Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 September 2017 | 15:25 WIB

Barang Mewah Dominasi Belanja Keluarga AS

Oleh : Monica Wareza | Minggu, 2 Juli 2017 | 00:25 WIB
Barang Mewah Dominasi Belanja Keluarga AS
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, New York - Ternyata semua orang Amerika menghabiskan pendapatannya untuk barang-barang mewah, terlepas dari jumlah pendapatannya.

Menurut sebuah analisis yang dirilis pekan ini oleh Deutsche Bank Research, orang yang menghasilkan penghasilan lebih besar menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk barang mewah. Bahkan rumah tangga termiskin juga menghabiskan pendapatannya dalam jumlah yang signifikan untuk barang mewah.

Penelitian tersebut melihat kebiasaan belanja antara tahun 1984 dan 2014, keluarga kaya menghabiskan sekitar 65% pendapatan mereka untuk barang mewah dan 35% untuk kebutuhan. Sementara keluarga berpendapatan menengah menghabiskan 50% barang mewah dan 50% untuk kebutuhan. Bahkan, keluarga berpenghasilan terendah menghabiskan 40% untuk barang mewah dan 60% untuk kebutuhan.

Penulis studi, kepala ekonom internasional untuk Deutsche Bank Securities, Torsten Slok pendapatan rumah tangga rata-rata di Amerika baru-baru ini naik menjadi US$59.361 (setara dengan Rp771,69 juta, dengan kurs Rp13.000/US$).

Pusat Kebijakan Pajak menemukan bahwa kelas bawah menghasilkan sebanyak US$47.300 (setara dengan Rp614,90 juta, kurs Rp13.000) atau kurang pada tahun 2014. Kelas menengah menghasilkan antara US$47.400 dan US$134.300 (setara dengan Rp614,90 juta-Rp1,74 miliar, kurs Rp13.000). Sedangkan kelas atas menghasilkan lebih dari US$134.400.

Laporan Deutsche Bank Research mendefinisikan kemewahan sebagai "barang atau jasa yang dikonsumsi dalam proporsi yang lebih besar karena peningkatan pendapatan seseorang" dan kebutuhan sebagai barang atau jasa yang menghasilkan proporsi pengeluaran yang lebih kecil saat pendapatan seseorang meningkat.

Penelitian terbaru menunjukkan perasaan konsumen memainkan peran kunci dalam pengeluaran untuk kebutuhan sehingga kita cenderung memikirkan pengeluaran untuk kemewahan sebagai indulgensi yang didorong oleh emosi.

"Konsumen yang mengalami kehilangan kontrol lebih cenderung membeli produk yang lebih fungsional di alam, seperti obeng dan deterjen, karena ini biasanya terkait dengan pemecahan masalah, yang dapat meningkatkan kontrol orang," tulis para pneliti sebuah Studi yang diterbitkan pada April 2017 di Journal of Consumer Research.

Survei NerdWallet pada bulan Januari 2017 menemukan bahwa semakin kaya seseorang maka semakin besar kemungkinan orang tersebut untuk melakukan banyak pembelian yang tidak perlu dengan kartu kredit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hampir setengah dari orang Amerika (49%) mengatakan bahwa emosi mereka telah menyebabkan mereka menghabiskan lebih banyak dari yang mereka mampu.

NerdWallet menemukan bahwa sebagian besar orang Amerika (86%) mengatakan tidak apa-apa untuk beralih ke hutang kartu kredit untuk membayar kebutuhan seperti pembelian darurat, biaya pengobatan dan biaya yang berkaitan dengan pengangguran. Namun, lebih banyak lagi orang (87%) mengatakan bahwa mereka akan merasa malu untuk membayar hutang untuk membayar pembelian yang tidak perlu yang tidak dapat mereka bayar, biaya perjalanan tidak darurat atau uang muka.

Survei NerdWallet juga menemukan bahwa wanita lebih mungkin untuk mengeluarkan lebih banyak uang karena stres (35% vs 24%) sementara pria mengatakan kegembiraan membuat mereka menghabiskan terlalu banyak. Keluarga dengan pendapatan kurang dari US$50.000 (kurang dari Rp650 juta, kurs Rp13.000) lebih mungkin mengeluarkan uang terlalu banyak karena stres daripada rumah tangga yang menghasilkan US$100.000 atau lebih (34% : 24%).

 
Embed Widget

x