Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 10:28 WIB

Holding BUMN Tambang Kudu Buat Investor Optimis

Oleh : Mohammad Fadil Djailani | Kamis, 30 November 2017 | 15:36 WIB
Holding BUMN Tambang Kudu Buat Investor Optimis
Ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Empat perusahaan penambang pelat merah yakni PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium(Persero) alias Inalum resmi bergabung membentuk konsorsium Badan usaha Milik Negara sektor Tambang.

Ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menyatakan langkah pemerintah menyatukan BUMN sektor tambang di bawah naungan induk atau holding yang dipimpin Inalum itu harus menambah optimisme investor.

Apalagi, tiga BUMN yang menjadi anggota holding itu tetap berstatus perusahaan terbuka.

"Sebenarnya holding itu bagus. Kalau kita lihat dari sektor yang bersamaan kemudian yang terintegrasi, saya rasa itu langkah baik. Cuma memang proses valuasinya itu nanti harus menimbulkan kepercayaan supaya harga sahamnya tidak jatuh," ujar Aviliani saat dihubungi, Kamis (30/11/2017).

Ia pun mengingatkan, hal ini penting lantaran anak perusahaan holding BUMN tersebut memang sudah perusahaan terbuka. Selain itu, pada holding itu dalam proses operasionalnya mungkin juga perlu lebih meyakinkan.

"Kalau sekarang kan orang lebih menyorot holdingnya tapi belum kelihatan holding ini ke depan mau melakukan apa. Kemudian bagaimana orang yang sudah membeli sahamnya itu juga mendapat keuntungan. Mereka kan juga tidak mau dirugikan dengan holding terkait salah satu perusahaan yang sudah berstatus Tbk, kata dia.

Adapun rencana holding BUMN Tambang untuk mengakuisisi saham PT Freeport Indonesia, merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga yang menginduk pada Freeport McMoran Inc di Amerika Serikat, Aviliani berharap hal itu dapat terwujud dengan dibarengi kemampuan untuk mengelola.

"Sekarang kan orang masih melihat bagaimana sih kemampuannya untuk mengelola. Jangan sampai itu (Freeport) diambil alih tapi di belakangnya tetap asing juga. Kan itu juga menjadi masalah," kata dia.

Menurut dia, holding itu memang menyatukan beberapa perusahaan. Tapi belum tentu kemampuan uangnya bisa untuk mengelola Freeport.

Meski begitu, ia melanjutkan, problemnya kan bukan pada siapa yang mengelola. Tapi bagaimana pihak Indonesia bisa mengoptimalkan keuntungannya.

"Kalau kita memang belum punya kemampuan ya tinggal bagaimana dengan yang ada ini bisa membuat kesepakatan yang saling menguntungkan," katanya. [jin]

Komentar

 
x