Find and Follow Us

Jumat, 15 November 2019 | 17:23 WIB

Pasar Sambut Bailout Yunani & Spanyol

Oleh : Ahmad Munjin | Rabu, 14 November 2012 | 19:15 WIB
Pasar Sambut Bailout Yunani & Spanyol
ist
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Meski rupiah masih stagnan di level lemah, IHSG berhasil menutup pekan ini dengan penguatan. Pasar menyambut positif kabar bahwa Yunani dan Spanyol akan dibailout.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, secara umum pergerakan rupiah masih datar. Sentimen global cukup positif terutama ditopang oleh harapan Yunani akan mendapatkan bailout meskipun bukan pekan ini.

Salah satu media Jerman melaporkan bahwa Yunani mungkin akan mendapatkan pencairan dana bailout sebanyak 44 miliar euro. Angka tersebut lebih besar daripada rencana pencairan bailout berikutnya senilai 33 miliar euro sehingga sentimennya cukup positif. "Karena itu, rupiah sempat mencapai level terkuatnya 9.620 dengan level terlemah 9.635 dari posisi pembukaan 9.630 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (14/11/2012).

Kurs rupiah $ terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (14/11/2012) ditutup stagnan pada level 9.630/9.635 di tengah pelemahan dolar AS terhadap euro dan mata uang utama.

Tapi, Firman menengarai, jumlah tersebut hanya merupakan gabungan dari pencairan lainnya. Pencairan bailout Yunani berikutnya sebanyak 33 miliar euro. "Tapi, karena pencairan tersebut sudah tertunda dalam beberapa bulan, Jerman menginginkan untuk memberikan lebih dari angka tersebut akibat dari penundaan waktu tersebut," ujarnya.

Laporan tersebut, diperkuat oleh pernyataan dari Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schauble bahwa rencana bailout Yunani sedang didiskusikan tapi belum ada keputusan final. "Mesipun belum finanl, sentimennya cukup positif setelah pasar cukup khawatir dengan tertundanya pencairan dana bailout Yunani," ungkap dia.

Meksi begitu, pasar belum tahu kapan dana tersebut akan cair. Apalagi, International Monetary Fund (IMF) dan Euro Group belum menemukan kesepahaman atas rencana terbaik untuk membantu Yunani dalam mencapai target pemangkasan rasio utangnya.

Komentar dari salah satu petinggi The Fed Janet Yellen tadi pagi juga bisa meredam penguatan dolar AS. "Terutama setelah Yalen menegaskan tidak adanya ancaman inflasi dari kebijakan Quantitative Easing (QE) tahap ketiga," tuturnya.

Tapi, lanjutnya, rupiah hanya stagnan di level lemah. Sebab, bagaimanapun pasar tetap khawatir dengan ancaman resesi di zona euro terutama setelah kemarin data sentimen ekonomi Jerman dan Eropa memburuk. "Apalagi, pasar juga menanti serangkaian data Produk Domestik Bruto (PDB) dari zona euro," paparnya.

Sentimen ekonomi Jerman dirilis -15,7 untuk November 2012 dari prediksi -9,9 dan angka sebelumnya -11,5. PDB Eropa diprediksi mengalami kontraksi untuk dua kuartal berturut-turut sehingga jatuh resesi. "PDB Eropa yang akan dirilis besok diprediksi -0,2% dari kuartal sebelumnya di level yang sama," tegas Firman.

Apalagi, hasil lelang obligasi Yunani kemarin tidak begitu positif. Pada lelang kemarin, Yunani hanya mendapatkan dana sebesar 4,6 miliar euro dari target 5 miliar euro. Meskipun, dari sisi yield obligasi mengalami penurunan ke 4,2% dari sebelumnya 4,24%. "Dari sisi yield tak masalah tapi karena jumlahnya masih kurang untuk membayar obligasi yang jatuh tempo pada Jumat, 16 November 2012 sentimennya jadi negatif," timpal dia.

Alhasil, rupiah stagnan meskipun dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke 81,035 dari sebelumnya 81,084. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,2731 dari sebelumnya US$1,2702 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Purwoko Sartono, analis Panin Securities mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) pada perdagangan terakhir pekan ini menjelang libur panjang berhasil ditutup menguat 19,2 poin (0,44%) ke level 4.351,284. "Menguatnya indeks didorong oleh aksi beli pada saham second liner menjelang penutupan," katanya.

Investor regional, menurut dia, juga tampak merespons positif spekulasi bahwa Spanyol akan segera meminta dana bantuan (bailout). "Dan, kabar ini juga yang menekan turun yield obligasi Spanyol," tandas Purwoko.

Selain itu, lanjutnya, berita berakhirnya pertemuan partai berkuasa di China untuk memilih pemimpin baru juga direspons positif oleh pelaku pasar. "Pasar melihat tidak ada perubahan kebijakan ekonomi yang signifikan pascaperubahan pemimpin di China," imbuhnya.

Komentar

Embed Widget
x