimulus The Fed. "Jelang akhir pekan, sedikit berbalik positif setelah merespons kenaikan wholesale price index tahunan Jerman dan kenaikan data-data ekonomi AS yang sebelumnya sempat dikhawatirkan akan terjadi penurunan dan mempengaruhi kinerja emiten," tuturnya.

Begitu juga bursa saham AS yang tercatat memerah sepanjang pekan terakhir. "Di awal pekan, pelaku pasar sempat merespon positif upgrade outlook kredit oleh S&P namun, masih melihat kelemahan kredit AS yang dapat berasal dari kinerja fiskal, beban utang, dan efektivitas kebijakan fiskal," kata Reza.

Pelaku pasar juga merespon negatif pernyataan Kepala The Fed St Louis, James Bullard yang memunculkan kembali spekulasi penarikan stimulus The Fed; imbas penurunan bursa saham Eropa dan Asia dengan berbagai sentimen yang menyertainya; rilis pertumbuhan wholesale inventories dan kenaikan NFIB Business Optimism Index yang juga direspons negatif karena terkait dengan spekulasi penarikan stimulus The Fed.

Jelang akhir pekan, bursa saham AS berbalik menghijau di tengah positifnya data-data yang dirilis dan banyaknya rilis berita merjer dan akuisisi antar perusahaan.

Kenaikan juga terjadi setelah adanya perkiraan tentang rencana The Fed yang akan mempertahankan suku bunga rendah. "Pelaku pasar mencoba mencermati membaiknya data, apakah telah kuat untuk menghadapi rencana penarikan stimulus The Fed," imbuh Reza.

Komentar

Embed Widget
x