Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 01:42 WIB

AS Buka Akses, Bisnis Kuba Mulai Bergairah

Oleh : Monica Wareza | Minggu, 18 Juni 2017 | 09:27 WIB
AS Buka Akses, Bisnis Kuba Mulai Bergairah
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Washington DC - Sekilas kegirangan tentang perjalanan ke Kuba setelah negara tersebut membuka perbatasannya ke Amerika Serikat pada tahun 2016 untuk pertama kalinya dalam beberapa dasawarsa.

Presiden Donald Trump mengumumkan pada Jumat (16/6/2017) bahwa dia akan membalikkan hubungan historis antara AS dan Kuba yang dilakukan di bawah Pemerintahan Obama. Tindakan baru tersebut akan kembali membatasi perjalanan ke Kuba dan memblokir kesepakatan bisnis antara kedua negara.

Dilansir dari marketwatch.com, survei dari asuransi Allianz Global Assistance menemukan bahwa ketika negara ini pertama kali dibuka untuk orang Amerika, ada dorongan besar dalam perjalanan ke sana. Namun orang Amerika kurang tertarik untuk bepergian ke Kuba tahun ini dibandingkan pada tahun 2016.

Sekitar 76% dari 1.514 responden mengatakan bahwa mereka tidak mungkin merencanakan perjalanan ke Kuba pada tahun 2017 dibandingkan dengan 70% pada tahun 2016. Hanya 2% dari mereka yang disurvei yang berencana mengunjungi Kuba dalam enam.

Survey ini juga menemukan bahwa 60% orang Amerika mengatakan "tidak ingin bepergian ke Kuba" dibandingkan dengan hanya 58% pada tahun 2016.

Analis penerbangan di situs perjalanan Skift, Brian Sumers mengatakan meskipun perseran ini diharapkan hanya tren di awal, tren penerbangan juga menunjukkan permintaan lebih rendah dari perkiraan awalnya.

"Ketika negara ini dibuka, hampir setiap maskapai Amerika terobsesi untuk menerbangkan sebanyak mungkin ke Havana seperti yang mereka perkirakan, namun ternyata malah banyak penerbangan yang kosong," kata Sumers.

Memang pada kegembiaraan yang diciptakan oleh negara yang sebelumnya tertutup ini telah menciptakan dilema moral seperti kurangnya pangan dan masalah lain yang disebabkan oleh pariwisata, serta kekecewaan atas keterbatasan internet, standar hotel yang rendah dan kurangnya air bersih.

Dalam penelitian Allianz ini juga menemukan bahwa kurangnya infrastruktur perjalanan merupakan penyebab utama rendahnya daya tarik untuk mengunjungi Kuba bagi 13% orang Amerika.

Penurunan permintaan telah menyebabkan sejumlah maskapai penerbangan mengurangi, bahkan menghilangkan sepenuhnya penerbangan ke negara tersebut, termasuk Silver Airways, menghentikan semua penerbangan yang direncanakan ke Kuba.

Penerbangan ini merupakan yang pertama kali menghentikan semua penerbangan ke Kuba karena biaya penerbangan ke Havana terlalu signifikan dibandingkan dengan asumsi awal.

Musim panas menjadi satu-satunya alasan bagi orang Amerika mengunjungi Kuba. Pada Mei 2017 lalu, pengunjung ke negara tersebut harus memilih satu dari 12 kategori untuk kunjungan mereka, yang meliputi kegiatan keagamaan, proyek kemanusiaan, dukungan untuk orang-orang Kuba dan kegiatan jurnalistik.

Ditambah lagi dengan orang-orang juga tidak bisa mengunjungi Kuba hanya untuk bersantai di pantai seperti yang disukai orang Amerika saat liburan.

Menurut data terpisah dari situs web penelusuran perjalanan Kayak, ketertarikan untuk berwisata ke negara ini tetap tinggi meskipun penerbangan ke Kuba terus berfluktuasi. Data ini menunjukkan adanya peningkatan 173% dalam pencarian di Kuba pada bulan April 2017 dibandingkan dengan bulan April 2016, dan mencantumkan Kuba sebagai tujuan utama nomor satu yang menuju tahun 2017.

Namun, wakil presiden pemasaran Dave Solomito mengatakan bahwa penting untuk dicatat bahwa data Kayak mencerminkan pencarian, bukan pemesanan aktual. Ditambah lagi, lonjakan minat ini diperkirakan akan terjadi setelah mantan Presiden Obama melakukan pembatasan perjalanan pada Maret 2016.

"Mungkin saja orang-orang mencari perjalanan ke Kuba untuk mengeksplorasi pilihan mereka, namun memutuskan untuk tidak pergi begitu mereka mengetahui batasan perjalanan atau melakukan penelitian mengenai pilihan penginapan, yang masih terbatas pada saat ini," kata Solomito. Harga hotel di Kuba yang masih mahal dan masih sedikit yang memenuhi standar di Amerika juga menjadi faktor lainnya.

Ketidakpastian tentang perjalanan Kuba terjadi setelah negara ini memecahkan rekor kunjungan wisatanya. 4 juta wisatawan berkunjung pada tahun 2016, meningkat 13% dari tahun 2015, dan kementerian pariwisata Kuba sebelumnya memproyeksikan peningkatan lebih lanjut menjadi 4,1 juta pengunjung pada tahun 2017.

Direktur komunikasi di Engage Cuba, Madeleine Russak mnegatakan mengatakan bahwa dia memperkirakan masuknya wisatawan untuk terus meningkat, dengan alasan jalur pelayaran meningkatkan rute ke Kuba dan beberapa maskapai memperluas layanannya. [hid]

Komentar

 
x