Find and Follow Us

Jumat, 13 Desember 2019 | 10:23 WIB

IHSG Naik Lima Bulan, Hilang dalam Hitungan Hari

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 16 Juni 2013 | 11:45 WIB
IHSG Naik Lima Bulan, Hilang dalam Hitungan Hari
(Foto: inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Pelemahan belakangan ini telah membawa IHSG ke level Februari 2013. Karena itu, pencapaian indeks saham domestik dalam lima bulan terhapus dalam hitungan hari. Seperti apa?

IHSG selama sepekan mengalami penurunan 104,58 poin (2,15%) atau lebih sedikit dari sebelumnya yang turun dalam 203,31 poin (4,01%). Penurunan ini juga terjadi pada indeks utama lainnya di mana indeks DBX memimpin penurunan 5,22% dan diikuti indeks ISSI dan MBX yang masing-masing anjlok 1,95% dan 1,65%.

Di sisi lain, laju indeks sektoral pun ikut terkena koreksi namun, masih ada yang mampu bertahan positif seperti indeks aneka industri, industri dasar, dan perkebunan yang masing-masing mengalami kenaikan 2,51%, 2,22%, dan 0,02%.

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, akhirnya yang ditunggu datang juga. "Awan positif menyertai para pelaku pasar di akhir pekan," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan.

Seperti yang pekan sebelumnya disampaikan, pemodal berharap laju koreksi pada IHSG dapat tertahan mengingat sudah oversold-nya posisi IHSG. Karena itu, masih ada harapan untuk kembali mengalami rebound. "Dan, di akhir pekan ini harapan tersebut dapat tercapai," ungkap dia.

Itupun, lanjut Reza, bursa saham global sedang menghijau sehingga laju penguatan IHSG dapat terbantukan. "Berbagai sentimen memang lebih banyak negatifnya sepanjang pekan kemarin yang mengakibatkan IHSG longsor hingga membalikkan indeks ke level pada Februari," tuturnya.

Pencapaian yang susah payah dicapai IHSG selama 5 bulan pertama di tahun ini, hilang hanya dalam hitungan hari demi hari sepanjang bulan Juni. "Asing? Tenang, kali ini jualan mereka sudah berkurang, terutama di akhir pekan, meskipun selama sepekan asing mencatatkan nett sell sebesar Rp9,144 triliun lebih tinggi dari pekan sebelumnya Rp5,094 triliun," papar dia.

Awan suram masih mewarnai indeks di awal pekan, terutama dari dalam negeri yang membuat pelaku pasar masih menjauhi pasar. "Apalagi untuk investor asing, dengan nilai akumulasi net buy masih cukup besar, membuat mereka pun gencar melakukan aksi jual untuk mengurangi posisinya," ucapnya.

Di sisi lain, kondisi ini berbanding terbalik dengan regional saat itu di mana masih mampu bergerak variatif cenderung mencoba menguat meskipun rilis data-data dari China kurang mendukung. "Tampaknya tekanan jual di dalam negeri mungkin lebih besar jika dibandingkan dengan sejumlah bursa saham regional yang sama-sama melemah," tuturnya.

Beberapa faktor yang menyebabkan kondis tidak nyaman. Antara lain, masih rendahnya nilai tukar rupiah, turunnya nilai cadangan devisa dalam 5 bulan terakhir, belum jelasnya waktu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi , dan ketidakjelasan lainnya.

Reza menegaskan, masih derasnya tekanan jual asing membuat IHSG terhempas. "Meskipun asing masih dalam posisi jualan namun, kami melihat sudah mulai terbatas aksi jual tersebut," ungkap dia.

Sudah rendahnya posisi harga sejumlah saham membuat pelaku pasar mulai menyicil akumulasi saham meskipun masih dalam jumlah yang terbatas. "Namun, berbalik negatifnya bursa saham Asia masih menahan laju IHSG," papar dia.

Meski IHSG sempat menghijau namun Reza melihat saat itu IHSG belum mengkonfirmasi kenaikan signifikan untuk selanjutnya dan terbukti IHSG tidak menunjukkan potensi kenaikannya di hari berikutnya. "Hal ini diperparah dengan kondisi regional yang belum memberikan aura positif, terutama setelah perekonomian China menunjukkan pelemahan dan penurunan outlook pertumbuhannya oleh Bank Dunia," kata Reza.

Belum lagi, lanjut dia, nilai tukar Yen yang terus mengalami kenaikan. "Tidak cukup sampai di situ, IHSG pun terkena hantaman sentimen negatif dari keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan BI rate menjadi 6% dari level 5,75% untuk mengantisipasi inflasi yang direspons dengan penurunan saham-saham konsumer, properti, dan lainnya," imbuh Reza.

Komentar

Embed Widget
x