Find and Follow Us

Rabu, 23 Oktober 2019 | 08:43 WIB

Data Australia-Eropa Negatif, Rupiah Konsolidasi

Oleh : Ahmad Munjin | Rabu, 5 September 2012 | 17:15 WIB
Data Australia-Eropa Negatif, Rupiah Konsolidasi
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (5/9/2012) ditutup stagnan pada level 9.560/9.580.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, konsolidasinya rupiah dan sempat melemah ke 9.590 per dolar AS karena masih didominasi oleh kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi global. Terutama, setelah Produk Domestik Bruto (PDB) Australia untuk kuartal II-2012 dirilis lebih rendah dari prediksi 0,7% ke level 0,6% dan jauh lebih rendah dari angka kuartal sebelumnya 1,4%.

Artinya, Firman menegaskan, PDB Australia merosot lebih dari setangahnya. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.590 setelah mencapai level terkuatnya 9.560 dari posisi pembukaan 9.580 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (5/9/2012).

Selain itu, tekanan negatif dati dari masih lemahnya aktivitas sektor jasa zona euro. Indeks PMI sektor jasa zona euro kembali tergelincir ke 47,2 dari prediksi 47,5 dari angka sebelumnya di level yang sama.

Begitu juga dengan penjualan ritel zona euro yang juga masih negatif ke angka -0,2% sesuai prediksi tapi masih lebih rendah dari angka sebelumnya 0,1%.

"Artinya, walaupun market bisa mengharapkan intervensi pasar obligasi dari European Central Bank (ECB), tapi bagaimanapun pasar harus realistis menghadapi perlambatan ekonomi global terutama dengan ancaman resesi di zona euro," ungkap dia. Sebab, data-data yang dirilis belakangan ini menunjukkan lemahnya aktivitas ekonomi di zona euro.

Berlanjutnya konsolidasi pasar juga karena momentum jelang rapat ECB besok malam, Kamis (6/9/2012). Selain itu, pasar mendapat tekanan negatif dari Menteri Keuangan Jerman yang mengatakan, masalah zona euro belum akan selesai dalam waktu dekat.

Euforia pasar juga berkurang atas ekspektasi intervensi pasar obligasi oleh ECB. "Walaupun Presiden ECB Mario Draghi mengambil kebijakan bisa membeli obligasi hingga tenor 3 tahun, tapi kebijakan itu mungkin akan memiliki syarat yang cukup berat sehingga menghambat pengaktifan kebijakan intervensi dari negara yang bermasalah seperti Spanyol dan Italia," tuturnya.

Hal tersebut masih bersifat rumor, dan pasar pun sebenarnya belum tahu seperti apa sayaratnya. Tapi juga, perkembangan yang beredar adalah keungkinan International Monetary Fund (IMF) diikutsertakan dalam program ECB tersebut. "Biasanya, tidak ada negara yang ingin meminjam dari IMF mengingat ketatnya persyaratan yang sering diajukan oleh IMF. Dalam kaitan ini, IMF mungkin hanya bersifat monitoring," ungkap Firman.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 81,600 dari sebelumnya 81,312. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,2512 dari sebelumnya US$1,2564 per euro," imbuh Firman.

Komentar

Embed Widget
x