Kamis, 27 November 2014 | 22:49 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kredit BTPN Tumbuh 28%
Headline
PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk - (Foto: Istimewa)
Oleh:
pasarmodal - Rabu, 24 April 2013 | 09:25 WIB
Berita Terkait

INILAH.com, Jakarta– Konsistensi PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) untuk fokus menggarap pasar masyarakat berpenghasilan rendah serta usaha mikro & kecil (mass market) kian menampakkan hasil. Penyaluran kreditnya tumbuh 28% pada triwulan pertama 2013.

Melalui program pemberdayaan (Daya), triwulan I 2013, BTPN berhasil menjangkau 275.861 penerima manfaat atau naik 29% dibandingkan triwulan I 2012. Aktivitas Program Daya yang digelar selama triwulan I tahun ini naik 75%, yakni dari 8.645 aktivitas menjadi 15.106 aktivitas.

Daya merupakan program pemberdayaan yang terukur dan berkelanjutan, yang fokus pada kesehatan dan kesejahteraan, serta pelatihan praktis keterampilan wirausaha. Penerima manfaat Program Daya adalah nasabah BTPN yang meliputi pensiunan, pelaku usaha mikro & kecil (UMK), dan komunitas pra-sejahtera produktif.

Seiring inisiatif keuangan inklusif, BTPN berfokus mengembangkan bisnis yang dirancang khusus memenuhi kebutuhan perbankan segmen masyarakat berpenghasilan rendah serta usaha mikro & kecil. Segmen ini membutuhkan akses keuangan, pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas mereka.

“Kami meyakini, dengan memberikan pelatihan, BTPN turut mendukung usaha mereka agar dapat tumbuh berkelanjutan. Pada akhirnya ini menjadi kunci pertumbuhan kinerja BTPN,” tutur Jerry Ng, Direktur Utama BTPN.

Keyakinan itu tercermin dari penyaluran kredit BTPN per 31 Maret 2013 yang tumbuh Rp9 triliun (28% year-on-year/yoy) menjadi Rp41,1 triliun. Pada 31 Maret 2012, penyaluran kredit BTPN tercatat Rp32,1 triliun. Kenaikan signifikan pada sisi intermediasi ini tetap diimbangi dengan penerapan asas kehati-hatian. Per Maret 2013, kualitas aset produktif tetap terjaga dengan baik, yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) netto yang dapat dipertahankan di posisi 0,4%, sama dengan posisi Maret 2012.

Kepercayaan masyarakat kepada BTPN juga terus meningkat. Itu tercermin dengan naiknya dana pihak ketiga (DPK). Melalui BTPN Sinaya, per 31 Maret 2013 nilai simpanan masyarakat tumbuh 25% (yoy) dari Rp37,2 triliun per 31 Maret 2012 menjadi Rp46,6 triliun.

Didukung kinerja positif tersebut, aset BTPN turut mencatat pertumbuhan. Per 31 Maret 2013, total aset tumbuh 29% (yoy) dari Rp48,5 triliun per 31 Maret 2012 menjadi Rp62,7 triliun. Sementara laba bersih BTPN pada akhir maret 2013 mencapai Rp573 miliar, tumbuh 30% (yoy) dibandingkan periode yang sama di 2012 yang tercatat Rp439 miliar.

“Berlandaskan strategi bisnis yang memadukan misi bisnis dan misi sosial, dan tetap fokus pada segmen yang kami tekuni; serta dengan dukungan para stakeholders dan rasio kecukupan modal (CAR) solid sebesar 22,8% per 31 Maret 2013; ke depan kami optimistis memiliki ruang yang cukup untuk bertumbuh, sekaligus semakin banyak memberdayakan dan mengembangkan mass market di Indonesia,” ujar Jerry.

Saat ini BTPN telah melayani lebih dari 1,8 juta nasabah, melalui jaringan kantor yang telah beroperasi secara online realtime, yang tersebar dari Aceh hingga Papua.[dis]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.