Find and Follow Us

Jumat, 24 Januari 2020 | 07:16 WIB

Rupiah Kena Getah Gejolak Obligasi Jepang

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 24 Mei 2013 | 17:20 WIB
Rupiah Kena Getah Gejolak Obligasi Jepang
(Foto: inilah.com/Wirasatria)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (24/5/2013) ditutup melemah 7 poin (0,07%) ke posisi 9.770/9.775 per dolar AS dari posisi kemarin 9.673/9.678.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, terjadi tekanan negatif terhadap rupiah karena terjadi risk aversion (aksi hindar risiko) seiring adanya kecemasan para investor terhadap rencana stimulus dari Bank of Japan (BoJ) yang dikhawatirkan justru memicu fluktuasi liar di pasar obligasi Jepang.

Komentar Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda tadi pagi, menurut Christian menunjukkan bahwa program stimulus Jepang kemungkinan masih tetap sama seperti pada rapat kebijakan moneter sebelumnya. "Karean itu rupiah mencapai level terlemahnya 9.771 dari posisi terkuatnya 9.769 dari posisi pembukaan di level 9.770 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (24/5/2013).

Padahal, lebih jauh Christian menjelaskan, pelaku pasar mengharapkan adanya kebijakan yang lebih agresif dari BoJ mengingat lonjakan yield obligasi Jepang. "Kondisi ini memicu tergerusnya ekuitas sebagian besar dana pensiun dan dana investor," tandas dia.

Akibatnya, lanjut dia, terjadi aksi ambil untung pada pasar aset lainnya untuk menutupi kerugian di pasar obligasi. "Kondisi ini sebenarnya bisa dihindari jika saja BoJ menambah suntikan dana ke pasar obligasi agar pergerakannya kebali stabil," tuturnya.

Selain itu, pelemahan rupiah juga karena faktor fundamental ekonomi AS yang belum mengalami peruhanan. Jobless Claims AS membaik melebihi ekspektasi sehingga menjadi sentimen positif bagi dolar AS. Jobless claims AS membaik ke 340 ribu dari pekan sebelumnya 363 ribu. "Angka ini cukup konsisten dengan indikasi pemulihan pasar tenaga kerja AS," tuturnya.

Begitu juga dengan indeks harga rumah AS yang mengalami peningkatan 1,3% dari publikasi sebelumnya 0,9%. Penjualan rumah baru juga melampaui perkiraan jadi 2,3% dari 444 ribu menjadi 454 ribu. Padahal, sebelumnya diprediksi turun ke 429 ribu. "Kondisi ini menunjang dolar AS. Apalagi, untuk sentimen rupiah belum mengalami perbaikan fundamental," ucap dia.

Alhasil, rupiah melemah meski dolar AS juga melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Dolar AS mengalami profit taking menjelang sore setelah data iklim bisnis Jerman dirilis lebih tinggi jadi 105,7 dari bulan sebelumnya 104,4.

Indeks dolar AS melemah ke 83,58 dari sebelumnya 83,82. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,2960 dari sebelumnya US$1,2931 per euro," imbuh Christian.

Komentar

x