Find and Follow Us

Sabtu, 7 Desember 2019 | 21:12 WIB

Pasar Cium Memburuknya Ekonomi Jerman

Oleh : Ahmad Munjin | Kamis, 18 April 2013 | 20:52 WIB
Pasar Cium Memburuknya Ekonomi Jerman
Ekonomi Jerman - (Foto : ilustrasi)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG menembus level psikologis 5000, tapi rupiah justru melandai. Pasar mencium memburuknya ekonomi Jerman dari pernyataan petinggi ECB. Seperti apa?

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, melandainya penutupan rupiah Kamis ini dipicu oleh salah satu petinggi European Central Bank (ECB) Jens Weidmann yang juga gubernur bank sentral Jerman, Bundesbank yang mengutarakan dukungannya pada ECB untuk menurunkan tingkat suku bunganya lebih lanjut jika kondisi ekonomi memburuk.

Menurut Firman, nada Weidmann cukup dovish (promoneter longgar) sehingga dolar AS semalam menguat signifikan. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemhanya 9.740 dengan level terkuat 9.715 dari posisi pembukaan 9.720 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (18/4/2013).

Kurs rupiah $ terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (18/4/2013) ditutup melemah tipis 5 poin (0,05%) ke posisi 9.715/9.725 dari posisi kemarin 9.710/9.720.

Padahal, lebih jauh dia menjelaskan, biasanya bank sentral Jerman tidak ingin ECB melonggarkan moneter lebih lanjut. "Karena itu, komentar dari Weidmann itu mengisyaratkan kondisi ekonomi di Jerman yang memburuk sehingga membutuhkan pelonggaran moneter lebih lanjut dari ECB untuk mempermudah kondisi ekonominya," papar dia.

Apalagi, sebelumnya Weidmann merupakan penentang suntikan stimulus dari ECB terutama tentang pembelian obligasi outright monetary transactions (OMT) sehingga komentar dovish itu cukup mengagetkan bagi pasar. "Hanya saja, pelemahan rupiah tidak terlalu jauh seiring sentimen di sesi Asia yang cukup membaik," papar dia.

Tadi pagi, lanjut dia, pasar mendapatkan data tingkat investasi asing di China yang menguat dan naiknya indeks kepercayaan bisnis Australia sehingga mengurangi tekanan negatif terhadap rupiah.

Tingkat investasi asing di China naik 1,4% dari publikasi sebelumnya -1,4%. Begitu juga dengan indeks kepercayaan bisnis Australia yang naik dari -5 menjadi 2.

Apalagi, lelang obligasi Spanyol sore ini cukup positif untuk tenor 10 tahun. Yield-nya turun jadi 4,89% dari sebelumnya 4,61%. Begitu juga dengan rasio bid-to-cover yang naik dari 1,9 kali menjadi 2,6 kali. "Hanya saja, karena baru dirilis belum membuat rupiah bergeser ke teritori positif tapi sudah cukup melemahkan dolar AS," tuturnya.

Alhasil, dolar AS melemah tipis terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke 82,59 dari sebelumnya 82,64. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,3047 dari sebelumnya US$1,3034 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Purwoko Sartono, Research Analyst dari PT Panin Sekuritas mengatakan, aksi selective buying yang dilakukan investor berhasil mendorong IHSG menembus level 5.000. "Ini sekaligus menciptakan rekor tertinggi baru," tuturnya.

Pada perdagangan Kamis (18/4/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup meneguat 13,99 poin (0,28%) ke posisi 5.012,638. Intraday tertinggi mencapai 5.012,638 sekaligus rekor tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, level terendah di angka 4.975,288.

Kenaikan IHSG, lanjut dia, terjadi di tengah melemahnya sebagian bursa regional menyusul sentimen negatif dari Wall Street terkait proyeksi International Monetary Fund (IMF) akan metal industry yang akan melemah. "Dari dalam negeri kami melihat selective buying yang dilakukan investor terkait dengan antisipasi keluarnya laporan keuangan emiten untuk kuartal I-2013," papar dia.

Untuk Jumat (19/4/2013), Purwoko memperkirakan ruang kenaikan IHSG akan cenderung terbatas di tengah ancaman profit taking. "Kisaran support-resistance 4.093-5.024," tuturnya.

Secara terpisah, pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, indeks dolar AS melemah secara signifikan semalam -0,51%. "Pelemahan tersebut memberi peluang pada sektor komoditas, sekaligus harapan baru bagi IHSG. Sebab, IHSG sejatinya adalah markas besarnya sektor komoditas," imbuhnya.

Komentar

Embed Widget
x