Find and Follow Us

Sabtu, 7 Desember 2019 | 17:19 WIB

Inilah Faktor Penekan Rupiah Sepekan

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 16 Juni 2013 | 14:23 WIB
Inilah Faktor Penekan Rupiah Sepekan
(Foto: inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Dalam sepekan terakhir rupiah melemah 0,98% berdasarkan Jisdor. Inilah faktor-faktor yang mempengaruhinya baik dari internal maupun dari eksternal.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), dalam sepekan terakhir rupiah melemah 96 poin (0,98%) dari 9.790 per 7 Juni 2013 ke posisi 9.886 per dolar AS pada Jumat (14/6/2013). Rupiah mencapai level terlemah pada Kamis (13/6/2013) di level 9.887.

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah berkubang di zona merah sepanjang pekan. "Kami melihat banyak faktor negatif yang menekan rupiah sehingga tertekan sangat dalam sepekan terakhir," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan.

Faktor negatif tersebut, kata dia, terutama berasal dari dalam negeri. Antara lain, aksi menghindari rupiah karena belum jelasnya pemberlakuan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi; turunnya nilai tukar won Korea dan dolar Australia akibat kenaikan tajam yield US Treasury.

Rupiah juga mendapat tekanan negatif dari melemahnya dolar Australia pascarilis angka consumer confidende yang stagnan dan turunnya data investment lending for homes. "Data tersebut menandakan adanya perlambatan di sektor perumahan Australia," ujarnya.

Lalu, lanjut Reza, rupiah mendapat tekanan negatif dari kenaikan yen Jepang setelah pertemuan Bank of Japan (BoJ) dan apreasiasi dolar AS pascakomentar Kepala The Fed St Louis, James Bullard, yang mengatakan kondisi pasar tenaga kerja telah membaik sejak musim panas lalu. "Pernyatan tersebut memunculkan kembali spekulasi penarikan stimulus The Fed," paparnya.

Tidak cukup sampai di situ, kata Reza, pergerakan nilai tukar rupiah juga masih di zona merah meskipun BI telah melakukan aksi operasi pasar melalui intervensi dan menaikan suku bunga Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (Fasbi) sebesar 25 bps ke level 4,25%.

Selain itu, intervensi BI dengan menggunakan cadangan devisa justru direspons negatif karena akan mengurangi jumlahnya. "Adanya rilis bahwa cadangan devisa telah turun sebanyak US$105 miliar atau merosot 5,7% year to date dan kenaikan BI rate sebanyak 25 bps menjadi 6% belum cukup ampuh menguatkan mata uang Garuda ini," ungkap dia.

Sementara itu, lanjut Resa, suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility masing-masing tetap sebesar 4,25% dan 6,75%. "Langkah ini belum berdampak karena kenaikan tajam yen Jepang setelah pelaku pasar di Jepang banyak melepas kepemilikan di obligasi luar negerinya dan apresiasi dolar AS dengan sentimen rencana penarikan stimulus The Fed," imbuhnya. [jin]

Komentar

Embed Widget
x