Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 06:49 WIB

Ekonomi China Diambang Kehancuran?

Oleh : Herdi Sahrassad | Senin, 4 Desember 2017 | 10:30 WIB
Ekonomi China Diambang Kehancuran?
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Perekonomian China terus menjadi sorotan dunia. Ada dua pendapat yang mengemuka, optimis dan pesimis. Yang jelas, utang negeri Panda ini terus-terusan menumpuk.

Kedua belah pihak ini, memandang ekonomi China dengan keheranan, kekaguman, keresahan dan kegalauan, bercampur aduk,

Semuanya akibat potensi ekonomi China yang bak pedang bermata dua, bahwa Tiongkok atau China bisa menjadi pasar bagi ekspor Indonesia, atau sebaliknya. Indonesia menjadi pasar bagi produk China.

Kalangan yang pesimis melihat, dinamika perekonomian China cukup mengkhawatirkan. bukan tak mungkin ekonomi serta kemajuan China luluh dalam sekejab.

Lho, kok bisa? Ya, lantaran perekonomian China tengah berada dalam tekanan utang raksasa. Angkanya mencapai US$28,2 triliun, atau setara Rp366 ribu triliun. Seratus kali utang luar negeri Indonesia.

Utang China ini, merambat naik secara signifikan sejak 2007. Besar kenaikannya mencapai US$20,8 triliun.

Saat ini, China menguasai dua pertiga dari peningkatan utang global dalam rentang 2007-2014 sebesar US$57 triliun. Sekarang, utang China mencapai 286% dari GDP (Gross Domestic Product)-nya.

Okelah, utang China memang luar biasa besar. Lalu, seberapa bahaya kondisi perekonomian China? Menurut Salamuddin Daeng, peneliti Asosiasi Ekonomi-Politik Indonesia (AEPI), sebagian besar utang China, berkaitan dengan sektor properti, yakni 40%-45 % dari total utang.

Dengan dana utangan itu, pengembang di negara tersebut, membangun properti secara ugal-ugalan. Hal inilah yang bisa melahirkan bubble atau gelembung properti.

Kota-kota baru bermunculan dengan gedung-gedung megah, infrastuktur mewah. Mirisnya, kota-kota baru lengkap dengan properti wah itu, ternyata tidak laku. Alhasil, kota-kota baru itu menjelma menjadi kota hantu. Dan, gedung megah berubah menjadi sarang burung-burung liar.

Meski suku bunga sudah diturunkan dan harga properti terus merosot, namun tetap saja tidak laku, sebagaimana ekspektasi pengembang.

Dan, pandangan bahwa perekonomian China sedang menuju kejatuhan, menguat. Ditandai dengan rendahknya pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2015 sebesar 7%. Tahun depan, perkiraan pertumbuhan ekonomi negeri Tirai Bambu ini hanya 6%. Dan, tahun-tahun berikutnya terus tergerus hingga tersisa 4%.

"Kondisi ekonomi China merupakan alarm bagi ekonomi global. Mengapa ? karena jika utang raksasa China jatuh maka puing-puing bangunan utang akan menimpa kawasan Asia, tanpa ampun. Seperti halnya krisis ekonomi 2008 yang menimpa AS akan terulang di China,'' ungkap Salamuddin.

Akan kekhawatiran ini, diduga kuat,
International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) secara terburu buru bergabung ke dalam Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang dibangun Pemerintah China.

Bergabungnya lembaga keuangan global itu, dalam rangka menopang kejatuhan ekonomi China yang cepat, atau lambat pasti terjadi. Seluruh dana global digelontorkan ke AIIB. Termasuk dana Indonesia yang ditempatkan di IMF saat pemerintahan SBY.

Jadi, utang raksasa China, bisa saja tidak tertolong. Indikasinya, statistik lembaga pemeringkat utang, Fitch, meramalkan bahwa China bakal menghadapi krisis ekonomi akibat bangkrutnya perputaran dana di perbankan dalam skala besar. karena, banyak kredit macet. Angkanya bisa jadi 10 kali lipat ketimbang klaim resmi Beijing.

Menurut laporan Fitch, sebanyak 21% dari total pinjaman perbankan di China, sudah masuk kategori kredit macet. Artinya, debitur atau pengutang tidak memiliki daya ekonomi untuk membayar cicilan.

Pada saat yang sama, otoritas perbankan China mengklaim kredit macet hanya 1,8% saja. Selain itu, ketergantungan Beijing kepada pertumbuhan kredit untuk memberikan peningkatan produk Domestik bruto (PDB) dalam jangka pendek, bisa memperburuk masalah yang ada.

Dan, Fitch menekankan, karena "akan meningkatkan masalah kualitas aset likuiditas dalam sistem keuangan." Sampai dengan akhir 2015, utang Cina bisa mencapai 243% dari PDB nasional, dengan prospek 269% bila utang terus membubung.

