Selasa, 30 September 2014 | 17:22 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Inilah Saham Big Cap Paling Ideal di Sektornya
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Asteria
pasarmodal - Senin, 16 Agustus 2010 | 15:19 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta Demi mengisi portfolio dengan saham ideal, beberapa indikator harus menjadi perhatian dan pertimbangan investor. Inilah cara mencari emiten berkapitalisasi terbesar yang paling ideal di sektornya.

Yuganur Wijanarko, Senior Research HD Capital menyarankan beberapa emiten untuk portofolio investor. Terutama saham berkapitalisasi pasar terbesar yang paling ideal di sektornya untuk alasan sustainability perusahaan.

Selain faktor likuiditas, pemain asing lebih menyukai big cap ketimbang small cap. Status sebagai perusahaan BUMN juga bisa menjadi plus faktor untuk safety, katanya dalam riset yang dipublikasikan, Senin (16/8).

Dari sektor consumer, Yuga menyarankan saham PT Astra International (ASII) dan PT Indofood (INDF). Sedangkan dari sektor batubara, direkomendasikan PT Adaro Energy (ADRO), kemudian saham tambang logam PT International Nickel (INCO) dan dari CPO adalah PT Astra Agro Lestari (AALI).

Demikian pula saham perbankan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham sektor telco PT Telkom (TLKM), saham infrastruktur PT Gas Negara(PGAS), saham semen PT Indocement (INTP) dan saham properti PT Bumi Serpong Damai (BSDE).

Untuk sektor perbankan, Yuga menyarankan investor memilih satu bank BUMN, dan satu bank swasta dengan market kapitalisasi terbesar untuk dimasukkan ke portofolio. Juga mencermati emiten murah sekaligus menguntungkan. Saham yang murah dapat diketahui melalui metode valuasi PER/PBV yang semakin rendah.

Meskipun secara praktek lebih baik mencari yang untung, yakni dengan ROE dan NPM tinggi. Pasalnya, indikasi ini menandakan kredit macet semakin rendah, katanya.

Menurutnya, semakin besar utang (DER), semakin besar loan portfolio. BMRI dan BBNI memiliki jumlah loan portofolio yang sama, namun ROE/NPM BMRI yang jauh lebih tinggi dari BBNI menandakan kredit macet sedikit lebih besar di BBN, ujarnya.

Sedangkan valuasi BBKP jauh lebih murah dari BBRI, namun ROE/NPM perseroan lebih tinggi dengan loan portofolio lebih kecil. Hal ini menandakan BBRI lebih efisien dalam manajemen utang portofolionya ketimbang BBKP.

Loan portofolio terbesar (dilihat dari DER) adalah BJBR dengan ROE terbesar (22%). Adapun bank paling efisien dalam keuntungan margin dari loan portofolionya adalah BBCA dengan NPM 2009 sekitar 27%. Secara valuasi PER/PBV09 yang paling murah adalah BBKP, namun NPM 2009 terkecil, ucapnya.
Berbeda dengan sektor tambang, terutama batubara yang tidak masalah meskipun mahal. Ia pun merekomendasikan emiten dengan kapitalisasi market terbesar, dimana minat asing paling banyak. Sementara emiten dengan kapitalisasi kecil lebih mudah terkena 'market cornering'. "Valuasi PER/PBV mahal bukan masalah asalkan ROE/NPM di atas 20%. Selain mempunyai utang rendah (DER dibawa 2 kali) agar potensi future capex besar, katanya.
Walaupun valuasi PER/PBV murah, ia menilai sebaiknya investor jangan memilih yang berutang besar (di atas 2 kali) karena akan menghambat proses dana untuk operasional dan expansi tambang. "Kecuali ada skenario di masa depan untuk mengurangi utang tersebut melalui berbagai corporate action."
ucapnya.
Saham tambang ini pun sebaiknya lebih diutamakan yang fokus ke pemakai end user domestik & fixed kontrak. Hal ini agar tidak rentan terhadap fluktuasi harga batubara dan turunnya permintaan ekspor.
Bila dilihat dari kacamata valuasi, market cap dan profitabilitas, maka ADRO memang merupakan pilihan utama. Namun bila mencari yang untung (ROE/NPM besar) dan tidak mempermasalahkan valuasi, maka ITMG dan PTBA adalah jawabannya, paparnya.

Sedangkan dalam memilih emiten properti, Yuga menyarankan investor melihat profitabiltas dibandingkan valuasi. Untuk profitabilitas (ROE/NPM) yang tinggi, ada pada saham DILD yang memiliki ROE/NPM sebesar 13%/49%, BSDE (15%/30%) dan ASRI (12%/31%). Sementara dengan valuasi murah (PBV dan NAVS/saham), bisa memilih BKSL dan ELTY, yang masing-masing memiliki PBV dan NAV 0,84 kali/Rp155 dan 0,9 kali/Rp301, ujarnya.

Sektor CPO yang cenderung kurang likuid, menyebabkan asing memilih emiten dengan kapitalisasi pasar besar, infrastuktur untuk processing dan transportasi ke pengguna (end user) yang lengkap, serta nama yang dikenal seperti LSIP dan AALI. Walaupun secara valuasi PER/PBV, kedua emiten ini terlihat mahal, katanya.

Sedangkan struktur utang rendah, dengan DER dibawah 1 kali, akan mempermudah capex. Ini berarti ada potensi pada saham AALI yang memiliki DER 2009 0,24 kali, kemudian LSIP (0,32 kali), BWPT (0,7 kali), GZCO (0,8 kali) dan SGRO (0,36 kali).

Untuk sektor consumer, saham pilihannya berasal dari dua bidang, yakni consumer non-durable dan non-durable. Jenis pertama bergerak di bidang makanan (INDF) dan sabun detergen (UNVR). Sedangkan non-durable adalah mobil (ASII) dan retailer seperti Ramayana (RALS). Namun, saham dengan market cap terbesar di sektor tersebut adalah ASII, UNVR, GGRM, HMSP dan INDF, katanya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.