Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 23 November 2017 | 09:01 WIB

Rupiah Positif Respon Defisit Anggaran

Oleh : - | Senin, 11 September 2017 | 10:42 WIB
Rupiah Positif Respon Defisit Anggaran
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank bergerak menguat sebesar 49 poin menjadi Rp13.135 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.184 per dolar Amerika Serikat (AS).

"Pergerakan mata uang rupiah kembali bergerak naik di tengah kepercayaan pelaku pasar uang terhadap perekonomian nasional menyusul membaiknya defisit anggaran," analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Senin (11/9/2017).

Reza mengemukakan bahwa rupiah terimbas positif oleh pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mengatakan defisit anggaran hingga Agustus 2017 mencapai 1,65 persen atau senilai Rp224,3 triliun lebih rendah dari periode sama 2016 mencapai 2,09 persen menjadi salah satu faktor positif bagi rupiah.

Di sisi lain, lanjut Reza, penerimaan pajak hingga akhir Agustus 2017 tercatat Rp780,037 triliun atau setara 53 persen dari total target penerimaan dalam APBN-P 2017. Jika dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu mencatatkan pertumbuhan sebesar Rp711,447 triliun atau 46 persen dari total APBN Perubahan 2016.

Ia menambahkan bahwa data cadangan devisa yang diumumkan Bank Indonesia membukukan peningkatan juga turut menopang mata uang rupiah terhadap dolar AS di pasar valas domestik. Cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2017 mengalami peningkatan sebesar 1 miliar dolar AS menjadi 128,8 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2017 yang tercatat sebesar 127,8 miliar dolar AS.

Sementara itu,analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong menambahkan bahwa perkiraan pasar mengenai kebijakan kenaikan suku bunga Amerika Serikat oleh Bank Sentral AS atau The Fed yang belum akan dilakukan dalam waktu dekat turut mempengaruhi pergerakan rupiah.

"The Fed diproyeksikan mengalami kesulitan untuk menaikkan suku bunga acuannya menyusul laju inflasi di Amerika Serikat yang masih melambat," katanya. [tar]

Komentar

 
x