Find and Follow Us

Minggu, 26 Januari 2020 | 21:37 WIB

SMMT Jajaki Trading Sebagai Awal Bisnis Batu Bara

Oleh : Agustina Melani | Kamis, 13 September 2012 | 16:54 WIB
SMMT Jajaki Trading Sebagai Awal Bisnis Batu Bara
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Manajemen PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) menjajaki perdagangan, sebagai awal bisnis tambang batu bara.

"Bisnis trading karena kami mempunyai konsesi di dua lokasi yaitu Kalimantan Timur dan Sumatra Selatan. Meskipun marjin trading tipis tapi kami memiliki patokan untuk marjin minimal tergantung harga batu bara," ujar Direktur Utama PT Golden Eagle Energy Tbk Hendra Surya, Kamis (13/9/2012).

Menurutnya, tambang Triayani berproduksi cukup besar di wilayah tambang Sumatera Selatan. Perseroan menargetkan produksi batu bara dari tambang tersebut sekitar 1 juta ton pada 2013. Bila ada kelebihan produksi batu bara, perseroan menjajaki bisnis trading.

Saat ditanya mengenai kinerja 2012, Hendra menuturkan, pendapatan sekitar Rp28 miliar pada 2012. Hingga Agustus 2012 setelah akuisisi tambang, perseroan meraih pendapatan Rp18,77 miliar dan laba komprehensif masih rugi sekitar Rp0,69 miliar. Aset perseroan mencapai Rp470,24 miliar hingga Agustus 2012. Sementara itu perseroan mencatatkan ekuitas sebesar Rp418,16 miliar hingga Agustus 2012.

Pihaknya pun optimis terhadap kinerja perseroan pada 2012 meski industri batu bara sedang kurang baik. Pihaknya akan mengendalikan stripping ratio dan jarak angkut over budden dipersingkat.

International Prima Coal (IPC) memiliki jumlah cadangan 11 juta ton yang dapat beroperasi 7-8 tahun mendatang dengan kalori 4.200-5.300 kkal.

IPC mengharapkan dapat mencatatkan kapasitas produksi 1 juta ton, dan mencapai lebih dari 2 juta ton dalam dua tahun mendatang. Volume penjualan hingga Agustus 2012 telah mencapai 583,83 ribu ton dari 370,72 ribu ton pada tahun sebelumnya.

Sedangkan, Triaryani memilii sumber daya batu bara mencapai 384 juta ton dengan cadangan 242 juta ton. Menurut Hendra, Triaryani memiliki formasi batu bara yang sangat tebal dengan aset Rp155,86 miliar hingga Agustus dari Rp88,79 miliar.

Selain itu, manajemen perseroan mengklaim kedua tambang tersebut tidak memiliki masalah dalam pengembangannya. "IPC sudah clean and clear tahap pertama. Tambang yang sudah ada bebas dari hukum dan tidak ada tumpang tindih," kata Hendra.

Selain itu, perseroan sedang menyelesaikan pelepasan seluruh segmen usaha restoran dan hiburan dengan brand Amigos dan Papa Rons karena kegiatan perseroan akan fokus di sektor pertambangan."Status pelepasan masih berjalan karena ada hal yang harus dipenuhi oleh pembeli. Proxit pelepasan tidak besar sekitar Rp3 miliar-Rp3,5 miliar," tutur Hendra. [ast]

Komentar

x