Find and Follow Us

Sabtu, 16 November 2019 | 06:13 WIB

Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 5 April 2013 | 19:50 WIB
Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS
(Foto : istimewa)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG hanya menguat tipis dan rupiah ditutup stagnan. Salah satunya, karena pasar masih menanti rilis data tenaga kerja AS malam ini.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, stagnannya penutupan rupiah akhir pekan ini karena pasar masih konsolidasi jelang rilis data non-farm payrolls AS nanti malam. Pada saat yang sama, sentimen yang berkembang dalam 24 jam terakhir memang agak variatif sehingga rupiah bergeming.

"Sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.765 dengan level terkuat 9.750 dari posisi pembukaan 9.760 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (5/4/2013).

Kurs rupiah $ terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (5/4/2013) ditutup stagnan di 9.750/9.755.

Lebih jauh dia menjelaskan, data nonfamrm payrolls AS nanti malam sudah diprediksi turun dari 236 ribu menjadi 198 ribu. Begitu juga dengan data lain yang tidak begitu positif untuk dolar AS. "Data neraca perdagangan AS defisitnya sudah diprediksi bertambah jadi minus US$44,8 dari sebelumnya minus US$44,4 miliar," ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, tadi malam, pasar juga mendapatkan data klaim pengangguran AS yang negatif sehingga jadi tekanan negatif bagi dolar AS. Belum lagi dengan komentar yang cukup dovish (promoneter longgar) dari pera petinggi The Fed Charles L Evans dan Janet Yelen.

Sementara itu, Gubernur The Fed Ben Bernanke sendiri tidak memberikan pidato yang spesifik mengenai ekonomi melainkan cenderung pada edukasi. "Jadi, pasar hanya mendapatkan komentar yang cukup dovish dari Evans dan Yelen yang menegaskan bahwa The Fed masih akan menjalankan kebijakan moneter longgar hingga akhir 2013," tuturnya.

Namun, meski The Fed bernada dovish, rupiah tidak menguat. Tampak, pasar lebih cenderung untuk menunggu rilis data nonfarm payrolls AS nanti malam sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.

Tertahannya penguatan rupiah juga karena faktor konferensi pers dari European Central Bank (ECB) semalam yang tidak begitu menggembirakan. Presiden ECB Mario Draghi masih memberikan outlook ekonomi zona euro yang tidak begitu positif.

Draghi menyatakan, masih adanya risiko penurunan bagi ekonomi zona euro. "Dia juga menegaskan, pelemahan ekonomi kemungkinan akan berlanjut pada negara yang mungkin tidak mengalami masalah utang," timpal Firman.

Tapi, di sisi lain, kata Firman, komentar Draghi juga cukup positif. Sebab, Draghi juga mengatakan bahwa model skema bailout Siprus bukan acuan untuk bailout di masa yang akan datang. "Komentar ini agaknya cukup menggembirakan. Jadi, secara umum sentimen pasar masih variatif sehingga rupiah berakhir stagnan," imbuhnya.

Alhasil, dolar AS pun hanya menguat terbatas terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 82,77 dari sebelumnya 82,74. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,2924 dari sebelumnya US$1,2931 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Andrew Argado, analis eTrading Securities mengatakan, pada perdagangan Jumat (5/4/2013), IHSG bergerak lama pada teritori positif karena masih terbawa oleh sentimen positif dari bursa regional. "Terutama setelah Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup positif," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (5/4/2013).

Pada perdagangan Jumat (5/4/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup menguat tipis 3,46 poin (0,07%) ke 4.926,068. Intraday terendah 4.932,208 dan tertinggi 4.948,75.

Sementara itu, menurut dia, dari sisi sentimen-sentimen fundamental belum ada yang signifikan berpengaruh pada pergerakan indeks Jumat ini. "Setelah IHSG mencapai level tertingginya sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI) di level 4.985, indeks mengalami penurunan agak dalam kemarin," tuturnya.

Jumat ini pun, setelah melaju positif di sesi pertama, IHSG sempat kembali melemah di sesi kedua dan pada akhirnya tutup di teritori positif. Tapi, dia menegaskan, dilihat dari trennya, indeks masih dalam tren yang positif. "IHSG masih dalam kisaran resistance 4.985 dengan support terdekat di 4.907," ujarnya.

Sementara itu, pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, meski indeks saham domestik sempat melemah tapi hanya koreksi tipis. "Karena itu, tidak ada indikasi kekhawatiran market yang berlebihan. "Semua porto kita tetap di-hold. Di saham perlu proses waktu. Tidak perlu galau kalau dasar kita membeli suatu saham adalah jelas," imbuhnya.

Komentar

Embed Widget
x