Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 25 September 2016 | 19:31 WIB
Hide Ads

Sem Susilo

Monitor Saham-saham Bank

Oleh : Ahmad Munjin | Senin, 29 September 2014 | 03:00 WIB
Monitor Saham-saham Bank
Sem Susilo - (Foto: Riset)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta Investor asing ditengarai telah melakukan short sell pada saham-saham bank. Saham-saham tersebut pula yang bakal cepat bangkit sehingga pemodal layak memonitornya.

Sem Susilo, pengelola pembelajaran dan rekomendasi saham www.sahampemenang.blogspot.com mengatakan hal itu kepada INILAHCOM. Setelah saham-saham bank bangkit, pemodal disarankan memilih salah satu saham di sektor konstruksi BUMN. "Indikator pemulihan IHSG dilihat dari sektor perbankan," kata dia. Sem juga menyodorkan beberapa saham lain di luar saham bank dan konstruksi. Apa saja?

Pada perdagangan Jumat (26/9/2014), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 68,816 poin (1,323%) ke angka 5.132,563. Intraday tertinggi 5.143,032 dan terendah 5.105,32.

Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Mengakhiri pekan lalu, IHSG anjlok 1,32%. Apa catatan Anda?

Pelemahan IHSG sebenarnya sudah cukup baik jika dilihat dari level terendahnya yang turun 1,8% dan ditutup turun jadi 1,32%. Meski investor asing net sell masih cukup besar hingga Rp1,4 triliun, sudah mulai ada perlawanan dari investor lokal.

Asing net sell sebesar itu, jangan dipahami mentah-mentah sebagai net sell. Saya melihat, asing menumpang situasi psikologis yang kurang baik. Salah satunya, karena Kamis (25/9/2014) malam, UU Pilkada tidak seperti yang diharapkan, sehingga investor lokal agak panik. Asing menggunakan kepanikan investor lokal untuk melakukan short sell. Saya lebih melihat ke short sell bukan sebagai net sell.

Maksud Anda?

Sebab, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai kisaran Rp5.000 triliun (lima ribu triliun). Porsi asing mencapai 2/3. Artinya, asing punya Rp3.000 triliun di bursa saham kita. Dengan angka sebesar itu, dipastikan didesain untuk proyeksi jangka panjang. Mereka short sell hanya untuk mencari keuntungan tambahan.

Jika keluar Rp1 triliun per hari, net sell asing butuh 3.000 hari untuk keluar semuanya. Dan, ini tidak mungkin. Artinya, asing butuh puluhan tahun untuk net sell dalam pengertian yang sebenarnya net sell.

Apa implikasinya jika asing short sell?

Artinya, koreksi IHSG merupakan hal temporer akibat kepanikan investor lokal yang over dosis dan asing menumpang kepanikan untuk mencari double profit. Mereka untung dari short sell dan untung dari aksi menampung saham-saham murah.

Berapa lama potensi berlangsungnya tekanan negatif pada IHSG?

Situasi seperti ini, paling-paling berlaku 1-2 hari ke depan dengan catatan, jika IHSG mendapat dukungan yang kuat dari situasi intermarket. Situasi intermarket sendiri saat ini sudah berada di wilayah netral dan punya kecenderungan positif. Karena itu, pasar sebenarnya tidak usah khawatir berlebihan. Kalau mau tampung, bisa dilakukan bertahap. Jika intermarket kuat, bisa langsung menampung saham dalam jumlah banyak.

Level support dan resisten IHSG sepekan ke depan?

Dalam sepekan ke depan, support IHSG di 5.000 sudah sangat kuat. Di sisi lain, resistance berada di 5.250. Kemungkinan IHSG akan bergerak dalam kisaran tersebut. Iramanya tergantung situasi intermarket.

Jika intermarket, sebenarnya sudah tidak ada masalah. Hanya kekhawatiran investor lokal yang over dosis. Secara logika, pilkada melalui DPRD sebenarnya tidak terlalu berpengaruh ke pasar saham. Apalagi, UU Pilkada melalui DPRD juga masih bisa digugat atau judicial review. Kalaupun berlaku, itu biasa-biasanya saja.

Dalam situasi ini, apa saran Anda untuk para pemodal di bursa saham?

Asing sejauh ini melakukan aksi jual di saham-saham perbankan. Sebab, kapitalisasi pasar saham-saham bank sangat besar dan likuid. Mereka biasanya melakukan short sell pada saham-saham bank. Sektor bank masih negatif 2,44%. Jadi, asing short sell di saham bank, dan recovery juga di saham bank. Indikator pemulihan IHSG dilihat dari sektor perbankan.

Lalu, jika saham-saham bank sudah bangkit, yang akan cepat naik adalah saham-saham konstruksi BUMN. Jadi, monitor saham-saham bank.

Spesifik saham-saham pilihannya?

Di sektor perbankan, terutama saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI.JK) dan PT Bank Mandiri (BMRI.JK). Jika bank sudah bangkit, beli salah satu dari saham-saham konstruksi BUMN seperti PT Wijaya Karya (WIKA.JK), PT Pembangunan Perumahan (PTPP.JK), PT Adhi Karya (ADHI.JK), PT Waskita Karya (WSKT.JK), dan PT Wijaya Karya Beton (WTON.JK) karena koreksinya sudah cukup besar, rata-rata 5%. Jadi, strateginya seperti itu. Incar saham-saham itu saja karena recovery-nya sangat cepat.

Selain saham-saham bank dan konstruksi BUMN?

Jika indeks sudah pulih, selain konstruksi, pilih saham-saham properti yang pro-apartemen karena kebijakan Jokowi yang membolehkan investor asing memiliki hak milik apartemen. Pilihannya saham PT Agung Podomoro Land (APLN.JK). Hanya saja, emiten ini kena kasus tower miring. Harus dicermati juga.

Alternatif lainnya, emiten properti yang punya tower adalah PT Intiland Development (DILD.JK), PT Ciputra Property (CTRP.JK), dan PT Pakuwon Jati (PWON.JK).

Di era pemerintahan Jokowi, sektor-sektor yang diuntungkan pertama, konstruksi BUMN. Karena Jokowi memberikan porsi yang besar untuk infrastruktur. Lalu, sektor jasa migas seperti PT Elnusa (ELSA.JK) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS.JK) karena akan ada penataan kembali di sektor migas.

Lalu, saham-saham batu bara. Sebab, komoditas batu bara akan dimanfaatkan secara maksimal untuk energi listrik. Pilihannya, PT Tambang Batu Bara Bukit Asam (PTBA.JK). Jadi, saham-saham bank, konstruksi, properti proapartemen, dan jasa migas.

Sektor saham pendukungnya adalah semen. Pilihannya, PT Semen Indonesia (SMGR.JK) dan PT Semen Baturaja (SMBR.JK) dan besi-baja yakni PT Krakatau Steel (KRAS.JK). Lalu, sektor Crude Palm Oil (CPO). Pilihannya PT PP London Sumatera Indonesia (LSIP.JK) dan PT Salim Ivomas Pratama (SIMP.JK). Sebab, pemerintahan Jokowi punya penekanan pada biodiesel. [jin]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

Embed Widget

x