Find and Follow Us

Jumat, 22 November 2019 | 02:29 WIB

Artha Graha

Dukung Food Estate Merauke

Oleh : Asteria & Ahmad Munjin | Senin, 15 Februari 2010 | 16:50 WIB
Dukung Food Estate Merauke
Istimewa
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Kelompok usaha Artha Graha Network melalui anak usahanya PT Sumber Alam Sutera (SAS) mendukung program pengembangan food estate di kawasan ekonomi khusus Kabupaten Merauke, Papua. PT SAS mendapatkan jatah pencadangan lahan seluas 2.500 ha di distrik Kurik, Kampung Obaka, Merauke. Sejak September 2008 lalu, kami telah melakukan uji coba penanaman padi hibrida Bernas Super, Prima dan Rokan, dengan hasil rata " rata 8,6 ton GKP (Gabah Kering Panen)/Ha, ujar Direktur PT SAS Heka Widya A Hertanto, kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.Menurut Heka, pihaknya saat ini terus mengembangkan luasan penanaman padi hibrida di wilayah tersebut. Selain mengembangkan areal tanam padi hibrida, PT SAS juga telah melakukan uji coba pengembangan penanaman kedelai, hortikultura dan peternakan sapi.Dengan segala kekurangan dan hambatan tehnis yang ada, kami saat ini terus berupaya mewujudkan food estate di Merauke, sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional, tegas Heka.Dalam jangka menengah, menurut Heka, PT SAS akan terus berupaya memperluas areal tanam padi hingga mencapai 10 ribu Ha. Target ini sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PP Nomor 18/2008 tentang Usaha Budidaya Tanaman. Dalam PP itu antara lain disebutkan pihak swasta dapat mengoperasikan lahan dengan luas maksimal 10 ribu ha. Lebih lanjut Heka menjelaskan, perusahaannya akan melakukan perluasan areal tanam secara bertahap. Sebab untuk mencapai luas tanam hingga 10 ribu ha dibutuhkan dana investasi sekitar Rp 1 triliun. Sebagian besar dari investasi tersebut akan dipergunakan untuk mencetak sawah baru.Sebab untuk mencetak sawah dibutuhkan biaya minimal Rp 75 juta per ha. Bila harus mencetak sawah sampai 10 ribu ha, sedikitnya diperlukan investasi sampai Rp 750 miliar, jelasnya.Namun, Heka menambahkan, selain harus menanggung biaya investasi sebesar itu, pihaknya juga masih harus menanggung biaya uji coba dan faktor risiko kegagalan yang tinggi, mobilisasi sumber daya manusia, peralatan pendukung, serta biaya sarana produksi padi. Selain itu, investasi sebesar itu belum termasuk memperhitungkan biaya investasi untuk infrastruktur. Sebab kondisi faktual infrastruktur di Merauke saat ini masih sangat minim. Infrastruktur primer seperti jalan dan saluran irigasi primer maupun sekunder hingga saat ini masih sangat tidak memadai. Infrastruktur Primer belum terbangun, dan bila pembangunan infrastruktur itu juga dibebankan kepada pihak investor tentu akan sangat berat, kata Heka.Karena itu, Heka mendesak pemerintah agar serius memperhatikan dan memprioritaskan pembangunan sarana infrastruktur yang handal di kawasan ekonomi khusus Merauke yang akan dikembangkan menjadi food estate andalan Indonesia ini. Tanpa adanya sarana infrastruktur, investor enggan berperan mengembangkan Merauke sebagai food estate. Di kawasan food estate ini pemerintah juga harus membangun menjadi satu kawasan yang terintegrasi, di mana dalam satu kawasan selain terdapat sawah, juga terdapat pabrik pupuk, penggilingan beras, pergudangan, pelabuhan, pembangkit listrik, perumahan, dan sebagainya, tandasnya. [mdr]

Komentar

Embed Widget
x