Find and Follow Us

Minggu, 26 Januari 2020 | 15:28 WIB

Pasar Ingin Lihat Outlook Fiskal AS Pasca-Pilpres

Oleh : Ahmad Munjin | Selasa, 6 November 2012 | 18:55 WIB
Pasar Ingin Lihat Outlook Fiskal AS Pasca-Pilpres
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG menguat tapi rupiah bergeming di level lemah. Pasar wait and see atas Pemilu Presiden AS. Pasar ingin melihat outlook kebijakan fiskal AS pascaagenda demokrasi itu.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, bergemingnya nilai tukar rupiah di level lemah salah satunya dipicu oleh investor yang masih berhati-hati sambil menanti hasil pemilu presiden AS besok pagi waktu Indonesia. Pasar ingin melihat outlook kebijakan fiskal di AS pascapilpres.

Rakyat AS, juga tidak hanya disibukkan dengan pemilihan presiden dan wakil presiden. Namun juga pemilihan anggota Kongres AS, yang terdiri atas DPR dan Senat AS, serta pemilihan 13 gubernur baru. "Karena itu, rupiah ditutup pada level terlemahnya setelah menguat ke 9.620 dari posisi pembukaan di level terlemahnya itu," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (6/11/2012).

Kurs rupiah $ terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (6/11/2012) ditutup stagnan di level lemah 9.630/9.635.

Pasalnya, Firman menegaskan, pasar ingin melihat apakah hasil pemilu ini akan memberikan perubahan kekuatan peta politik di Washington hingga bisa membantu pemulihan ekonomi AS.

Pada saat yang sama, pasar tidak melihat adanya katalis positif untuk meredam pelemahan rupiah di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditunjukkan oleh anjloknya Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia jadi 6,17% (year on year) pada kuartal III-2012 dibandingkan kuartal sebelumnya 6,4%. "Padahal, sentimen global sebenarnya positif terutama dengan dipertahankannya suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) di level 3,25%," ungkapnya.

Tapi, bagaimanapun pasar juga cenderung berhati-hati jelang penantian keputusan parlemen Yunani terhadap kebijakan penghematan anggaran, pada Rabu besok. "Hingga hari ini parlemen Yunani masih bersidang. Masalahnya adalah Serikat Pekerja di Yunani kembali melakukan aksi mogok kerja sebagai wujud protes atas kebijakan yang diajukan oleh pemerintah kepada parlemen," imbuhnya.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 80,777 dari sebelumnya 80,749. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,2775 dari sebelumnya US$1,2795 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Purwoko Sartono, analis Panin Securities mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) Selasa (6/11/2012) ini ditutup menguat tipis 11,326 poin (0,26%) ke posisi 4.314,265 setelah sepanjang perdagangan bergerak mixed di antara area positif dan negatif. "Pergerakan indeks global diwarnai oleh beralihnya fokus investor pada pemilu Presiden AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (6/11/2012).

Investor di AS, kata dia, lebih memilih untuk wait and see sebelum pemilu presiden yang akan digelar nanti malam. "Data historikal menyebutkan dalam 4 pilpres terakhir siapapun pemenangnya, baik incumbent maupun penantangnya, bursa akan tetap naik setelah pilpres," papar dia.

Di samping pilpres, lanjut Purwoko, investor juga masih dilanda kekhawatiran akan kondisi krisis utang di Eropa yang belum kunjung membaik. "Perdana Menteri Yunani pekan ini akan meminta persetujuan parlemen untuk memenuhi persyaratan mendapatkan dana bantuan," ujarnya.

Sementara dari dalam negeri, menurut dia, dengan gagal tercapainya target pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2012, yang juga di bawah kuartal sebelumnya menjadi katalis negatif bagi pergerakan indeks. "Diperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini akan gagal mencapai target pemerintah sebesar 6,5%," imbuhnya.

Komentar

x