Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 03:32 WIB

OPEC Masih Kelimpungan Seimbangkan Harga Minyak

Oleh : Monica wareza | Sabtu, 22 Juli 2017 | 16:54 WIB
OPEC Masih Kelimpungan Seimbangkan Harga Minyak
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, New York - Kalau tak ada aral, produsen minyak dunia termasuk OPEC, bakal menggelar pertemuan pada Senin (24/7/2017). Salah satu yang dibahas adalah upaya menstabilkan harga.

Sejatinya, banyak masalah yang diagendakan dalam pertemuan Komite Pemantau Bersama yang terdiri dari lima negara. Komite ini bertugas mengawasi kepatuhan kesepakatan OPEC, Rusia dan negara lain dalam rangka meningkatkan harga minyak dunia.

Analis mengatakan, komite kemungkinan akan merekomendasikan untuk mempertahankan kebijakan menahan produksi pada level saat ini. Mereka juga akan merayu Nigeria dan Libya untuk mengikuti skema ini, karena jumlah produksi dari kedua negara tersebut cukup mengejutkan.

Harga minyak turun pada Jumat (21/7/2017), setelah sebuah laporan bahwa pasokan Juli OPEC dapat meningkat 145.000 barel pada Juni. Hal ini mendorong produksi di atas 33 juta barel per hari.

Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate turun 2,5% menjadi US$45,77 per barel, dan Brent turun 2,6% pada U$48. "Jelas, OPEC memiliki banyak kendala. Kartel tentu saja mendapat tekanan yang cukup banyak dari kenyataan bahwa itu bukan hal yang sama," kata Francisco Blanch, kepala strategi komoditas dan derivatif di Bank of America Merrill Lynch dikutip dari cnbc.com.

Fakta bahwa harga minyak telah jatuh hingga di bawah US$50 per barel, sangat merugikan negara-negara OPEC. "Ekuador ingin menarik diri, dan kemudian Irak telah berencana untuk meningkatkan produksinya sebanyak setengah juta barel," kata Blanch.
Ekuador meninggalkan kesepakatan tersebut dan mengatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan produksi.

Pertemuan komite pemantau di St Petersburg, Rusia ini akan diikuti Aljazair, Kuwait, Rusia, Venezuela dan Oman. Juga akan dihadiri oleh dari Arab Saudi dan beberapa negara lainnya yang dapat berpartisipasi sebagai pengamat.

"Sudah ada rumor mengenai Saudi yang mengesampingkan pemotongan produksi ini, namun saya tidak yakin," kata Blanch. Arab Saudi sudah memanggul bagian terbesar dari pengurangan OPEC, sebagai produsen terbesarnya, namun juga mengatakan akan memberi ruang bagi produksi Libya dan Nigeria jika diperlukan.

John Kilduff dari Again Capital mengatakan bahwa ini adalah fakta tahunan ketika biasanya memproduksi minyak mentah untuk keperluan dalam negeri. "Saya pikir kita bersiap untuk jenis pasar 'buy the rumor, sell the news'," kata Kilduff.

"Satu-satunya kejutan bagi pasar adalah jika Saudi memotong lebih banyak. Tapi tampaknya ada banyak kemungkinan untuk pemotongan lebih lanjut," kata Kilduff.

OPEC dan produsen lainnya, seperti Rusia, sepakat untuk menahan produksi hingga 1,8 juta barel per hari. Namun, lonjakan harga minyak akibat kenaikan tersebut mendorong lebih banyak produksi dari drilling Shale AS.

Industri minyak AS telah menjadi lebih efisien karena memanfaatkan teknologi baru, dan bersiap untuk memproduksi 9,9 juta barel per hari di 2018. Blanch memperkirakan harga minyak berada di kisaran US$45 hingga US$50 per barel.

Peningkatan produksi yang dilakukan Libya dan Nigeria, cukup mengejutkan pasar. Produksi Nigeria mencapai 1,75 juta barel per hari di Juni 2017. "Atau naik lebih dari 1 juta barel dari awal 2017." kata Kilduff.
Sedangkan produksi minyak Libya melonjak sekitar 500.000 barel per hari pada Juni 2017. Jauh di atas angka produksi rata-rata di 2016 yang mencapai 380.000 barel per hari, menurut RBC.

"Libya dan Nigeria akan mengirim perwakilan ke pertemuan tersebut, namun tidak mengherankan jika mereka enggan menerima pembatasan produksi," kata Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC.

"Menteri Perminyakan Saudi Khalid Al-Falih pada akhirnya harus memberi ruang bagi negara-negara ini dengan membatasi produksi lebih jauh, namun kami masih belum mengharapkan potongan yang lebih dalam untuk diumumkan Senin," tulis Croft. Dalam catatan Arab Saudi rata-rata menghasilkan 10,4 juta barel per hari tahun lalu, dan pada 10 juta barel bulan lalu, menurut RBC.

Penghentian Ekuador dari kesepakatan OPEC menambah tekanan pada negara-negara ini. "Menjaga koalisi keserasian bersama akan menjadi tantangan utama bagi Arab Saudi dan Rusia. Mereka harus menempuh garis keras untuk menunjukkan tekad yang kuat dalam menyeimbangkan kembali pasar, sambil menghindari kepanikan tiba-tiba setelah pertemuan OPEC Mei," tulis Croft.

Dia mengatakan, pernyataan dari komite pengawas tersebut pada Senin nanti harus memberi sinyal kemungkinan untuk menangani volume produksi ektra dari Libya dan Nigeria, baik dengan mengakhiri pembebasan produksi untuk kedua negara atau menetapkan pemotongan produksi lebih lanjut di masa depan. [ipe]

Tags

Komentar

 
x