Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 07:26 WIB

Pasar Siaga Moneter Ketat Eropa-AS Lebih Cepat

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 25 Januari 2013 | 18:55 WIB
Pasar Siaga Moneter Ketat Eropa-AS Lebih Cepat
inilah.com/Wirasatria
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG menguat tapi rupiah sebaliknya. Pasar berekspektasi ketatnya moneter zona euro dan AS terjadi lebih cepat.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah akhir pekan ini salah satunya dipicu oleh penguatan euro yang signifikan hampir terhadap semua mata uang utama. Menurut Firman, dolar AS memang melemah tajam terhadap euro, tapi rupiah juga melemah karena euro yang terlalu kuat.

Akibatnya, kata Firman, rupiah tidak mendapatkan efek dari pelemahan dolar AS terhadap euro. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.670 dengan level terkuat 9.630 dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (25/1/2013).

Kurs rupiah $ terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (25/1/2013) ditutup melemah 30 poin (0,31%) ke angka 9.650/9.665 dari posisi Rabu 9.620/9.630.

Lebih jauh Firman menjelaskan, penguatan euro salah satunya dipicu oleh positifnya data-data ekonomi Eropa dalam 24 jam terakhir. Data manufaktur Jerman dirilis positif jadi 48,8 dari publikasi sebelumnya 46. "Sore ini juga pasar disuguhkan dengan sentimen bisnis Jerman yang juga cukup positif," ujarnya.

Begitu juga dengan positifnya indeks manufaktur Zona Euro ke level 47,5 dari 46,1. Apalagi, data neraca lancar Zona Euro juga dirilis cukup positif jadi 14,8 miliar euro dari publikasi sebelumnya 8 miliar euro. Meskipun, indeks manufaktur Perancis dirilis negatif jadi 42,9 dari sebelumnya 44,6. "Tapi, pasar melihat lebih banyak berita positif dari zona euro," timpal Firman.

Selain itu, lanjut Firman, melambungnya euro juga dipicu oleh ekspektasi pasar atas pengetatan kebijakan moneter European Central Bank (ECB) yang terjadi lebih cepat. Jumat (25/1/2013) merupakan hari pertama pembayaran Long-term refinancing operations (LTROs) yang diluncurkan oleh ECB pada 2011. "Secara de facto, ini juga berarti dimulainya kebijakan pengetatan moneter oleh ECB," ungkap dia.

Pasalnya, lanjut Firman, sektor perbankan Uni Eropa akan membayarkan sebagian suntikan likuditas yang dipinjamkan oleh ECB yang diberikan akhir 2011. "Pada akhir 2011 dan Februari 2012 ECB menyuntikkan likuiditas ke perbankan zona euro dengan jumlah yang signfikan dan hari ini adalah hari pertama pembyaran oleh bank-bank zona euro. Angkanya sudah diprediksi mencapai 100 miliar euro," tandas Firman.

Lalu, Firman menambahkan, pelemahan rupiah juga lebih bersifat konsolidasi pasar jelang akhir pekan dan antisipasi atas banyaknya agenda ekonomi yang hasilnya akan dirilis pekan depan. Sentimennya cukup variatif dari eskternal. "Antara lain, data Produk Domestik Brutor (PDB) AS dan agenda pertemuan Federal Open Market Committe (FOMC) yang akan menguatkan ekspektasi pasar atas penarirkan stimulus The Fed yang lebih cepat sehingga memperkuat dolar AS dan negatif pengaruhnya bagi rupiah," tuturnya.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama tapi melemah tajam terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 79,81 dari sebelumnya 78,96. "Terhadap euro, dolar AS masih berjalan ditransaksikan melemah ke US$1,3424 dari sebelumnya US$1,3377 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, Dow Jones Industrial Average (DJIA) dalam dua malam terakhir masih bergerakan positif. "Tapi, Dow Jones Futures bergerak negatif gara-gara kinerja Microsoft yang di bawah ekspektasi," kata dia.

Akibatnya, bursa regional Asia mengalami koreksi. IHSG tadi pagi sempat terlihat bersemangat merespons DJIA. "Tapi, ujung-ujung tetap saja, para pemodal melihat bursa regionalnya yang lembek. IHSG pun turut bocor alus. Pelan-pelan turun meskipun pada akhirnya ditutup pada area positif," ujarnya.

Pada perdagangan Jumat (25/1/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup menguat 18,871 poin (0,43%) ke angka 4.437,598. Tapi, secara keseluruhan, IHSG bervariasi pada kisaran sempit 4.380-4.441. "Kalau mau bullish, IHSG harus bisa ditutup di atas 4.441," timpal Satrio.

Akhir pekan ini, Satrio mengaku masih dalam posisi Buy On Weakness. "Posisi yang saya dapat hari Jumat, berusaha saya ayun. Jual dulu, beli lagi. Intinya, saya masih belanja. Kecuali, kalau Hang Seng tiba-tiba tutup di bawah 23.540. Mungkin saya bakal menunggu lebih lama lagi untuk bisa belanja," imbuhnya.

Komentar

Embed Widget
x