Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 06:42 WIB

IHSG Jenuh Beli, Harapan 5000 pun Buyar

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 7 April 2013 | 13:49 WIB
IHSG Jenuh Beli, Harapan 5000 pun Buyar
(Foto: inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Selama sentimen positif mendukung, IHSG diprediksi terus merangsek naik. Tapi, sedikit saja sentimen negatif, harapan level psikologis 5000 pun buyar karena indeks jenuh beli.

IHSG selama sepekan telah mengalami pelemahan 14,92 poin (0,30%). Penurunan ini berbanding terbalik dengan kenaikan pekan sebelumnya sebesar 217,83 poin (4,61%). Indeks utama hanya indeks DBX yang mampu menghijau dengan kenaikan 1,44%.

Sementara indeks utama lainnya terpuruk dengan pelemahan terdalam indeks IDX30 (0,95%). Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45 ^JKLQ45 yang turun 0,74%, JII 0,57%, dan lainnya. Pergerakan variatif juga dialami indeks sektoral di mana hanya 4 sektor yang menguat antara lain, pertambangan menguat 2,28%, konsumer 2,17%, perdagangan 1,07%, dan industri dasar 0,48%. Selebihnya, indeks sektoral melemah.

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, pergerakan IHSG selama sepekan cenderung variatif. "Di awal pekan bergerak naik, namun jelang akhir pekan malah mengalami pelemahan meskipun pada Jumat (5/4/2013) masih dapat ditutup menguat," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan ini.

Menurut dia, seperti yang pernah disampaikan, semakin tinggi IHSG justru membuat banyak pelaku pasar khawatir akan terjadinya pembalikan arah jika tiba-tiba muncul sentimen negatif. "Kekhawatiran itu pula yang kami rasa membuat IHSG menjauhi level psikologis 5.000 seperti yang sebelumnya pelaku pasar banyak berharap," ujarnya.

Pada awal pekan, seiring masih liburnya sejumlah bursa saham utama dunia dalam memperingati wafatnya Isa Al-Masih, IHSG seolah-olah tidak memiliki acuan pergerakan. "Di sisi lain, pelaku pasar sepertinya juga merasa informasi rilis kinerja laporan keuangan sudah mereka dapatkan sehingga tidak ada lagi informasi terkait emiten yang ditunggu," tandas dia. Pelaku pasar pun, kata Reza, memilih untuk sedikit mengurangi posisi.

Namun demikian, investor asing selama sepekan masih mencatatkan net buy senilai Rp817,75 miliar, naik dari sebelumnya Rp670,54 miliar. "Belum lagi sentimen dari rilis inflasi pun tidak cukup mendukung laju IHSG karena dirilis lebih tinggi dari periode-periode sebelumnya yang secar historis selama bulan Maret selalu tercatat deflasi," ungkap dia.

Hanya saja, rilis inflasi tersebut justru malah membuat IHSG tetap menghijau di mana sektor konsumer sebagai penopangnya. "Meski bursa saham AS sempat merah di awal pekan namun, tidak berimbas pada laju IHSG meski secara intraday masih cenderung flat," papar Reza.

Hingga pertengahan pekan, IHSG tetap melaju di teritori positif di tengah negatifnya bursa saham Asia karena masih adanya respons positif terhadap rilis kinerja para emiten dan ekpektasi pembagian dividen. "Bahkan sempat kembali menyentuh new high record yang juga didukung masih adanya net buy asing," tuturnya.

Hanya saja, kata dia, harapan banyak kalangan pasar pun buyar terhadap pencapaian 5.000 dalam waktu dekat ini. "Bukannya tidak optimistis namun, kami selalu mencoba lebih melihat secara riil lapangan," kata dia.

Dia menegaskan, kenaikan IHSG akan memungkinkan bila memang didukung oleh sentimen positif. Namun, sedikit saja ada sentimen negatif, akan dimanfaatkan untuk profit taking. "Mengingat posisi IHSG yang selalu overbought (jenuh beli)," ucapnya.

Komentar

Embed Widget
x