Jumat, 22 Agustus 2014 | 02:58 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Faktor AS dan China Dominasi Sentimen Pasar
Headline
(Foto : inilah.com)
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Jumat, 19 April 2013 | 20:42 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – IHSG melemah tapi rupiah justru menguat. Sentimen berkurangnya kecemasan penarikan stimulus AS dan diperlebarnya ruang gerak yuan China warnai lajunya.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah akhir pekan salah satunya dipicu oleh sentimen di sesi Asia yang cukup positif. Beredar laporan bahwa China mungkin akan memperlebar rentang perdagangan yuan.

Kondisi itu, lanjut dia, cukup menekan dolar AS di sesi Asia. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terkuatnya 9.700 setelah menyentuh level terlemah 9.725 dari posisi pembukaan 9.710 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (19/4/2013).

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (19/4/2013) ditutup menguat tipis 5 poin (0,05%) ke posisi 9.710/9.715 dari posisi kemarin 9.715/9.720.

Lebih jauh dia menjelaskan, China menerapkan sitem nilai tukar mengambang terkendali dalam kisaran 1%. "Kalau diperlebar, ruang gerak yuan akan lebih besar dari 1%," ujarnya.

Jika dikontraskan antara ekonomi China dengan ekonomi AS, lanjut dia, kondisi ekonomi China tentu lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi AS. "Karena itu, dengan kabar tersebut, yuan diekspektasikan akan semakin menguat terhadap dolar AS. Akibatnya, dolar AS di sesi Asia melemah," tuturnya.

Selain itu, penguatan rupiah juga mendapat dukungan dari data-data ekonomi AS yang dirilis semalam cukup buruk sehingga mengurangi performa dolar AS. "Dengan data yang cukup buruk tentunya akan mengurangi kekhawatiran penarikan stimulus dari Bank Sentral AS The Fed yang lebih cepat," timpal dia.

Klaim pengangguran AS dirilis naik dari 348 ribu menjadi 352 ribu. Sementara itu, indeks manufaktur Philadelphia turun dari 2 menjadi 1,3.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke 82,43 dari sebelumnya 82,56. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,3088 dari sebelumnya US$1,3048 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Andrew Argado, analis eTrading Securities menilai biasa saja penurunan IHSG ke bawah 5.000 akhir pekan ini. “Sebab, dilihat dari sentimen regional pun biasa-biasa saja dan tidak ada yang perlu dicemaskan oleh para pelaku pasar,” kata dia.

Pada perdagangan Jumat (19/4/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 14,18 poin (0,28%) ke posisi 4.998.461. Intraday terendah 4.985,967 dan tertinggi 5.023,707.

Apalagi, dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang kemarin ditutup pada teritori negatif. Kemarin dan hari ini, IHSG sempat tembus level psikologis 5.000. “Karena itu, profit taking yang dilakukan oleh pelaku saat ini cukup beralasan,” ujarnya. “Saya tidak melihat faktor lain yang memicu penurunan IHSG akhir pekan ini selain semata faktor profit taking.”

Senada dengan Andrew, pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, pada indeks saham Asia, hanya Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bursa saham Singapura yang tutup di zona merah. Karena itu, koreksi ini tak perlu dikhawatirkan. “Sudah banyak fakta, bahwa IHSG-STI mempunyai tingkat konsistensi korelasi yang cukup baik,” tandas dia.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.