Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 21 November 2017 | 11:12 WIB

Jika IPO, Bisakah Start Up Lokal Jadi Rebutan?

Oleh : Monica Wareza | Selasa, 15 Agustus 2017 | 00:16 WIB
Jika IPO, Bisakah Start Up Lokal Jadi Rebutan?
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Saham-saham start up FAANG (Facebook, Amazon, Apple, Netflix, Google) cukup menjadi acuan di kalangan investor di Amerika sana. Bisakah saham start up menarik minat investor Indonesia jika melantai di bursa?

Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada mengatakan bahwa salah satu faktor saham-saham ini menjadi tren adalah faktor kinerja yang ditunjukkan oleh emiten-emiten ini sehingga membuat investor menjadi lebih percaya terhadap perusahaan tersebut.

"Misalnya Amazon walaupun cuma jualan buku ternayata punya kinerja yang bagus juga dan ketika merambah ke bisnis yang lain juga punya kinerja bagus. Trus kemudian mungkin mereka bagi dividen akhirya investor tertarik untuk masuk ke saham tersebut," kata Reza kepada INILAHCOM, Senin (14/8/2017).

Selain itu, faktor edukasi masyarakat menyangkut investasi juga menjadi faktor yang paling penting. Karena dengan kurangnya sosialisasi akan membuat masyarakat juga tidak akan tertarik untuk memilih emiten yang bisa dijadikan sebagai portofolio.

"Nama perusahaan itu sebetulnya adalah produk nah bagaimana masyarakat paham akan produk tersebut," lanjutnya.

Meskipun begitu, melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) tampaknya saat ini masih belum menjadi pilihan bagi start up di Indonesia. Apalagi yang menjadi daya tarik dari melakukan IPO ini adalah adanya sumber pendanaan alternatif yang bisa diserap perusahaan.

"Kalau diliat yang IPO kan banyakna buat nambah capex, ekspansi sama bayar utang. Itu mungkin juga pengaruh atau mungkin mereka ga butuh dana buat ekspansi," kata Reza.

Jika demikian, masuk akan jika perusahaan start up besar di Indonesia seperti PT Gojek Indonesia dan PT Tokopedia memilih untuk tidak melakukan pernawaran umum.

Kedua perusahaan ini malah seperti tidak pernah kehilangan sumber pendanaan. Lihat saja PT Gojek Indonesia yang baru-baru ini mendapatkan suntikan dana sebesar Rp16 triliun dari raksasa teknnologi China, Tencent.

PT Tokopedia juga disebut-sebut bakal diakuisisi oleh raksasa e-commerce asal China, JD.com. meskipun pihak perusahaan masih belum membenarkan adanya isu ini. Namun pada 2014 lalu Tokopedia juga telah menerima pendanaan dari Softbank Japan dan Sequoia Capital senilai US$100 juta atau Rp1,3 triliun.

Menurut Reza, selain dari perihal kebutuhan dana, beberapa peraturan mengenai tata cara untuk melantai di bursa yang dianggap memberatkan juga menjadi salah satu faktor mengapa perusahaan start up masih enggan untuk melantai.

"Kalau dari sisi manajemen karena kan kita sudah masuk ke pasar modal itu kan kita udah siap terbuka karena informasi semuanya harus terbuka, lalu kemudian siap berbagi. Itu yang mungkin yang jadi pertimbangan juga," kata dia. [hid]

Komentar

 
x