Minggu, 21 September 2014 | 21:06 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Cermati Penguatan Saham CPRO
Headline
Dok CPRO
Oleh: Susan Silaban
pasarmodal - Rabu, 23 Juni 2010 | 14:18 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta - Menggeliatnya saham PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) dalam tiga hari terakhir disinyalir terimbas sentimen revitalisasi tiga tambak plasma yang rampung tahun ini. Namun ada khabar sejumlah bandar tengah menggoreng saham ini.
Analis PT Lauthandana Securindo, Willy Sanjaya menelisik saham produsen udang ini sudah mengalami kenaikan sejak awal Juni 2010. Dimulai dari harga sahamnya menguat pada posisi Rp57 per saham hingga perdagangan sesi I menunjukan lonjakan 3,57% ke level Rp58.
Namun saya tidak mengetahui apakah kenaikan ini disebabkan para bandar sengaja menaikkan saham CPRO atau revitalisasi tambaknya yang sudah menunjukkan perbaikan, ujar Willy kepada INILAH.COM, Jakarta, Rabu (23/6).
Sekedar mengingatkan pada 15 Mei 2010 perseroan masih melanjutkan revitalisasi tambak plasma PT Aruna Wijaya Sakti (AWS), PT Centralpertiwi Bahari (CPB) dan PT Wachyuni Mandira (WM).
Willy melihat jika revitalisasi tambak CPRO sudah berjalan dan pemerintah memberikan dukungan finansial untuk melakukan perbaikan, saham ini akan menjanjikan. Revitalisasi akan membawa harga saham CPRO bisa menuju Rp100 per saham. Karena kemajuan teknologi peternakan udang makin hebat, asalkan areal peternakan tetap terjaga dengan air payaunya, bebernya.
Analis lain menyebutkan, menggeliatnya harga saham CPRO lantaran antisipasi Standstill Agreement CPRO yang akan berlaku efektif pada 28 Juni 2010 tentang pembayaran pinjaman pokok sebesar US$325 juta.
Standstill Agreement ini dengan ketentuan pemegang obligasi tidak akan melaksanakan hak mereka untuk mempercepat jatuh tempo pembayaran pinjaman pokok tersebut. Jadi jika perusahaan siap membayarnya, investor langsung bisa merespon harga sahamnya dengan membeli atau menjual, ujar analis yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, pelaku pasar membisikkan kenaikkan saham CPRO memang sengaja digoreng sejumlah bandar, namun faktor tersebut bukan menjadi penunjang kenaikan utama. Kenaikan terdorong induk perusahaannya, yakni PT Charoen Pokphan (CPIN) menuju level Rp3.600 lantaran permintaan tinggi akan pakan ternak di Thailand.
CPRO merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri dan perdagangan unggas, udang, dan makanan ikan. Melalui anak perusahaannya, perseroan juga mengelola pertenakan udang dan unggas, memproduksi dan menjual tas plastik tenunan serta alat-alat peternakan.
Berdasarkan data Dunia Investasi per Juni 2010 tercatat Danareksa Sekuritas (OD) paling aktif membeli saham CPRO. Pada 2 Juni 2010, awal mula investor lokal Danareksa membeli 110.000 lembar senilai Rp5.500.
Transaksi pembelian masih berlangsung hingga 22 Juni 2010. Transaksi pembelian terbanyak terjadi pada 18 Juni sebanyak 53,397 juta lembar saham senilai Rp3,483 juta sedangkan 22 Juni pembelian hanya sebanyak 7,841 juta lembar senilai Rp445,811.
Pada perdagangan Rabu (23/6), harga saham CPRO menguat Rp2 (3,57%) ke level Rp58 dengan volume sebesar 273.044 senilai Rp8,004 miliar. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
EFFENDI
Rabu, 6 April 2011 | 23:02 WIB
Menurut berita CPRO mengalami kerugian 635M di tahun 2010 dan 217M di tahun 2009, bagaimana dengan kenerja auditor yang mengijinkan perusahaan ini menjadi Tbk ?
anis
Rabu, 8 Desember 2010 | 06:23 WIB
saham CPRO BARU 3 HARI DIBUKA SUSPEND NYA SEKARANG DITUTUP LAGI., ADA APA IYA DGN COMPANY?
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.