Selasa, 23 Desember 2014 | 00:41 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sentimen Yuan Masih Mengangkat Rupiah
Headline
(Foto : inilah.com/Wirasatria)
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Senin, 22 April 2013 | 06:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (22/4/2013) diprediksi datar cenderung naik. Diperlebarnya fluktuasi masih jadi salah satu katalisnya.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, rupiah cenderung menguat karena pasar akan mengantisipasi kemungkinan pelebaran kisaran perdagangan nilai tukar yuan. Menurut dia, diperlebarnya fluktuasi yuan, sinyalnya sudah diberikan oleh Deputi Gubernur People's Bank of China (PBoC) Yi Gang.

Menurut Firman, Yi Gang mengatakan, rentang pergerakan nilai tukar yuan akan dinaikkan dalam waktu dekat dari level selama ini yang dipatok 1% baik naik maupun turun. "Karena itu, rupiah berpeluang sideways dengan kecenderungan menguat dalam kisaran terbatas 9.700 hingga 9.730 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Lebih jauh Firman menegaskan, pernyataan itu mengisyaratkan rentang nilai tukar yuan China yang kemungkinan akan dinaikkan. "Sentimen tersebut menjadi tekanan negatif bagi dolar AS karena ekonomi China dinilai pasar lebih baik dibandingkan Amerikan Serikat," timpal dia.

Selain itu, lanjut dia, pasar berekspektasi bahwa aliran modal asing akan banyak mengalir ke China. "Lalu, bagusnya kinerja ekspor China juga akan mendorong penguatan nilai tukar yuan jika tidak diatur oleh bank sentral," tandas dia.

Namun demikian, rupiah berpeluang sidways karena awal pekan ini banyak agenda yang akan menjadi fokus pasar. Pelaku pasar mungkin akan melihat hasil pertemuan G20 pekan lalu dan pertemuan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia akhir pekan lalu. "Meskpun pernyataan Bank Dunia biasanya tidak begitu berpengaruh untuk pasar uang," timpal dia.

Dari G20, lanjut Firman, sudah diprediksi Jepang tidak akan mendapatkan kritik dari G20 terhadap kebijakan pelonggaran moneter yang agresif. "G20 hanya ingin mendorong pemangkasan utang ke level yang sustainable (berkelanjutan)," tuturnya.

Sementara itu, IMF menyerukan baik negara maju maupun negara berkembang untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dunia. "Karena itu, secara umum seharusnya sentimen cukup positif untuk rupiah," tuturnya.

Tapi, di sisi lain, pasar juga mencermati hasil voting Italia akhir pekan lalu sehingga sentimen pasar cukup variatif. "Pelaku pasar masih memperhatikan situasi di Parlemen Italia setelah Jumat malam pekan lalu merupakan voting parlemen terakhir, apakah parlemen bisa mencapai kata sepakat untuk menunjuk siapa presiden berikutnya atau tidak," papar dia.

Jika tidak, lanjut Firman, akan menegaskan kebuntuan situasi politik di Italia dan akan memperkuat kekhawatiran akan adanya pemulu ulang. "Karena itu, rupiah berpeluang sideways meksi ada kecenderungan menguat," imbuhnya.

Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (19/4/2013) ditutup menguat tipis 5 poin (0,05%) ke posisi 9.710/9.715.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.