Find and Follow Us

Jumat, 22 November 2019 | 09:18 WIB

Komitmen China atas Eropa, Pasar Tetap Tiarap

Oleh : Ahmad Munjin | Kamis, 30 Agustus 2012 | 19:05 WIB
Komitmen China atas Eropa, Pasar Tetap Tiarap
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG melemah dan rupiah stagnan. Meski pasar sambut positif komitmen China atas obligasi Eropa, profit taking terjadi jelang Jackson Hole Symposium besok.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah berhasil diredam seiring merebaknya optimisme terhadap kondisi di Eropa. Pasalnya, tadi siang Perdana Menteri China Wen Jiabao mengutarakan keinginan China untuk membeli obligasi Eropa.

Selain itu, lanjutnya, lelang obligasi Italia cukup bagus dengan penurunan yield ke 5,82% dari sebelumnya 5,96% untuk tenor 10 tahun. Begitu juga dengan rasio bid-to-cover yang naik jadi 1,4 kali dari lelang sebelumnya 1,3 kali. "Karena itu, setelah sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.580 kembali ditutup pada level terkuatnya 9.540 dari posisi pembukaan 9.560 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (30/8/2012).

Kurs rupiah $ terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (30/8/2012) ditutup stagnan pada level 9.540/9.550.

Dari sisi domestik, lanjut Firman, rupiah mendapat sentimen positif dari komentar Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati yang menyatakan belanja modal pemerintah naik hingga Agustus 2012 dibandingkan tahun sebelumnya. Per 23 Agustus 2012, belanja modal pemerintah naik jadi Rp49,6 triliun dari tahun sebelumnya (per 23 Agustus 2011) yang mencapai Rp34,5 triliun.

Tapi bagaimanapun juga, Firman menggarisbawahi, pasar masih sulit melihat penguatan rupiah seiring sedikit berkurangnya harapan terhadap sinyal Quantitative Easing (QE) tahap ketiga dari The Fed, saat Gubernur Ben Bernanke memberikan pidatonya pada Jackson Hole Symposium besok.

Apalagi, kata dia, data-data AS yang dirilis pekan ini cukup positif. Antara lain, Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang naik ke 1,7% sesuai ekspektasi dari sebelumnya 1,5% untuk revisi ketiga kuartal II-2012. "Kondisi ini, berhasil mengurangi harapan pasar atas QE tahap ketiga sehingga dolar AS masih tetap kokoh," timpal dia.

Firman menegaskan, walaupun Bernanke besok menggulirkan stimulus, tidak akan eksplisit menyatakan kemungkinan QE ketiga dalam waktu dekat. "Sebab, minutes The Fed yang terakhir juga menunjukkan bahwa bank sentral hanya akan mengambil tindakan jika ekonomi AS benar-benar memburuk. Masalahnya, PDB AS justru dirilis lebih baik," tuturnya.

Pada saat yang sama, lanjut Firman, kekhawatiran juga merebak terhadap meningkatnya inflasi dan memburuknya kinerja ekspor Indonesia lebih lanjut. "Kekhawatiran ini akan mendapat jawaban pada rilis Badan Pusat Statistik (BPS) awal September mendatang," ungkap dia. Karena itu, meski dolar AS melemah terhadap euro, tapi ditutup stagnan terhadap rupiah.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke 81,459 dari sebelumnya 81,549. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,2553 dari sebelumnya US$1,2529 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, posisi penutupan Hang Seng Index (HSI) susah untuk dikatakan positif. "Memang ditutup di atas level psikologis 19.500, tapi di bawah gap 19.600 sekian," ujar dia di Jakarta, Kamis (30/8/2012).

Sementara itu, gap IHSG di 4.015-4.033 sedang dicoba batas bawahnya. "Sejauh ini, IHSG sepertinya bakal ditutup di atas support batas bawah. Jadi signalnya relatif netral. Padahal, malah bisa positif kalau ditutup di atas 4.033," ujarnya.

Pada perdagangan Kamis (30/8/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup melemah 67,59 poin (1,65%) ke angka 4.025,583.

Pada saat yang sama, saham BUMI hari ini mengindikasikan death cat bounce. "Resistance di Rp715 enggak mampu ditembus. Artinya, krisis BUMI masih belum selesai. Peluang BUMI untuk kembali muntah darah, masih terbuka," timpal dia.

Pagi tadi, Satrio mengaku cut loss. Kerugiannya ternyata agak terlalu besar karena saham yang dipegangnya mengalami gap down. "Bagusnya, level harga terakhir masih di bawah harga saya jual. Jeleknya? Kalau ternyata IHSG ditutup di atas 4.033, berarti besok saya terpaksa buyback," papar dia.

Sekarang, pasar tinggal melihat ke arah Dow Jones Industrial Average (DJIA) nanti malam melaju. "Mudah-mudahan pasar Amerika juga sadar bahwa The Fed tidak akan menggulirkan stimulus pada Jackson Hole Symposium besok," imbuh Satrio.

Komentar

Embed Widget
x