Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 06:50 WIB

Rupiah Jadi Batu Sandungan di Pasar Obligasi

Oleh : Monica Wareza | Selasa, 24 Oktober 2017 | 11:16 WIB
Rupiah Jadi Batu Sandungan di Pasar Obligasi
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Aksi jual masih terjadi pada laju pasar obligasi akibat kembali melemahnya laju rupiah yang menjadi batu sandungan pasar obligasi untuk berbalik naik.

Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada mengatakan pelemahan ini pun terimbas melemahnya sejumlah harga obligasi AS jelang lelang dan masih adanya sikap menahan diri pelaku pasar terhadap kepastian pengganti Jennet Yellen sebagai kandidat Gubernur The Fed.

"Akibatnya laju imbal hasil obligasi AS naik dan berimbas negatif pada obligasi dalam negeri," kata Reza dalam catatan tertulisnya, Selasa (24/10/2017).

Adapun untuk pergerakan masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) imbal hasilnya rata-rata naik 2,58 bps; tenor menengah (5-7 tahun) naik 3,65 bps; dan panjang (8-30 tahun) naik 5,90 bps.

"Kembalinya aksi jual membuat sejumlah obligasi bergerak melemah. Tak terkecuali sejumlah obligasi acuan yang masih terkena aksi jual sehingga cenderung melemah," lanjutnya.

Pada FR0061 yang memiliki waktu jatuh tempo 5 tahun dengan harga 102,55% memiliki imbal hasil 6,35% atau naik 0,12 bps dari sebelumnya di harga 103,02% memiliki imbal hasil 6,23%. Untuk FR0072 yang memiliki waktu jatuh tempo 20 tahun dengan harga 108,26% memiliki imbal hasil 7,42% atau naik 0,09 bps dari sehari sebelumnya di harga 109,18% memiliki imbal hasil 7,34%.

Pada Senin (23/10/2017), rata-rata harga obligasi Pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price turun -0,38 bps di level 117,43 dari sebelumnya di level 117,88.

Sementara itu, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price turun -0,11 bps di level 109,197 dari sebelumnya di level 109,312.

Sementara itu, pergerakan imbal hasil SUN 10Yr di level 6,68% di atas sebelumnya di level 6,638% dan US Govnt bond 10Yr di 2,39% di atas sebelumnya 2,30% sehingga spread di level 429,2 di bawah sebelumnya di level 433,8.

"Pada laju imbal hasil obligasi korporasi, pergerakannya masih cenderung bervariatif naik seiring masih adanya aksi jual," tambah dia.

Pada obligasi korporasi dengan rating AAA dimana imbal hasil untuk tenor 9-10 bergerak naik tipis di kisaran level 8,55%-8,65%. Lalu, obligasi korporasi dengan rating AA untuk tenor 9-10 tahun, imbal hasilnya naik di kisaran level 9,04%-9,05%. Untuk imbal hasil pada rating A dengan tenor 9-10 tahun naik tipis di kisaran 10,07%-10,09%, dan pada rating BBB naik tipis di kisaran 12,95%-13,02%.

"Sesuai perkiraan dimana pelemahan masih terjadi pada pasar obligasi. Begitupun dengan pergerakan selanjutnya dimana masih adanya potensi pelemahan lanjutan seiring masih adanya sejumlah sentimen negatif terutama dari naiknya imbal hasil obligasi AS dan kembali terdepresiasinya Rupiah. Diharapkan adanya lelang SBSN dapat menahan potensi pelemahan," kata dia. [jin]

Komentar

 
Embed Widget

x