Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 28 Desember 2014 | 23:34 WIB
Hide Ads

Faktor AS dan China Dominasi Sentimen Pasar

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 19 April 2013 | 20:42 WIB
Faktor AS dan China Dominasi Sentimen Pasar
(Foto : inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta IHSG melemah tapi rupiah justru menguat. Sentimen berkurangnya kecemasan penarikan stimulus AS dan diperlebarnya ruang gerak yuan China warnai lajunya.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah akhir pekan salah satunya dipicu oleh sentimen di sesi Asia yang cukup positif. Beredar laporan bahwa China mungkin akan memperlebar rentang perdagangan yuan.

Kondisi itu, lanjut dia, cukup menekan dolar AS di sesi Asia. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terkuatnya 9.700 setelah menyentuh level terlemah 9.725 dari posisi pembukaan 9.710 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (19/4/2013).

Kurs rupiah $ terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (19/4/2013) ditutup menguat tipis 5 poin (0,05%) ke posisi 9.710/9.715 dari posisi kemarin 9.715/9.720.

Lebih jauh dia menjelaskan, China menerapkan sitem nilai tukar mengambang terkendali dalam kisaran 1%. "Kalau diperlebar, ruang gerak yuan akan lebih besar dari 1%," ujarnya.

Jika dikontraskan antara ekonomi China dengan ekonomi AS, lanjut dia, kondisi ekonomi China tentu lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi AS. "Karena itu, dengan kabar tersebut, yuan diekspektasikan akan semakin menguat terhadap dolar AS. Akibatnya, dolar AS di sesi Asia melemah," tuturnya.

Selain itu, penguatan rupiah juga mendapat dukungan dari data-data ekonomi AS yang dirilis semalam cukup buruk sehingga mengurangi performa dolar AS. "Dengan data yang cukup buruk tentunya akan mengurangi kekhawatiran penarikan stimulus dari Bank Sentral AS The Fed yang lebih cepat," timpal dia.

Klaim pengangguran AS dirilis naik dari 348 ribu menjadi 352 ribu. Sementara itu, indeks manufaktur Philadelphia turun dari 2 menjadi 1,3.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke 82,43 dari sebelumnya 82,56. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,3088 dari sebelumnya US$1,3048 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Andrew Argado, analis eTrading Securities menilai biasa saja penurunan IHSG ke bawah 5.000 akhir pekan ini. "Sebab, dilihat dari sentimen regional pun biasa-biasa saja dan tidak ada yang perlu dicemaskan oleh para pelaku pasar," kata dia.

Pada perdagangan Jumat (19/4/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup melemah 14,18 poin (0,28%) ke posisi 4.998.461. Intraday terendah 4.985,967 dan tertinggi 5.023,707.

Apalagi, dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang kemarin ditutup pada teritori negatif. Kemarin dan hari ini, IHSG sempat tembus level psikologis 5.000. "Karena itu, profit taking yang dilakukan oleh pelaku saat ini cukup beralasan," ujarnya. "Saya tidak melihat faktor lain yang memicu penurunan IHSG akhir pekan ini selain semata faktor profit taking."

Senada dengan Andrew, pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, pada indeks saham Asia, hanya Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bursa saham Singapura yang tutup di zona merah. Karena itu, koreksi ini tak perlu dikhawatirkan. "Sudah banyak fakta, bahwa IHSG-STI mempunyai tingkat konsistensi korelasi yang cukup baik," tandas dia.

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.