Bandingkan dengan Indonesia yang rasio hutangnya hanya 40% dari PDB.
Di mana, PDB menggambarkan nilai semua barang dan jasa yang diproduksi suatu negara. Artinya, utang Indonesia hanya 40% dari total omset semua barang dan jasa yang diproduksinya.

Sementara utang China sudah 2,5kali lipat (243%) dari total produk yang dihasilkan China. Data statistik terbaru juga mengungkapkan bahwa utang China akan meningkat 13% per tahun. Angka ini melebihi laju pertumbuhan PDB China yang hanya 6,5%.

Total likuiditas yang dibutuhkan untuk mengatasi kredit macet di China mencapai $2,1 trilliun. Wajarlah bisa sektor keuangan China ingin segera mencegah masalah ini.

Namun jika dalam perspektif yang lebih panjang, akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi tertekan dan akan mengharuskan pemerintah mengambil beberapa langkah-langkah drastis seperti mengemplang hutang atau memperluas persyaratan pembayaran kewajiban.

Kondisi ekonomi China ini mirip dengan Amerika Serikat, saat ini. Hanya saja, levelnya sedikit lebih rendah. Diantara cara untuk mencegah kebangkrutan adalah dengan mencari sumber daya alam (SDA) baru yang berarti menginvasi negara lain. Seperti halnya AS menginvasi Afghanistan, Iraq dan Libya.

Dengan pendapatan dari SDA baru, ekonomi China bisa ditopang dengan likuiditas berbentuk mineral alam (minyak bumi dan emas). Makanya, wajar jika China terus berupaya menguasai Laut China Selatan yang kaya dengan SDA.

Target pertumbuhan ekonomi China, tahun ini, dipangkas dari 7% menjadi 6,5%. Ini juga menjadi lampu kuning bagi perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

Dalam tiga tahun belakangan ini, pertumbuhan ekonominya kembang-kempis. Hari Minggu (5/3/2017), seperti dikutip dari BBC, Perdana Menteri (PM) Li Keqiang mengumumkan, Pemerintah China memangkas target pertumbuhan ekonominya dari 7% menjadi 6,5%.

Dulu, mungkin tak terlintas di benak pemimpin Komunis China Mao Zedong bahwa China akan seperti sekarang. Sebab, lebih dari setengah abad lalu, bahkan di tahun-tahun sebelumnya, dasar komunisme yang "sama rasa sama rata" begitu ketat diajarkan.

Proletariat, yang semula berararti kaum tak berpunya, dijadikan dasar oleh Sang Ketua Mao sebagai falsafah hidup yang mau tidak mau---harus ditaati.

Saking kentalnya ajaran itu di benak, para pengikut setia Mao, siap membunuh babi milik tetangganya. Soalnya, babi itu adalah tanda dari kelas borjuis. Kendati mereka tahu, Ketua Mao adalah seorang karnivora sejati, yang gemar menyantap Hong Shao Rou alias daging babi dipotong kotak-kotak, dimasak semur dengan kuah dari arak Shaoxing, gula, dan bumbu-bumbu pedas.

Tapi, kita semua tahu, akhirnya, ajaran komunisme yang mengklaim "sama rata-sama rasa" itu, dikalahkan jaman. Dan ujung-ujungnya, munculah paham kapitalisme. Sejak diperkenalkan reformasi ekonomi 1978, China muncul sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Bagi kalangan yang optimis, China adalah harapan baru pasca mundurnya ekonomi AS. Pada 2013, RRC menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia berdasarkan total nominal gross domestic product atau produk domestik bruto (PDB), serta menjadi eksportir dan importir terbesar di dunia.

Dan, China tercatat sebagai negara yang memiliki senjata nuklir dan memiliki tentara aktif terbesar dunia, dengan belanja militer yang wah. Makanya, pantas, jika negeri dengan 1,4 miliar penduduk ini, menjadi kekuatan terbesar di Asia dan bisa disejajarkan dengan negeri adidaya lainnya, Amerika Serikat (AS), misalnya.

Tapi, sekali lagi, dalam tiga tahun belakangan ini, pertumbuhan ekonominya kembang-kempis. Hari Minggu (5/3/2017) seperti dikutip dari BBC, Perdana Menteri (PM) Li Keqiang mengumumkan Pemerintah China memangkas target pertumbuhan ekonominya dari 7% menjadi 6,5%.

Angka ini masih mendingan dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan tahun 2016 yang hanya 6%. Inilah laju pertumbuhan ekonomi China yang paling lambat dalam 26 tahun terakhir.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, problema perekonomian China masih berkutat pada masalah penyelesaian utang yang sangat banyak.

Pada 2015, utang pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN dan swasta sudah mencapai US$49,2 triliun. Bandingkan dengan cadangan devisanya yang mencapai US$3,84 triliun. Jelas, ini perbandingan yang sangat jomplang. Padahal, selama ini, cadangan devisa China itu terbesar di dunia.

