Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 Mei 2015 | 11:48 WIB
Hide Ads

Sentimen Yuan Masih Mengangkat Rupiah

Oleh : Ahmad Munjin | Senin, 22 April 2013 | 06:00 WIB
Sentimen Yuan Masih Mengangkat Rupiah
(Foto : inilah.com/Wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (22/4/2013) diprediksi datar cenderung naik. Diperlebarnya fluktuasi masih jadi salah satu katalisnya.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, rupiah cenderung menguat karena pasar akan mengantisipasi kemungkinan pelebaran kisaran perdagangan nilai tukar yuan. Menurut dia, diperlebarnya fluktuasi yuan, sinyalnya sudah diberikan oleh Deputi Gubernur People's Bank of China (PBoC) Yi Gang.

Menurut Firman, Yi Gang mengatakan, rentang pergerakan nilai tukar yuan akan dinaikkan dalam waktu dekat dari level selama ini yang dipatok 1% baik naik maupun turun. "Karena itu, rupiah berpeluang sideways dengan kecenderungan menguat dalam kisaran terbatas 9.700 hingga 9.730 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM.

Lebih jauh Firman menegaskan, pernyataan itu mengisyaratkan rentang nilai tukar yuan China yang kemungkinan akan dinaikkan. "Sentimen tersebut menjadi tekanan negatif bagi dolar AS karena ekonomi China dinilai pasar lebih baik dibandingkan Amerikan Serikat," timpal dia.

Selain itu, lanjut dia, pasar berekspektasi bahwa aliran modal asing akan banyak mengalir ke China. "Lalu, bagusnya kinerja ekspor China juga akan mendorong penguatan nilai tukar yuan jika tidak diatur oleh bank sentral," tandas dia.

Namun demikian, rupiah berpeluang sidways karena awal pekan ini banyak agenda yang akan menjadi fokus pasar. Pelaku pasar mungkin akan melihat hasil pertemuan G20 pekan lalu dan pertemuan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia akhir pekan lalu. "Meskpun pernyataan Bank Dunia biasanya tidak begitu berpengaruh untuk pasar uang," timpal dia.

Dari G20, lanjut Firman, sudah diprediksi Jepang tidak akan mendapatkan kritik dari G20 terhadap kebijakan pelonggaran moneter yang agresif. "G20 hanya ingin mendorong pemangkasan utang ke level yang sustainable (berkelanjutan)," tuturnya.

Sementara itu, IMF menyerukan baik negara maju maupun negara berkembang untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dunia. "Karena itu, secara umum seharusnya sentimen cukup positif untuk rupiah," tuturnya.

Tapi, di sisi lain, pasar juga mencermati hasil voting Italia akhir pekan lalu sehingga sentimen pasar cukup variatif. "Pelaku pasar masih memperhatikan situasi di Parlemen Italia setelah Jumat malam pekan lalu merupakan voting parlemen terakhir, apakah parlemen bisa mencapai kata sepakat untuk menunjuk siapa presiden berikutnya atau tidak," papar dia.

Jika tidak, lanjut Firman, akan menegaskan kebuntuan situasi politik di Italia dan akan memperkuat kekhawatiran akan adanya pemulu ulang. "Karena itu, rupiah berpeluang sideways meksi ada kecenderungan menguat," imbuhnya.

Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS $ di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (19/4/2013) ditutup menguat tipis 5 poin (0,05%) ke posisi 9.710/9.715.

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.