Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 00:05 WIB

Krisis dan Perlambatan Global Ganduli Pasar

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 4 Mei 2012 | 18:55 WIB
Krisis dan Perlambatan Global Ganduli Pasar
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG dan rupiah kompak melemah. Pasar kembali diganduli kecemasan krisis dan perlambatan global setelah berbagai data manufaktur yang dirilis di bawah garis kontraksi.

Analis senior Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, sangat nyata terlihat, rupiah melemah seiring pelemahan mata uang utama lainnya seperti euro, poundsterling, swis franc dan dolar Australia terahdap dolar AS. Termasuk juga pelemahan bursa saham regional.

Kondisi itu, lanjutnya, dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap krisis global seiring krisis utang Uni Eropa. Sekarang fokus pasar adalah Spanyol yang mulai terimbas masalah utang. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.205 setelah mencapai level terkuatnya 9.195 dari posisi pembukaan 9.195 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (4/5/2012).

Kurs rupiah $ di pasar spot valas antar bank Jakarta,Jumat (4/5/2012) ditutup melemah 5 poin (0,05%) ke angka 9.200/9.225 dari posisi kemarin 9.195/9.205.

Di sisi lain, pasar juga mencemaskan perlambatan ekonomi global yang dipicu oleh faktor fundamental. "Mencuatnya isu perlambatan ekonomi, dimotori oleh perlambatan di sektor manufaktur di kawasan Eropa, AS dan China," ujarnya.

Daru menjelaskan, untuk kawasan Eropa seperti Swis, Italia, Jerman dan Perancis, indeks manufaktur anjlok hingga pada level kontraksi di bawah 50. Bahkan, lanjut Daru, indeks sektor jasa (Service PMI) pun mengalami angka yang anjlok.

PMI Manufacturing Index untuk zona euro dirilis turun ke 45,9 untuk April 2012 dari bulan sebelumnya 46 dan ekspektasi di angka yang sama. Indeks Service PMI zona euro juga dirilis turun jadi 46,9 dari 47,9 dan prediksi di angka 47,9.

Dia menegaskan, isu perlambatan ekonomi jadi mendunia. Sebab, rapuhnya manufaktor Eropa juga diperparah oleh perlambatan manufaktur dari AS dan China meskipun angkanya masih di atas angka level kontraksi 50.

Indeks nonmanufaktur AS turun jadi 53,5 dari sebelumnya 56 dan prediksi 55,5. Begitu juga dengan manufaktur China yang merupakan ekonomi terbesar kedua setelah AS.

Meski indeks manufakturnya naik jadi 49,3 dari angka sebelumnya 49,1, angka manufaktur China ini masih di bawah patokan kontraksi 50. Pada saat yang sama, indeks nonmanufaktur China justru turun jadi 56,1 dari sebelumnya 58,4. "Tapi, angka ini masih di atas area kontraksi. Artinya, masih ada peningkatan," timpalnya.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 79,26 dari sebelumnya 79,19. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,3130 dari sebelumnya US$1,3152 per euro," imbuh Daru.

Dari bursa saham, analis dari Equator Securities Gina Novrina Nasution mengatakan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) sebesar 7,32 poin (0,17%) ke angka 4.216,681 dipicu oleh profit taking jelang akhir pekan. "Pada saat yang sama bursa regional juga mengalami pelemahan," ujarnya.

Hanya saja, pelemahan IHSG tidak sedalam bursa regional. Pelemahan indeks ditahan oleh rilis kinerja emiten untuk kuartal I-2012. "Selain itu, pasar merespon positif tiadanya pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk mobil dengan cc tertentu," ujarnya.

Karena itu, lanjut Gina, pasar melihat inflasi akan terkendali. Paling tidak, hingga akhir semester pertama 2012, inflasi terkendali dan suku bunga tidak akan mengalami perubahan dari level saat ini 5,75%. "Karena itu, net interest margin yang didapat investor masih positif," imbuhnya.

Komentar

Embed Widget
x