Find and Follow Us

Kamis, 14 November 2019 | 05:06 WIB

Tengok China di Ambang Resesi?

Oleh : Restu A Putra | Minggu, 20 Mei 2012 | 18:02 WIB
Tengok China di Ambang Resesi?
IST
facebook twitter

INILAH.COM, Beijing - Krisis utang Yunani yang ditakutkan banyak orang, ternyata masih kalah dengan ancaman ekonomi China yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi global.

Pandangan tersebut disampaikan editor dan penerbit laporan Boom and Doom, Marc Faber. "Saya rasa risiko terbesar sebenarnya adalah China, ekonomi Yunani sebenarnya tidak signifikan. Pasar tahu bahwa Yunani terlilit utang dan berpotensi bangkrut," katanya, demikian mengutip cnbc.com akhir pekan ini.

Dalam mengatasi masalahnya, Yunani mendapat dukungan dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan penerimaan pajak. Namun untuk China, dengan ekonomi terbesar kedua, goncangan ekonomi akan memiliki dampak besar terhadap harga industri komoditas.

"Pada akhirnya akan memiliki dampak besar terhadap perekonomian di negara Brazil, Timur Tengah, Asia Tengah, Africa dan Australia. Sehingga ekonomi negara-negara tersebut akan ikut melambat," tegasnya.

Faber beralasan, perekonomian China sangat tergantung pada belanja modal. Faktor ini cenderung bersifat labil dan memiliki multiplier efek yang kuat terhadap perekonomian.

Tragedi perlambatan ekonomi di China dapat menimbulkan dampak yang menyakitkan bagi pertumbuhan produk domestik semua negara. Pasalnya China telah menyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar di ekonomi global.

Dana Moneter Internasional (IMF) pun awal tahun ini memprediksikan kontribusi perekonomian China terhadap ekonomi global sepanjang 2010-2013 diharapkan mencapai 31 persen atau naik 8 persen di tahun 1980.

Saat ini investasi portofolio terkonsentrasi di Asia. Tahun lalu beberapa sektor dalam ekonomi China sudah mengalami resesi. Data tiga bulan pertama tahun ini, perekonomian China melambat. Tetapi tidak hard landing. China mencatat pertumbuhan terlemah dalam tiga tahun terakhir di kuartal pertama dengan PBD di 8,1 persen.

Namun para ahli menilai sektor listrik dan kereta api menunjukan perlambatan ekonomi China yang jauh lebih parah dari angka PDB.

Kekhawatiran terhadap ekonomi global telah membebani pasar saham. Indeks tidak akan dapat mengulang penguatan tertinggi yang diraih pada bulan April. Tetapi masih ada peluang untuk rebound 5%. [hid]

Komentar

Embed Widget
x