Sabtu, 25 Oktober 2014 | 22:16 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Isu Akuisisi di Bawah Harga Pasar, 'Sell' AGRO
Headline
IST
Oleh: Natascha & Asteria
pasarmodal - Rabu, 14 Juli 2010 | 09:03 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta Berkembang spekulasi bahwa akuisisi PT Bank Agroniaga (AGRO) oleh PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) akan dilakukan di bahwa harga pasar. Rekomendasi sell untuk AGRO dan buy untuk BBRI.

Yuganur Widjanarko dari HD Capital mengatakan, ada spekulasi di pasar bahwa akuisisi Bank Agro oleh BBRI akan dilakukan di Rp174, dari posisi saat ini Rp215 per lembarnya. Yuga pun menyarankan para investor yang sudah memiliki saham AGRO untuk melepas kepemilikannya.

Terutama karena kenaikannya sudah cukup fantastis, yakni dari Rp174 an ke level tertinggi kemarin di Rp230, Sebaiknya investor jual AGRO dulu karena kemungkinan ada deal di bawah harga pasar, katanya kepada INILAH.COM.

Disebutkan, manajeman BBRI akan melakukan transaksi akusisi di harga normal, yang tidak mungkin di atas harga pasar. Harga normal perhitungan pasar adalah rata-rata harga saham AGRO dua pekan terakhir, yang jatuh di kisaran Rp174. Jadi tidak mungkin di atas Rp200, karena angka ini mencerminkan dua kali di atas book value saham AGRO yang mencapai Rp105.

Menurut Yuga, kesepakatan yang dibuat tidak mungkin di atas Rp200, karena mahal bagi pemerintah (BBRI). Meski perseroan sudah menyiapkan dana sebesar Rp2,5 triliun, tapi dana tersebut tidak hanya untuk akuisisi satu bank. Bisa saja nanti digunakan untuk akuisisi bank lain, ujarnya.

Seperti diketahui, akuisisi Bank Agro oleh BRI dilakukan dengan mengambil alih semua saham yang ditawarkan pemegang saham lama. Saat ini, sekitar 97% saham Bank Agro dikuasai Dana Pensiun Perkebunan, sedangkan 3,3% dimiliki publik.

BBRI menargetkan penyelesaian akuisisi atas AGRO pada Agustus mendatang dengan porsi penguasaan mencapai 80%. Untuk melancarkan rencana itu, perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Agustus 2010.

Sedangkan untuk BBRI, Yuga masih memberi rekomendasi positif. Walaupun valuasi PER/PBV 2009 tidak murah, namun secara operasional, BBRI mempunyai return of equity (ROE 2009) tertinggi diantara competitor mikro UKM lainnya, seperti BJBR, BBTN, BBKP & SDRA.
Rekomendasi beli dengan target harga sebulan mencapai Rp11.000, katanya.

Sebelumnya, analis Samuel sekuritas Joseph Pangaribuan juga menyarankan saham BBRI. Meskipun estimasi selanjutnya masih menunggu kinerja semester pertama 2010 dan kepastian manajemen mengenai revisi pertumbuhan. Maintain buy untuk BBRI,katanya.

BBRI berencana mengakuisisi beberapa bank tahun ini dengan dana akuisisi Rp2 triliun, hasil penerbitan subdebt. Satu bank yang telah pasti masuk rencana akuisisi adalah Bank Agroniaga (AGRO) dimana rencananya BBRI akan mengakuisisi 70%-80% saham AGRO.

BBRI akan mengakuisisi 80% saham AGRO untuk mengkompensasi penambahan saham AGRO sebanyak 502.57 juta pascaexcersice waran tahun depan, sehingga kepemilikan tahun depan menjadi 70%, sesuai dengan keinginan manajemen.

Dengan asumsi harga akuisisi PBV 1.7 kali, maka dana yang akan dikeluarkan Rp549 miliar, yang berarti masih terdapat sekitar Rp1.5 triliun untuk mengakuisisi bank lain. Akuisisi ini tidak banyak berdampak banyak terhadap neraca dan laba rugi BBRI, katanya.

Menurut Joseph, dalam akuisisi bank, manajemen mengiginkan kepemilikan mayoritas pada bank yang diakuisisi. Selain itu, bank yang diakuisisi harus memiliki sinergi bisnis dan customer base yang relatif sama. Beberapa media menuliskan BBRI berencana mengakuisisi Bank Bukopin (BBKP).

BBKP dinilai memiliki kesamaan bisnis dengan BBRI terlihat dari mayoritas penyaluran kredit ke segmen UMKM. Berdasarkan harga akuisisi PBV 1.6 kali atau Rp820 per saham, maka dana yang akan dikeluarkan oleh BBRI mencapai Rp2.5 triliun. Kami melihat kekurangan ini dapat dipenuhi dari kas BBRI. Dalam perhitungan kami, asumsi akuisisi BBKP sebanyak 51% dan terealisasi tahun depan, paparnya.

Adapun BBRI masih berpotensi menaikkan target kreditnya, seiring revisi Bank Indonesia atas target pertumbuhan kredit 2010 menjadi 24%, ketimbang sebelumnya 17%-20%. Hal ini seiring perbaikan ekonomi yang tercermin dari petumbuhan kredit semester pertama 2010 sebesar 18.73% YoY.
Dengan posisi CAR kuartal pertama 2010 mencapai 14.3% (telah memperhitungkan subdebt Rp2 triliun), kami melihat BBRI masih memiliki ruang merevise up target kredit yang saat ini ditargetkan tumbuh 20%-25%,paparnya. [vin/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.