Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 13:24 WIB

Laju Inflasi Jepang Sulitkan Kebijakan BoJ

Oleh : Wahid Ma'ruf | Selasa, 26 September 2017 | 11:46 WIB
Laju Inflasi Jepang Sulitkan Kebijakan BoJ
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Tokyo - Pembuat kebijakan Bank of Japan (BoJ) menegaskan harus tetap berpegang pada kerangka kerja kebijakan saat ini dan memiliki alasan untuk yakin mengenai harga konsumen.

Sebab perkiraan ekspektasi inflasi telah berhenti turun. Demikian sebagian risalah rapat bank sentral pada 19-20 Juli 2017 yang dirilis Selasa (26/9/2017), seperti mengutip cnbc.com.

BOJ mempertahankan kebijakan moneter yang ditahan pada pertemuan bulan Juli tersebut. Namun mendorong kembali waktu target inflasi untuk keenam kalinya sejak Gubernur BoJ, Haruhiko Kuroda meluncurkan pelonggaran kuantitatif pada tahun 2013.

Optimisme pembuat kebijakan untuk mencapai target inflasi mereka tidak mungkin untuk memadamkan kekhawatiran bahwa BoJ perlu mengubah pendirian kebijakannya karena saat ini tetap gagal menaikkan harga.

"Sebagian besar anggota berbagi pandangan bahwa walaupun perkembangan CPI belakangan ini relatif lemah, tingkat perubahan tahun-ke-tahun cenderung berlanjut pada tren kenaikan naik dan naik menjadi 2 persen, terutama didukung oleh peningkatan gap output dan kenaikan ekspektasi inflasi jangka menengah sampai jangka panjang," kata notulen tersebut.

Beberapa anggota berpendapat tingkat pengangguran Jepang dan gap output yang dibutuhkan untuk memperbaiki lebih jauh lagi untuk membangun momentum ekonomi yang dibutuhkan untuk mencapai target inflasi 2 persen BoJ.

BoJ sekarang memperkirakan inflasi akan mencapai 2 persen pada tahun fiskal yang berakhir pada bulan Maret 2020. BOJ telah menunda jangka waktu target harga enam kali, sejak Kuroda meluncurkan program pembelian asetnya yang luar biasa pada tahun 2013.

BOJ akan mengumumkan prakiraan baru pada pertemuan berikutnya yang berakhir pada 31 Oktober. Bank sentral berpotensi mendapat tekanan untuk memudahkan kebijakan lebih lanjut atau menghasilkan kerangka kerja baru jika akan mendorong kembali target harga penawaran lagi.

Pada pertemuan bulan ini yakni pada 20-21 September, satu anggota baru di dewan BoJ menentang keputusan bank sentral untuk menahan kebijakan moneter, dengan alasan bahwa kerangka kerja saat ini tidak cukup untuk menghasilkan inflasi.

Komentar

 
x