Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 28 Juni 2016 | 14:54 WIB
Hide Ads

David Sutyanto

BI Intervensi Rupiah, Beli Saham

Oleh : Ahmad Munjin | Selasa, 3 Desember 2013 | 03:00 WIB
BI Intervensi Rupiah, Beli Saham
(Foto: inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Jika BI mengintervensi pasar uang yang berujung pada penguatan rupiah, pemodal disarankan masuk ke bursa saham. Seperti apa?

David Sutyanto, analis riset First Asia Capital mengatakan hal itu kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Senin (2/12/2013), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 65,54 poin (1,54%) ke posisi 4.321,977. Intraday terendah 4.265,598 dan tertinggi 4.331,59.

Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan net sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Mengawali pekan IHSG menguat 1,54%. Bagaimana Anda melihat arahnya hingga akhir pekan ini?

Kenaikan IHSG Jumat (29/11/2013) dan Senin (2/12/2013) karena faktor window dressing. Penguatan Jumat pekan lalu sebenarnya kurang beralasan karena rupiah masih di level 12.000-an per dolar AS. Penguatan sih bukan tapi window dressing karena faktor akhir bulan. Window dressing sering terjadi di akhir bulan tidak mesti akhir tahun.

Pasar juga akhir pekan lalu berspekulasi dan sekarag merespons positif rilis data penting di dalam negeri pada Senin (2/12/2013) yakni inflasi dan neraca perdagangan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Lalu, BI sudah mengatakan akan mengintervensi rupiah. Jika rupiah bisa menguat kembali ke 11.500-an, IHSG memang bisa rebound sepekan ke depan.

Bagaimana penjelasannya secara teknikal?

Hanya saja, jika mengacu pada indikator teknikal, IHSG seharusnya masih berpotensi melemah. Sebab, level 4.200 belum tersentuh. Sebelum menguat, IHSG harus menyentuh level 4.200 terlebih dahulu. Jika sudah tersentuh, IHSG agak tenang untuk naik.

Karena itu, dalam sepekan ke depan, kemungkinan IHSG akan melemah terlebih dahulu untuk kemudian menguat. Sebab, jika BI mengintervensi pasar valas dan nilai tukar rupiah membaik, IHSG pun akan menguat.

Level support dan resistance sepekan ke depan?

Dalam sepekan ke depan, support IHSG di level 4.150 dan resistance 4.350. Lajunya berpeluang variatif tapi jika melihat optimisme pasar, indeks berpeluang mengarah ke resistance. Jadi, yang paling menentukan arah IHSG dalam sepekan ke depan masih sentimen dalam negeri. Sebab, dari eksternal sudah jelas data ekonomi AS membaik yang jadi sinyal tapering The Fed dan jadi sinyal negatif bagi IHSG.

Bagaimana dengan sikap investor asing?

Gelombang profit taking dari investor asing sudah mulai mereda. Tampak dari posisi selisih jual dan beli yang sangat tipis. Artinya, asing hampir tidak melakukan apapun dalam beberapa hari terakhir. Jika beli Rp50 miliar, aksi jualnya hanya Rp40 miliar.

Apa saran Anda untuk para pemodal?

Dalam kondisi seperti ini, saya sarankan pemodal lebih baik menunggu kepastian kondisi pasar. Jika BI mengintervensi pasar, bisa jadi momentum untuk masuk ke bursa saham untuk posisi jangka pendek. Sebab, target IHSG di akhir tahun masih tetap di 4.450. Kata kuncinya di nilai tukar rupiah dan neraca perdagangan.

Saham-saham pilihan Anda?

Untuk saham-saham pilihan, sektor Crude Palm Oil (CPO) masih oke. Sebab, CPO merupakan satu-satunya sektor jika dolar AS menguat, justru untung. Sebab, produknya dijual dalam dolar. Untuk dalam negeri memang pakai rupiah. Tapi, meski dijual dalam rupiah pun disesuaikan dengan harga dalam dolar AS-nya. Di situlah untungnya saham-saham CPO. Di sisi lain, cost-nya sektor CPO justru dalam rupiah.

Spesifik saham-saham pilihannya?

Pilihan saya, saham PT London Sumatera (LSIP.JK), PT Sampoerna Agro (SGRO.JK), dan PT Astra Agro Lestari (AALI.JK).

Lalu, seiring kenaikan tarif tol, PT Jasa Marga (JSMR.JK). Terakhir saham PT MNC Sky Vision (MSKY.JK).

Bagaimana strategi pada saham-saham tersebut?

Saya rekomendasikan speculative buy saham-saham tersebut. Sebab, kita baru akan masuk jika BI mengintervensi rupiah sehingga bersifat spekulatif.

1 Komentar

Image Komentar
SATRIA - Selasa, 3 Desember 2013 | 06:33 WIB
David sutyanto analis kacangan dan tidak punya pemahaman yang memadai tentang market

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

Embed Widget