Senin, 24 November 2014 | 16:04 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Purwoko Sartono
Pilih Saham yang Dibeli Asing
Headline
Purwoko Sartono - (Foto: inilah.com)
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Senin, 1 Juli 2013 | 03:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – Para pemodal di bursa saham disarankan untuk memilih saham yang dibeli investor asing. Lima saham masuk dalam kategori itu. Saham apa saja?

Purwoko Sartono, Research Analyst dari PT Panin Sekuritas menyodorkan saham CPIN, GGRM, PGAS, SMGR, dan BBRI. “Kelihatan, investor asing sudah mulai masuk lagi pada saham-saham tersebut. Jadi, pilih saham yang dibeli asing,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Jumat (28/6/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat 143,15 poin (3,06%) ke posisi 4.818,895. Intraday tertinggi mencapai 4.818,895 dan terendah 4.721,576.

Volume perdagangan naik dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp486,7 miliar dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell. Berikut ini wawancara lengkapnya:

IHSG menguat 3,06% akhir pekan lalu. Bagaimana Anda melihat arahnya Senin (1/7/2013)?

Mengawali pekan ini, kami proyeksikan IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat terbatas di tengah ancaman akan aksi ambil untung. Kisaran support-resistance 4.750-4.890 untuk Senin ini. Pergerakan IHSG di awal pekan akan menentukan arah berikutnya.

Mengapa laju indeks Senin ini sangat menentukan?

Sebab, awal pekan ini akan dirilis data inflasi dan data-data ekonomi penting lainnya. Jika angka inflasi jauh di atas ekspekstasi akan buruk sentimennya ke pasar. Inflasi memang sudah diprediksi tinggi pascakenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Secara historis, pascapenaikan harga BBM, pergerakan IHSG tidak stabil selama 2 bulan. Sebab, pasar masih akan menyesuaikan dengan seberapa besar potensi kenaikan BI rate pascalambungan inflasi. Nanti, setelah inflasi melandai, pasar baru kembali tenang.

Kalau begitu, bagaimana arah IHSG sepekan ke depan?

Dalam sepekan ke depan, faktor window dressing tak lagi jadi katalis positif bagi IHSG karena memang momentumnya sudah habis akhir pekan lalu, Jumat (28/6/2013). Karena itu, dalam sepekan ke depan, kans profit taking lebih besar.

Dalam sepekan ke depan, saya perkirakan IHSG akan cenderung mendatar (sideways) dengan pergerakan harian yang volatile. Sebab, setelah window dressing, IHSG belum punya katalis baru.

Level support dan resistance IHSG dalam sepekan ke depan?

Support indeks berada di level 4.650 dan resistance 5.000. Indeks berpeluang volatile dalam kisaran tersebut. Tapi, jika ditarik dari posisi penutupan Jumat (28/6/2013) ke Jumat (5/7/2013), IHSG cenderung sideways.

Bagaimana dengan sentimen regional?

Sentimen regional juga masih berpengaruh seperti dari krisis likuiditas di China dan perkembangan stimulus moneter The Fed. China mengalami suku bunga antar bank yang fluktuatif. Apalagi, kenaikan IHSG dalam tiga hari terakhir di pekan lalu juga lebih dipicu oleh faktor bargain hunting karena memang saham-saham sudah murah sehingga investor pun mulai masuk kembali ke bursa saham.

Tapi, untuk sepekan ke depan akan kembali lagi pasar melihat bagaimana sentiment dari regional. Karena itu, sebenarnya, kenaikan IHSG ke atas 4.800 ini belum terlalu menggembirakan. Sebab, news-nya belum terlalu kuat untuk menopang penguatan IHSG lanjutan.

Apa saran Anda untuk para pemodal?

Pasar tetap harus mencermati sentimen dari eksternal yang masih cukup kuat berpengaruh. Sebab, faktor internal hanya salah satu faktor saja yang menentukan pergerakan IHSG.

Bagaimana dengan investor asing yang sudah kembali berposisi beli bersih?

Memang aksi beli dari invetor asing dalam dua hari terakhir belum bisa dijadikan patokan untuk tren ke depannya. Jumat investor asing sempat masuk hingga Rp1,2 triliun setelah terus melakukan aksi jual bersih (net foreign sell). Sehari sebelumnya hanya Rp48,7 miliar. Artinya, net buy investor asing belum stabil.

Meski tidak bisa dijadikan patokan, aksi beli asing itu sudah menjadi sinyal positif. Artinya, asing sudah mengukur risiko di Bursa Efek Indonesia (BEI). Apalagi, untuk masuk, investor asing banyak pertimbangan. Asing sudah bisa mengukur risiko inflasi Indonesia pascakenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, potensi kenaikan BI rate, dan lain-lain.

Asing sudah bisa mempertimbangkan semua faktor risiko fundamental di Tanah Air. Investor asing biasanya bergerak lebih maju atau lebih awal dibandingkan pergerakan kurva pasar. Sementara itu, investor lokal masih berpola trading jangka pendek.

Saham-saham pilihan Anda?

Untuk sepekan ke depan, saya pilih saham PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), PT Gudang Garam (GGRM) , PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Semen Indonesia (SMGR), dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

Apa alasan Anda merekomendasikan lima saham tersebut dan bagaimana strateginya?

Kelihatan, investor asing sudah mulai masuk lagi pada saham-saham tersebut. Jadi, pilih saham yang dibeli asing. Meski investor asing yang masuk bursa saham masih sedikit, tapi paling tidak, itulah sektor saham yang disukai asing. Saya rekomendasikan trading jangka pendek saham-saham tersebut selama satu bulan ke depan. Jadi, trading harian, 1-2 hari dan begitu seterusnya selama satu bulan. [jin]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.