Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 29 Juni 2017 | 00:23 WIB

Inilah Pemicu Pelemahan Bursa Asia

Oleh : Monica Wareza | Senin, 20 Maret 2017 | 14:05 WIB
Inilah Pemicu Pelemahan Bursa Asia
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Tokyo - Bursa saham Asia hingga sesi siang masih tertekan pada perdagnagan awal pekan ini. Investor mempertimbangkan tentang hasil pertemuan menteri keuagan negaa G-20 di Jerman dan menantikan hasil pertemuan China Development Forum dua hari ke depan.

Pertemuan menteri keuangan dari 20 negara dengan ekonomi terbesar di dunia selama dua hari di Jerman. Pertemuan tersebut gagal menyepakati untuk tetap konsisten dalam perdagangan global yang bebas dan terbuka.

"Menteri Keuangan Jerman, Schauble menyayangkan kelalaian untuk menolak bentuk proteksionisme dalam komunike G-20. Sebab Menteri Keuangan AS, Mnuchin lebih suka mengurangi ketidakseimbangan global yang berlebihan. Mempromosikan inklusivitas yang lebih besar dan keadilan," kata Vishnu Varathan, ekonom senior Mizuho Bank seperti mengutip dari cnbc.com.

Indeks ASX di Sydney turun 0,3 persen, pelemahan dipicu pengecer besar Australia. Alasannya karena mengkhawatirkan Amazon akan membuka layanan di negara terebut tahun ini. Saham JB Hi-Fi turun 2,8 persen, Harvey Norman turun 8,2 persen dan Suparentail turun 3,3 persen.

Indeks Kospi di Seoul turun 0,5 persen merespon harga produsen naik di bulan Februari. Kenaikan yang tercepat lebih dari lima tahun terakhir. Indeks harga produsen (PPI) naik 4,2 persen dari bulan Januari 3,9 persen.

Sementara bursa China, indeks Shanghai menjelang penutupan turun tipis 0,05 persen. Bursa Hong Kong naik 0,6 persen. Para pemimpin bisnis internasional, organisasi internasional dan pembuat kebijakan China berkumpul dalam China Development Forum ke-18.

Data resmi akhir pekan lalu, harga properti China bulan Februari menunjukkan kenaikan yang lambat dalam empat bulan terakhir. Harga rumah baru naik 0,3 persen dari 0,2 persen di bulan Januari. Sementara penjualan properti naik 25,1 persen pada bulan Februari dari bulan sebelumnya. Kenaikan ini sebagai kenaikan terkuat dalam tujuh tahun terakhir.

 
x