Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 16 Januari 2018 | 18:19 WIB

Ulasan Sepekan

Nada "Hawkish" The Fed Gerus Posisi Rupiah

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 22 Oktober 2017 | 11:49 WIB
Nada
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir berbalik melemah. Pelemahan dipicu oleh masih adanya sentimen dari terapresiasinya dolar AS seiring ekspektasi positif dari sikap hawkish The Fed.

Kondisi itu terjadi jelang pergantian kepemimpinan The Fed. "Belum lagi dengan imbas dari pembahasan program reformasi perpajakan pemerintahan Trump," kata Reza Priyambada, analis senior Binaartha Sekuritas di Jakarta, Minggu (22/10/2017).

Nilai tukar rupiah melemah -0,14% atau lebih rendah dari pekan sebelumnya yang menguat sebesar -0,04%. Di pekan kemarin, laju rupiah sempat melemah ke level 13.530 atau lebih rendah dari sebelumnya di 13.525.

Sementara level tertinggi yang dicapai di angka 13.473 di atas level high sebelumnya di 13.490. Laju rupiah di pekan kemarin bergerak di atas target support 13.534 dan resisten 13.479.

Lebih jauh Reza menjelaskan, adanya sejumlah sentimen positif memengaruhi pergerakan rupiah yang mampu terapresiasi dan berbarengan dengan masih adanya pelemahan dolar AS di awal pekan. Dimulai dari sentimen rilis survei Bank Indonesia terkait meningkatnya permintaan kredit dari 13 sektor ekonomi yang diasumsikan mulai adanya geliat kegiatan ekonomi.

Pada saat yang sama, terdapat optimism dari Menteri Darmin Nasution di mana pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 dapat menyentuh 5,4 persen. Sentimen tersebut diperkuat oleh rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa pada September 2017 neraca perdagangan Indonesia surplus senilai US$1,76 miliar yang didorong oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$2,26 miliar.

Namun demikian, laju dolar AS kembali terapresiasi seiring dengan penantian kepastian akan sikap hawkish The Fed yang berencana kembali menaikan tingkat suku bunganya dan kepastian akan program reformasi perpajakan dari pemerintahan Trump.

Sebelumnya, di awal pekan anggota senat Partai Republik mendapatkan dukungan untuk resolusi anggaran yang akan menentukan langkah pemerintahan Trump dalam menentuka reformasi perpajakan.

Sementara dari dalam negeri, adanya Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung selama dua hari 18-19 Oktober 2017 belum banyak direspons positif. Itu seiring dengan perkiraan BI yang masih akan mempertahankan suku bunganya karena masih dianggap cukup positif menjaga pertumbuhan ekonomi nasional ke depannya.

Pergerakan laju euro yang menguat terhadap dolar AS seiring antisipasi pertemuan European Central Bank untuk menyampaikan program stimulusnya tampaknya juga belum banyak memberikan sentimen positif pada rupiah.

Di sisi lain, pergerakan dolar AS meski melemah terhadap euro, terlihat menguat terhadap yen Jepang sehingga rupiah pun kurang mendapatkan peluang untuk berbalik naik.

"Laju rupiah baru terlihat menguat di akhir pekan seiring dengan sentimen positif dari maraknya pemberitaan potensi kenaikan rating utang Indonesia," imbuh Reza. [jin]

Komentar

 
x