Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 April 2018 | 01:14 WIB
 

Geopolitik Yerusalem

Bukopin Hati-hati Kucurkan Kredit di 2018

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 17 Desember 2017 | 19:38 WIB
Bukopin Hati-hati Kucurkan Kredit di 2018
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) sangat hati-hati dalam menargetkan pertumbuhan kredit 2018. Angkanya dipatok tidak melebihi 10%. Salah satu penyebabnya adalah faktor geopolitik Yerusalem.

Glen Glenardi, Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk mengakui belum tahu persis untuk target pengucuran kredit 2018. Hal itu, kata dia, masih dibahas dalam rapat kerja anggaran. "Tapi, kita rencana kredit tidak lebih dari 10%. Sebab, saya melihat iklim bisnis masih belum membaik, masih so so saja," katanya usai Rapat Kerja Anggaran 2018, di Bogor, akhir pekan ini.

Pihaknya, lanjut dia, masih mencermati kondisi makro ekonomi di mana pertumbuhan 5,2% dan realisasinya 5,1%. Kemudian, pihaknya juga melihat ke depan, di mana 2018 sudah masuk tahun politik. "Walaupun Pilpres baru 2019, tapi mulai sekarang sudah mulai rame-rame," ujarnya.

Dari sisi global, kata Glen, kondisi ekonomi dunia masih belum membaik. "Kita juga melihat masalah politik internasional, Yerussalem yang jadi rebutan ibukota Israel dan Palestina kita belum tahu bakal jadi apa," ucapnya.

Belum lagi, menurut dia, nanti harga minyak masih berpeluang kembali naik. "Jadi kita melihat ekonomi baik domestik maupun global masih belum pasti, uncertain," tandas Glen.

Dari sisi segmen kredit, pertambangan sekarang sudah mulai membaik. Akan tetapi, perbaikan itu masih belum meyakinkan untuk sustainable. "Jadi, sustainability-nya yang masih harus kita pelajari. Seperti sekarang, harga batu bara naik tapi kadang-kadang turun. Masih wait and see lah ya," ucapnya.

Sementara itu, segmen perdagangan masih menjadi sasaran pengucuran kredit semua bank. Tahun depan, dia berharap Non Performing Loans (NPL) membaik. "Kenyataannya sekarang, semua terkena kenaikan NPL. Kita bisa lihat cadangan perbankan untuk penghapusan kredit yang jumlahnya signifikan," ungkap dia.

Oleh karena itu, Glen mengaku khawatir. "Kami tidak berani menargetkan pertumbuhan kredit terlalu tinggi. Apalagi, parameter dari OJK pun antara 10% hingga 12%. Kita bermain di 8%. Kemarin kita cuma tumbuh 6%. Untuk 2018, kita coba untuk lebih baik dibandingkan 2017," papar dia.

Dia menggarisbawahi, memang bukan susah bagi kredit untuk tumbuh di atas 10% di 2018. Akan tetapi, Bank Bukopin lebih hati-hati. "Kita mengambil posisi aman di 8%," tuturnya.

Kredit mikro dan ritel tumbuh signifikan di 2017. Akan tetapi, sektor ritel mengalami kenaikan NPL. "Untuk mikro Insya Allah ke depan, kita targetkan tumbuh 30%. Dari Rp70 triliun, kredit mikro sekitar Rp11-12 triliun. Ke depan, kita target kredit mikro tumbuh menjadi Rp15 triliun," ungkap dia. [jin]

Komentar

 
x