Tahun lalu, rasio kredit macet perbankan China, naik sangat tinggi. Bayangkan, hanya dalam satu kuartal kredit macet di perbankan China mengalami kenaikan sebesar US$22,5 miliar. Sedangkan laba 16 bank ternama di China pada 2016, hanya tumbuh 2%.

Tentu saja, jika China mengalami perlambatan ekonomi dampaknya akan menyebar ke negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia. Penurunan permintaan dari negara itu beberapa tahun terakhir telah menekan ekspor Indonesia, terutama komoditas pertambangan, migas, dan perkebunan.

Padahal, China dalam beberapa tahun ini merupakan pasar utama ekspor Indonesia. Melambatnya perekonomian China juga memukul negara-negara di Amerika Latin, Australia, dan Jerman. Celakanya, dampak ini terjadi di tengah situasi perekonomian dunia sedang tertekan, kecuali AS. Sementara Eropa dan Jepang masih terus berjuang untuk keluar dari kesulitan ekonomi.

Kini, semua mata dunia sedang memandang perekonomian China. Kalau perekonomian China terus melambat, dampaknya tentu saja berbahaya bagi perekonomian dunia. Betul, perekonomian AS mulai agak membaik, tapi kebijakan Presiden Donald Trump yang sangat protektif bisa menyulut masalah baru.

China tentu saja tak mau pertumbuhan ekonominya terus melambat. Caranya? Cari pasar di luar Eropa dan AS. Inilah yang dikhawatirkan banyak pengusaha di dalam negeri dan beberapa menteri ekonomi. "China berpotensi membombardir pasar tekstil dan elektronik di tanah air," kata seorang pejabat di Bappenas.

Sejak beberapa tahun ini Indonesia sudah menjadi lahan empuk beragam barang China, mulai dari peniti hingga mesin modal. Apalagi sejak diberlakukannya Perjanjian Perdagangan Bebas Cina-ASEAN (ASEAN-Cina Free Trade Agreement/ACFTA) 1 Januari 2010. Maklum dengan bea masuk 0%, barang-barang China leluasa masuk ke Indonesia.

ACFTA memang membuat China makin bergairah menyerbu pasar Indonesia. Bahkan beberapa perusahaan raksasa China terus hadir dalam berbagai pameran teknologi dan produk China di Indonesia.

Hingga saat ini lebih 1.000 perusahaan China beroperasi di Indonesia, baik bidang infrastruktur, kelistrikan, energi, komunikasi, agrikultural, manufaktur dan sektor lainnya.

Tak hanya Indonesia yang menjadi lahan empuk China. China juga sangat tergiur pasar negara-negara ASEAN lainnya. Posisi ASEAN memang sangat penting bagi ekonomi dunia. Dengan jumlah penduduk lebih 600 juta jiwa dan sumber daya alam yang sangat berlimpah, ASEAN bakal menjadi penentu bagi masa depan Asia Timur dalam menggeser hegemoni ekonomi dunia. ASEAN juga akan menjadi pendukung ekonomi negara-negara industri Asia, seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Bagi China, misalnya, negara-negara ASEAN selama ini menjadi pemasok berbagai kebutuhan energi dan bahan baku. Sebaliknya bagi ASEAN, China juga pasar penting bagi ekspor mereka. ASEAN juga penting bagi India, karena 99% ekspor crude oil dari Brunei Darussalam untuk India. Sedangkan untuk CPO, 88% ekspor Kamboja dan 58% ekspor Indonesia ditujukan ke India.

Jika Masyarakat Ekonomi ASEAN terwujud, kawasan ini akan menjadi pasar tunggal raksasa dan basis produksi. Integrasi ekonomi ASEAN berarti dihapuskannya semua hambatan investasi dan perdagangan, baik tarif maupun nontarif. Inilah pasar raksasa yang akan dibidik China.

Celakanya, China sudah digadang-gadang menjadi tulang punggung modal untuk membiayai berbagai proyek infrastruktur Indonesia. Bahkan untuk maksud itu, China sudah komit untuk memberikan pinjaman sebesar US$50 miliar, atau sekitar Rp750 triliun kepada Indonesia.

Kini, yang diperlukan adalah bagaimana mencegah dampak buruk guncangan ekonomi China, juga bagaimana RI bisa mengendalikan arus buruh dari RRC itu.

Tak kalah pentingnya koordinasi antara kementerian/ lembaga harus ditata baik, termasuk sikap para elite dan politisi yang sering "lalai, korup dan ceroboh" dalam menghadapi arus barang, modal dan manusia dari China.

Yang jelas, industri dalam negeri banyak yang sudah mati dihantam arus barang/komoditi dari China dan kita terancam jadi bansga pariah di negeri sendiri. [ipe]

Komentar

 
x