Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 31 Januari 2015 | 07:44 WIB
Hide Ads

Inilah Dampak Kenaikan Harga BBM ke Pasar Modal

Oleh : Agustina Melani | Rabu, 17 April 2013 | 16:44 WIB
Inilah Dampak Kenaikan Harga BBM ke Pasar Modal
(inilah.com/wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta - Rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi bagi kendaraan pribadi menjadi Rp6.500 akan memberikan dampak jangka pendek ke pasar modal Indonesia.

Analis PT First Asia Capital, David Sutyanto mengatakan, pasar modal akan terkena efek domino dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Hal itu karena berpotensi menaikkan inflasi dan beban perusahaan. Namun, indeks harga saham gabungan (IHSG) akan kembali positif dalam jangka panjang ditopang dari makro ekonomi yang baik.

"APBN kita akan lebih sehat jika tanpa subsidi. Jika pemerintah dapat menjaga inflasi masih dalam kendali maka efek negatif tidak akan dirasakan," tutur David, saat dihubungi INILAH.COM, Rabu (17/4/2013).

Sementara itu, Analis PT AM Capital Vivit Prapita menuturkan, kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut memberikan kekhawatiran efek psikologis bila dilakukan bersama dengan kenaikan tarif listrik. Kenaikan BBM bersubsidi bagi kendaraan pribadi dan tarif listrik akan meningkatkan beban biaya yang dapat mengakibatkan inflasi. Memang Vivit mengakui, kenaikan harga BBM bersubsidi itu harus segera dilakukan dengan catatan dibarengi dengan sarana transportasi umum dan infrastruktur yang layak.

Dengan rencana kenaikan BBM bersubsidi tersebut, Vivit melihat, hal itu dapat memberikan sentimen positif untuk emiten kendaraan bermotor seperti PT Astra International Tbk dan PT Indomobil Tbk (IMAS), serta emiten transportasi lainnyan.

"Emiten seperti TAXI, dan emiten kendaran bermotor akan diuntungkan karena ada kemungkinan orang beralih membeli kendaraan roda dua, tapi tidak berarti permintaan akan kendaran roda empat langsung turun drastis," kata Vivit.

Menurut Vivit, kenaikan harga BBM bersubsidi bagi kendaraan pribadi berpotensi menurunkan pembelian mobil tetapi hanya berlangsung singkat. Sementara itu, permintaan kendaraan roda dua akan cenderung naik secara signifikan.

Sedangkan David menilai, kenaikan harga BBM bersubsidi akan berpengaruh terhadap sektor perdagangan dan konsumsi. Hal itu mengingat sektor perdagangan (industri kecil) dan pedagang eceran konsumsi banyak menggunakan kendaraan pelat hitam untuk distribusi barangnya. "Seperti contoh perusahaan rokok yang untuk distribusi ke beberapa tempat menggunakan minibus," kata David.

David mengharapkan, pelaku pasar tidak perlu panik dengan kenaikan harga BBM bersubsidi. Dampak kenaikan harga BBM bersubsidi di pasar modal hanya sementara dan tidak berpengaruh secara langsung ke kinerja saham.

Berita Terkait Lainnya

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

86158

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.