Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Oktober 2017 | 12:26 WIB

Inilah Kinerja TAXI di Jaman Taksi Online

Oleh : Monica Wareza | Jumat, 6 Oktober 2017 | 04:03 WIB
Inilah Kinerja TAXI di Jaman Taksi Online
PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakart - PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) mengalami penurunan kinerja keuangan dengan maraknya bisnis taksi online. Bisnis taksi konvensional mulai ditinggalkan konsumen.

Penyebabnya, kinerja perseroan menunjukan penurunan. Untuk pendapatan tercatat Rp158,73 miliar atau turun 57,57% dibandingkan semester pertama 2016 sebesar Rp374,06 miliar.

Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada mengatakan pemasukan terbesar TAXI yang berasal dari kendaraan taksi mengalami penurunan terbesar. "Penurunan ini diperkirakan karena adanya persaingan di segmen kendaraan taksi. Apalagi dengan maraknya penggunaan taksi online membuat peminatan atas taksi konvensional yang dimiliki TAXI mengalami penurunan," kata Reza dalam catatan tertulisnya, Kamis (5/10/2017).

Adapun pada semester pertama 2016, TAXI masih mencatatkan pemasukan dari kendaraan taksi sebesar Rp333,77 miliar namun, di pertengahan tahun 2017 turun hampir dua kalinya di Rp134,03 miliar.

Sementara itu, pemasukan TAXI yang mengalami kenaikan hanyalah sewa kendaraan yang naik 8,58 persen namun, kontribusi kepada pemasukan hanya lah 12,75% sehingga kurang kuat menopang pemasukan dan mengimbangi penurunan dari segmen kendaraan taksi. Sedangkan kerja sama dengan pihak Uber belum terlalu banyak terlihat pada kinerja TAXI.

Pada beban langsung operasional, lanjut Reza, sepanjang semester pertama 2017 mengalami penurunan 22,56% yang per segmen rata-rata tercatat lebih rendah dari sebelumnya. "Sebut saja, biaya bahan bakar yang selama ini dianggap sebagai komponen biaya yang berkontribusi besar. Akan tetapi, nyatanya konstribusinya hanya sebesar 8,40% dari total pengeluaran. Biaya ini mengalami penurunan 35,09%," lanjutnya.

Kemudian penurunan ini diikuti oleh beban pengemudi dan operasional pool dimana masing-masing turun 28,29% dan 35,97%. Bahkan terkait dengan berkurangnya pemasukan TAXI dimana diasumsikan terjadi penurunan penggunaan taksi untuk kegiatan operasional maka beban perbaikan, pemeliharaan, dan kebutuhan akan suku cadang pun turut mengalami penurunan. Adapun beban ini mengalami penurunan signifikan sebanyak 67,15%.

Akibat berkurangnya pemasukan maka kas TAXI juga ikut mengalami penurunan pada semester pertama 2017 tercatat kas TAXI sebesar Rp9,69 miliar dibandingkan posisi per akhir 2016 sebesar Rp16,25 miliar.


Piutang TAXI tercatat masih cukup tinggi meski juga mengalami penurunan dari posisi per akhir 2016 sebesar Rp463,74 miliar menjadi Rp453,31 miliar di pertengahan 2017. Sementara itu, sepanjang semester pertama 2017 TAXI telah menambah armadanya namun, penambahan ini nilainya lebih rendah dibandingkan pengurangan armada yang dilakukan sehingga berimbas pada nilai aktiva tetapnya yang tercatat menurun dari Rp1,65 triliun per akhir 2016 menjadi Rp1,53 triliun per akhir semester pertama 2017.


Total aset taksi per akhir semester pertama 2017 sebesar Rp2,44 triliun atau turun 4,77 persen dibandingkan posisi per akhir tahun 2016 sebesar Rp2,56 triliun.


Untuk membantu membiayai kegiatan operasionalnya, TAXI juga mengandalkan sumber pendanaan secara eksternal terutama dari penggunaan utang. Tercatat utang bank jangka pendek mengalami kenaikan 2,18% menjadi Rp69,44 miliar dibandingkan posisi per akhir tahun 2016 sebesar Rp67,95 miliar. Begitupun dengan utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun yang juga meningkat menjadi Rp25,24 miliar dari posisi nol di akhir 2016.


Hal yang sama juga terjadi pada utang obligasi yang merupakan kewajiban dengan nilai terbesar dibandingkan kewajiban lainnya dimana berkontribusi 54,26% dari total kewajiban. Hingga akhir semester pertama 2017, utang obligasi tercatat sebesar Rp994,39 miliar dibandingkan posisi per akhir 2016 sebesar Rp993,24 miliar.


Dari sisi manajemen, menyadari adanya penurunan kinerja, TAXI mencoba menyiasatinya dengan menurunkan target setoran pengemudi dari sebelumnya Rp 240.000 per mitra pengemudi per hari menjadi Rp 150.000 per hari yang ditujukan agar utilitas armada taksi dapat terjaga.


"Hal ini dilakukan untuk menjaga unit yang beroperasi jangan sampai menurun. Strategi tersebut dapat dianggap berhasil untuk bertahan," tambah dia.

Pada kuartal pertama 2016 saat target setoran masih Rp 240.000 per hari, TAXI hanya mampu mengoperasikan 8.787 armada dan terus menurun pada kuartal dua 2016 dimana hanya mengoperasikan 6.620 armada. Begitu pun dengan kuartal tiga 2016 dimana hanya mampu mengoperasikan 6.019 armada. Bahkan, pada kuartal empat 2016, TAXI hanya mampu mengoperasikan 4.213 armada.

Kemudian utilisasi armada mulai membaik saat kuartal pertama 2017 ketika target setoran diturunkan menjadi Rp 150.000 per hari dimana armada TAXI yang beroperasi mencapai 5.096 atau meningkat sebanyak 883 armada dari posisi per akhir tahun 2016. Bahkan di kuartal II mampu mengoperasikan lebih dari 5.300 armada. Meski belum terlalu terlihat signifikan namun, adanya peningkatan utilisasi armada juga berkat kemudahan teknologi dari aplikasi Uber yang sejak Desember 2016 TAXI bekerja sama dengan penyedia aplikasi Uber.


Menurunnya kinerja berimbas pada perolehan laba atribusi yang tercatat merugi sebesar Rp133,11 miliar dari periode semester pertama 2016 yang juga merugi sebesar Rp42,89 miliar. Akibatnya nilai EPS pun turun dari -19,99 pada semester pertama 2016 menjadi -62,04 di semester pertama 2017. Dengan demikian, secara valuasi pun TAXI juga mengalami penurunan. Adapun menurut perhitungan, valuasi TAXI di level Rp70, underperform. Valuasi ini kami turunkan dari sebelumnya Rp115 seiring pelemahan kinerja yang di bawah perkiraan sebelumnya.

"Selain menghadapi penurunan kinerja dan upaya bersaing di industri transportasi, TAXI juga menghadapi upaya untuk melakukan pelunasan utang-utangnya yang nilainya melampaui ekuitasnya meski masih dapat diimbangi dengan nilai asetnya. Pengurangan pegawai maupun armada kemungkinan akan dilakukan oleh TAXI untuk lebih mengefisiensikan kinerjanya meski hanya bersifat sementara dan dapat berimbas pada penurunan pemasukan akibat pengurangan tersebut," kata Reza. [hid]

Komentar

 
x