Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 10:31 WIB

Saham IPO BUMN Anjlok, Anak Buah Rini Berkelit

Oleh : Mohammad Fadil Djailani | Jumat, 24 November 2017 | 15:10 WIB
Saham IPO BUMN Anjlok, Anak Buah Rini Berkelit
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Emiten-emiten anak usaha BUMN tengah didorong untuk meraup dana dari pasar modal dengan melakukan initial public offering (IPO). Namun, beberapa yang telah melakukan IPO harga sahamnya justru anjlok.

Menanggapi hal ini Deputi bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius K Ro, membantah hal tersebut. Menurut dia, tidak hanya saham-saham BUMN yang turun, tetapi saham-saham yang lain juga pernah turun.

"Hah, dari mana itu kan memang kondisi pasar," kata Aloy saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (24/11/2017).

Menurut dia, pelemahan saham dua anak usaha BUMN seperti PT PP Presisi Tbk ( PPRE) dan PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMFI), di antaranya lebih karena terseret kondisi di pasar.

"Kita compare to index juga, jangan hanya melihat dia. Artinya, secara keseluruhan. Lalu compare dengan sektor infrastruktur juga. Kebetulan sektornya hampir sama semua kan. Kalau pricing itu relatif loh," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio punya saran bagi perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sudah melantai bursa agar sahamnya tidak terus anjlok.

Menurut Tito, pada saat melakukan penawaran saham untuk pertama kalinya, initial public offering, perusahaan BUMN ini kerap mematok penawaran harga yang terlalu tinggi.

Dia menyarankan agar harga penawaran ditetapkan 20% di bawah harga wajar saham anak BUMN tersebut. Sehingga ada ruang bagi investor ritel untuk mendulang kenaikan harga. "Satu lihat maksimum price lalu potong 20% untuk kepentingan investor. Jangan maximum price malah ditambah," kata Tito.

Menurut Tito, manajemen tidak perlu ambil untung saat pertama kali mencatatkan sahamnya. Sebab, manajemen bisa mengambil untung ketika menerbitkan saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue.

"Nih IPO maksimum price potong dong diskon 20% kasih investor untung, nanti right issue baru ambil untung," katanya.

"Jangan maksimum price malah ditambah. Saya mensyarankan IPO maximum price potong 20% kasih keutungan investor," tambahnya.

Salah satu contoh BUMN yang terus mengalami penurunan harga saham adalah GMFI, bahkan pada saat pencatatan saham GMFI langsung turun 7,5% dari harga penawaran Rp340 menjadi Rp370 per saham. [jin]

Tags

Komentar

 
x