Find and Follow Us

Sabtu, 16 November 2019 | 08:24 WIB

Bursa Saham Tergantung Ketajaman Insting Investor

Oleh : Bastaman | Selasa, 12 Juni 2012 | 04:07 WIB
Bursa Saham Tergantung Ketajaman Insting Investor
inilah.com/wirasatria
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Untuk kesekian kalinya, ramalan yang dilontarkan para analis saham melenceng jauh. Pada perdagangan Senin (11/6), yang diprediksi bakal melemah oleh aksi profit taking, terbukti malah sebaliknya. Transaksi berlangsung meriah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) melesat 40,89 poin (1,07%) ke level 3.866,21.

Tak hanya di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemeriahan juga terlihat di bursa Hong Kong, Korea, dan Jepang. Di Hong Kong misalnya, indeks Hang Seng menguat 2,44%. Kenaikan juga dicatat indeks Kospi (1,71%), Nikkei (1,96%), dan Straits Times (1,82%). "Ada sejumlah sentimen positif yang membuat bursa di Asia bergairah," kata Kiswoyo Adi Joe, analis Askap Future.

Salah satunya adalah kucuran dana talangan sebesar US$125 miliar dari IMF untuk menyelamatkan bank-bank Spanyol. Faktor lainnya adalah mulai menggeliatnya perekonomian Cina. Selama Mei, negeri tirai bambu itu berhasil mencatatkan kenaikan ekspor 15,3%. Penjualan mobil di China juga mencatat pertumbuhan 22% lebih. Sementara di dalam negeri besar kemungkinan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI rate di level 5,75%.

Lantas, apa yang akan terjadi sepanjang pekan ini? Beragam pendapat bermunculan. Mereka masih optimis bahwa bursa masih akan bullish. Harapan serupa juga dilontarkan Kiswoyo. Hanya saja, kalau pun perkiraan itu benar, penguatan indeks akan sangat terbatas. Ini sangat rasional, sebab setelah Senin ini indeks menguat cukup tinggi, besar kemungkinan investor akan melakukan aksi ambil untung. "Hanya soal waktu saja," katanya.

Tidak mudah bagi investor untuk menyiasati pasar yang sarat dengan ketidakpastian seperti ini, memang. Kata seorang analis dari PT Kresna Securities, semuanya tergantung pada ketajaman insting masing-masing untuk menebak kapan saat tepat untuk melakukan koleksi. Terutama bagi pemodal yang memiliki horizon jangka pendek. "Tapi saat ini masih merupakan waktu untuk membeli. Sebab, harga saham di bursa relatif murah," katanya.

Nah, kalau melihat pulihnya perekonomian China dan Amerika, beberapa analis menyarankan pemodal membeli saham-saham pertambangan. Rekomendasi dari Kiswoyo tak jauh berbeda. Hanya saja, ia menambahkan saham-saham dari sektor barang-barang konsumsi. Alasannya sederhana, tidak lama lagi Juli sebagian besar masyarakat Indonesia akan menunaikan ibadah puasa dan merayakan Idulfitri. Biasanya, pada saat itu konsumsi masyarakat naik pesat. [mdr]

Komentar

Embed Widget
x